DI sudut teras masjid, menjelang salat tarawih, seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun duduk sendirian. Tubuhnya kurus, kulitnya hitam melegam terbakar matahari.
Ia menatap kosong ke arah semak belukar yang gelap mengkakap di ujung halaman masjid. Lampu masjid yang redup memantul di kaca jendela. Dari sana tampak wajah bocah itu sendu, seperti memikul beban yang terlalu berat untuk usianya.
Bola matanya berair bibirnya gemetar.
Sesekali ia menggigit ujung kuku jari tengah tangan kanannya, seperti berusaha menahan sesuatu yang ingin tumpah dari dadanya.
Aku mengenali bocah berambut keriting itu. Kami tinggal di satu komplek perumahan. Hanya saja aku tak pernah benar-benar tahu namanya.
Ayahnya kerja serabutan, ibunya di rumah saja. Setahuku mereka tiga bersaudara. Sudah belasan tahun tinggal di rumah kontrakan kecil di ujung komplek. Bahkan jauh sebelum aku pindah ke lingkungan itu. Kami tak akrab, hanya sekadar tahu wajah, karena tinggal di tempat yang sama.
Malam itu adalah malam tujuh likur. Malam yang biasanya penuh kegembiraan. Anak-anak seusianya berlarian di halaman masjid. Ada yang menyalakan kembang api, ada yang meledakkan mercun, ada juga yang bermain senter laser yang menari-nari di dinding masjid.
Tawa mereka pecah di udara malam Ramadan. Namun bocah itu tetap duduk di sudut teras. Tak sedikit pun tertarik bergabung.
Aku mendekatinya perlahan dan duduk di sampingnya. “Ada apa, Nak?” tanyaku pelan.
Ia menunduk lama. Sangat lama. Ketika akhirnya ia bercakap dengan suara berat dan serak. Ia ingin membeli kembang api, juga ingin punya senter laser seperti teman-temannya. Tapi ia tak punya uang.
Kalau hanya kembang api, aku sebenarnya bisa saja membelikannya.
Namun kata-kata berikutnya membuat dadaku seperti ditimpa batu. Dengan mata yang benar-benar mulai basah ia berkata: “Om, saya lebih susah dari anak yatim.”
Aku terdiam.
“Anak yatim bisa beli kembang api,” katanya lirih.
“Bisa beli laser dan sudah punya baju baru.”
Ia menelan ludah, menahan sesuatu yang terasa berat.
“Banyak orang peduli sama mereka,” katanya lagi sambil menyeka air mata.
Ia lalu menatap ke halaman masjid. Anak-anak masih tertawa, kembang api memercik cahaya di langit malam. Suaranya makin pelan.
“Kalau saya, saya punya orangtua tapi tak bisa beli kembang api, tak bisa beli baju baru,” katanya sambil menunduk.
Aku mencoba menenangkannya.
“Nak, kamu sebenarnya sangat beruntung. Kamu masih punya ayah dan ibu yang sayang sama kamu. Itu lebih berharga dari apapun.”
Aku mencoba tersenyum, walau hatiku terasa berat. “Sabar ya, mungkin sebentar lagi orangtua kamu ada rezeki. Nanti bisa beli baju baru.”
Bocah itu menoleh kepadaku. Tatapannya tajam, seperti menyimpan luka yang terlalu lama dipendam. Lalu ia bertanya pelan.
Namun pertanyaan itu terasa seperti menghantam langsung ke dadaku. “Jadi, saya harus menunggu jadi anak yatim dulu baru bisa beli kembang api dan baju baru?,” kata bocah itu.
Aku seakan membeku. Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Entah kenapa mataku panas. Aku tak kuat lagi menahannya.
Aku menarik bocah itu ke dalam pelukanku.
Tubuh kecilnya terasa ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Dan di bahuku, akhirnya ia menangis.
Tangis yang sejak tadi ia tahan. Tangis yang pecah begitu saja di dadaku. Aku juga menangis. Di teras masjid itu.
Di malam tujuh likur yang seharusnya penuh kebahagiaan. Aku menangis memeluk anak yang bahkan tak aku ketahui namanya.
Di kepalaku tiba-tiba teringat satu kejadian setahun lalu. Aku pernah datang ke rumah orang tuanya. Aku ingin membantu sedikit.
Namun ayahnya menolak dengan halus.
Dengan wajah penuh harga diri ia berkata,
“Masih banyak anak yatim yang lebih perlu diperhatikan,” katanya sambil tersenyum kecil.
“Insya Allah saya masih mampu,” sambung orangtua bocah itu.
Malam itu, di pelukanku anak kecil itu masih terisak. Untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti, betapa beratnya menjadi anak dari orangtua yang menjaga harga diri, menjagaga adat,
sementara dunia di sekelilingnya tak pernah benar-benar melihat mereka.
Di kejauhan kembang api masih meledak. Anak-anak masih tertawa. Tapi di sudut teras masjid itu, dua orang manusia
diam-diam menangis dalam pelukan Ramadan.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








