ADOI Wak!? Semakin hari semakin petah kita ini berpantun dalam angka. Konon, daerah sedang defisit, sedang efisiensi, duit tinggal secolet macam sambal belacan di ujung piring. Tapi entah hantu belau apa yang merasuk, alih-alih di APBD Riau 2026 telengau angka Rp 112 miliar untuk instansi vertikal. Banyak cantik!?
Ini angka bukan kecil, Wak, ini kalau dibuat lemang satu kampung bisa kenyang sampai hari raya ketiga. Orang kampungpun mulai heran. Semalam dengar ceramah “hemat-hemat” pagi ini keluar berita “bagi-bagi.” Ini macam orang diet, tapi sembunyi-sembunyi makan rendang di balik katil.
Kalau ditengok memang nampak elok. Pemerintah Riau ringan tangan, pemurah, tak sampai hati, pengiba tengok orang lain susah. Tapi Wak, dalam adat Melayu, pemurah itu bukan berarti hilang arah. Ada aturan mainnya, bukan main atur saja. Apalagi bantuan itu ada udang di balik bakwan. Kalau sudah macam gini, meleset nampaknya.
Sebab, jika pemurah tak pakai akal, Wak, jadilah dia bahan cerita. Orang kampung bukan tak tahu menilai, cuma kadang diam, sambil tersenging di kedai kopi. Soalnya: budak-budak SD saja tahu kemana duit nak dibelanjakan.
Coba kita tengok pelan-pelan kondisi Risau (maksudnya Riau). Jalan masih banyak yang goyang macam joget dangkung, sekolah ada yang atapnya bocor macam saringan santan, orang sakit masih berjele-jele tersusun. Eeh, tiba-tiba duit ratusan miliar melayang pada bukan prioritas utama. Ini bukan lagi cerita baik hati, ini sudah masuk bab “terlebih baik hati sampai lupa diri.”
Bukan tak boleh bantu, Wak. Tolong-menolong itu darah daging orang Melayu. Tapi jangan sampai tangan panjang ke luar, kaki sendiri tersampuk di dalam rumah. Instansi vertikal itu urusan pusat. Kalau daerah sampai nunggak besar-besaran, jadinya macam kita yang sibuk bayarkan utang tetangga, padahal beras di dapur sendiri tinggal segenggam.
Orang tua-tua dulu sudah pesan, bukan main-main pesannya. Ini bukan sekadar hiasan pidato, ini pedoman hidup:
“Anak dipangku dilepaskan, beruk di rimba disusui.”
Maknanya, yang dekat dan jadi tanggung jawab sendiri, dibiarkan. Yang jauh dan bukan keutamaan, dipelihara sungguh-sungguh. Ini bukan sindiran biasa, Wak, ini sindiran kelas berat.
Kalau sudah begitu, orang kampungpun mulai berteka-teki. Ini yang salah rakyatnya terlalu sabar, atau yang pegang amanah terlalu santai?
Kadang lucu juga. Rakyat disuruh hemat, lampu dimatikan, AC dikurangi, proyek dipangkas. Tapi di sisi lain, duit besar bisa jalan-jalan keluar tanpa banyak tanya. Ini macam kita disuruh puasa, tapi dapur sebelah masak gulai kambing tiap hari.
Kalau tak hati-hati, kebijakan macam ini bisa jadi cerita jenaka tahunan. Bukan lagi dihormati, tapi ditertawakan pelan-pelan.
Padahal sederhana saja, Wak. Dahulukan yang wajib, baru yang sunat. Urus rumah sendiri dulu, baru bantu tetangga. Itu pun kalau periuk sudah berasap. Sebab kalau rakyat masih banyak mengeluh, tapi pemerintah sibuk membantu yang bukan tanggung jawabnya, itu bukan lagi dermawan, itu sudah masuk kes berat. Berat bahu memikul, berat lagi mate memandang, Wak.
Akhirnya, yang jadi korban bukan angka, tapi kepercayaan. Dan kalau kepercayaan sudah retak, menampalnya tak cukup pakai janji.
Jadi Wak, kalau hendak baik hati, jangan sampai baik itu jadi bahan ketawa. Ingat pesan orang tua: jangan sampai beruk kenyang di rimba, anak sendiri kurus kering di pangkuan. Kalau itu terjadi, bukan saja lucu tapi buat malu saja.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








