ORANG tua-tua Melayu sejak dulu sudah berpesan: hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Pilih yang mana? Kita disuruh memilih tetap berada di kampung sendiri. Apa pasal, Wak?
Soalnya petuah itu bukan sekadar pantun pengisi pidato kenduri. Itu sebenarnya pengingat bahwa negeri ini bertuan, tanah ini bertapak, bermartabat, dan manusia di atasnya ada harga dirinya.
Maknanya jelas, Wak. Walau hidup sederhana di tanah sendiri, biarlah kita berdiri tegak. Kalau pun negeri ini retak, jangan sampai orang lain yang merobohkannya, biarlah kita sendiri yang memperbaiki, atau kita sendiri yang merobohkannya.
Negeri itu ibarat tali pusat. Di sanalah kita pertama kali menangis, di sanalah pula kelak biasanya kita ingin pulang. Sebab seberapa jauh pun orang merantau, hati ini tetap tahu jalan pulang. Itulah adat orang Melayu.
Tapi sekarang, Wak, ceritanya kadang lain pula. Begitu terkena “hujan emas” di negeri orang, alih-alih lupa daratan. Tanah ulayat yang sejengkal pun hendak dilibas. Padahal di atas tanah ulayat itu ada saudara mara, anak kemanakan, semuanya ibarat air dicincang tak putus, tapi malu entah di mana dia titipkan, tetap digasak. Tali pusat tadi macam sudah dipotong dua kali.
Padahal dulu orang kampung sampai terpekik terlolong mempertahankan tanah sejengkal, sempat pula mengasah parang bangkung. Orang tua rela berlapar, asal tanah pusaka jangan sampai berpindah tangan. Sekarang, jangankan terpekik, kadang suara ayam saja lebih keras dari suara mempertahankan tanah.
Celakanya lagi, Wak. Orang lain pula yang dipindahkan ke tanah ulayat. Bukan dihukum karena merambah hutan, malah dikasi lahan, lengkap dengan rumah beratap seng.
Orang kampung sendiri? Jangan kata hendak membuat rumah. Tanah sejengkal pun kadang tak punya. Untung ada tanah ulayat itu, kalau tidak, memang nasib badanlah jawabnya.
Inilah bahaya emas, Wak. Secara falsafah, emas memang barang aneh. Di satu sisi dia lambang kemurnian, berkilau, berkinyau, tahan karat, tak lapuk dek hujan tak lekang dek panas. Tapi di sisi lain, emas juga ujian paling berat bagi ego manusia.
Kilau emas itu selalu membuat orang merasa dirinya juga berkilau. Padahal yang bercahaya cuma dompetnya, bukan akalnya. Begitu emas dijadikan ukuran harga diri, mulailah orang menimbang manusia pakai timbangan emas. Kalau emasnya hilang, harga dirinya ikut hilang.
Padahal orang Melayu dulu menimbang manusia dengan budi, bukan dengan logam.
Masalahnya lagi, Wak, kalau lapar kita tahu batas kenyang, tapi kalau kebulur emas tak ada batasnya. Makin dimakan makin lapar: sudah satu peti, mau dua. Sudah dua peti, mau satu gudang.
Sejarah pun lama mengingatkan. Kisah King Midas,.di kampung Salah pemain bola kaki tu, apa yang disentuhnya jadi emas. Awalnya senang, akhirnya sengsara. Makan jadi emas, air jadi emas, bahkan anaknya pun hampir jadi patung emas.
Di situlah dia baru sadar, emas boleh banyak, tapi kalau hidup tak ada manusia, tak ada kasih sayang, tak ada nilai, itu bukan kekayaan tapi itu namanya kutukan.
Sebenarnya emas tak pernah mengubah orang, Wak. Emas cuma membuka siapa sebenarnya orang itu. Kalau hatinya tamak, tamaknya makin terang. Kalau hatinya kuat, emas pun tak bisa menggoyahkan.
Sebab itu pula dalam sejarah dunia tak ada yang disebut zaman emas. Yang ada cuma zaman batu. Rupanya manusia memang lebih lama hidup dengan batu daripada dengan emas. Asal mike tahu saja,
orang Melayu lama sudah memahami itu. Dalam tunjuk ajar Melayu disebutkan: apa tanda Melayu jati, tahu lah ia akan diri.
Boleh saja orang Melayu merantau jauh, sukses di negeri orang, rumahnya bertingkat, mobilnya berderet, jabatannya menteri. Tapi kalau dia masih ingat tanah asalnya, tahu hutan ulayat, masih memegang adat, dan tahu diri, itulah Melayu yang sebenar-benarnya.
Kalau tidak, Wak…!?
Itu bukan hujan emas lagi namanya. Tapi itu sudah masuk hujan lupa diri.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








