Menu

Mode Gelap
Masyarakat Adat Rantau Sakai Mengadu ke LAMR, Berharap Keadilan atas Lahan Ulayat PNBP Tembus Rp10,4 Triliun, Imigrasi Era Yuldi Yusman Catat Rekor dan Perketat Pengawasan WNA Dikejar Hingga ke Papua, Polisi Meranti Ringkus Tersangka Pencabulan Milad ke-60 BRK Syariah, Mantan Direksi Tekankan Penguatan SDI dan Teknologi Kapolda Riau Pantau Upaya Pemadaman Karhutla di Dumai, Pastikan Kesiapan Peralatan dan Sinergitas Pemkab Bengkalis Taja Ramah Tamah Bersama Kajati Riau

Minda

Kojo tak Kojo

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

ADOI Wak, zaman kenen memang bersepah istilah baru. Dulu orang kampung kita cakap kojo tak kojo, sekarang orang kota cakap Work From Home. Bunyinya sedap betul, padahal kalau dikeruk kulitnya, isinya tetap sama: antara kerja dengan tidak kerja, cuma bungkusnya saja yang pakai bahasa Inggris biar nampak mahal agaknya tu?

Di kampung kita, Wak, dari dulu sudah ada konsep itu. Pagi turun ke laut, petang duduk di kedai kopi. Itupun sudah hybrid working namanya, cuma tak masuk seminar saja. Bedanya, orang dulu kalau tak kojo, tahu diri, duit pun tak masuk. Sekarang ini, ada pula harapan tak kojo tapi rezeki tetap jalan. Macam padi tak ditanam, tapi berharap panen. Sakti betul zaman sekarang yo..!?

Katanya pula kebijakan ini untuk efisiensi energi, hemat BBM, sebab dunia sedang kecuh. Baguslah niat itu, Wak. Dalam adat Melayu pun ada pesan: berhemat sebelum habis, beringat sebelum kena. Tapi persoalannya, cara berhemat itu jangan sampai jadi bahan gelak budak-budak di simpang pokah.

Sebab apa, Wak? Hari kerja disuruh duduk rumah, tapi hari libur, habis satu kampung merayau. Dari warung A ke warung B, dari rumah saudara ke rumah ipar, minyak habis lebih banyak dari hari biasa. Ini bukan lagi hemat, ini namanya pindah boros ke hari lain.

Orang kampung kita pula, kalau di rumah bukan diam saja. Kompor menyala dari pagi sampai petang. Gulai, sambal, goreng pisang, entah apa-apa lagi. Teringat pula pesan yang viral itu: “matikan kompor kalau sudah siap masak.” Betul memang, tapi Wak… kalau dari pagi sampai petang tak siap-siap masak, komporpun jadi macam pelita tak padam. Apalagi masak sambil nonton Dracin dan Drakor, mau tiga tabung gas melon punah dibuatnya. Hee…

Dalam adat kita, Wak, ada istilah tahu diri, tahu tempat. Kalau bekerja, buat sungguh-sungguh. Kalau istiraha, jangan pula menyusahkan orang lain. Tapi sistem WFH ini kadang jadi lain jadinya, yang kerja nampak tak kerja, yang tak kerja pandai pula nampak sibuk. Kamera hidup, badan entah ke mana.

Orang tua-tua kita dulu berpesan: biar penat badan, jangan penat akal. Sekarang ini terbalik, Wak. Badan rebah di rumah, tapi akal pening sebab kerja tak siap, bos pun tak nampak, KPI entah ke mana. Ujung-ujungnya, yang jadi mangsa bukan listrik, tapi logika.

Maka tak salah kalau orang kampung cakap kebijakan ini macam membuang garam ke laut. Tak terasa asin, tak nampak hasil. Yang terasa cuma lidah yang makin terjelei, ini sebenarnya kerja atau cuti terselubung.

Kalau ikut logika lama kita, Wak, sistem kojo tak kojo itu lebih jujur. Kojo dapat seribu, tak kojo dapat limaratus. Ada adilnya, ada timbang rasanya. Kalau nak lebih, orang selalu cakap pilih kojo tak kojo dapat 1.500.

Tapi kalau WFH, kerja di rumah tapi pendapatan tetap, kadang malah dipotong, itu yang bikin hati makin tak tentu arah. Sudahlah tak ke kantor, duit pula tak penuh sampai: TPP kene potong. Alamat bini meradang sampai bersayap kuali jadinya.

Akhir kata, Wak, adat Melayu itu sederhana saja: yang lurus jangan dibengkokkan, yang jelas jangan dikaburkan. Kalau mau hemat, buat cara yang pas dengan tabiat orang sekampung. Jangan sampai niatnya baik, tapi pelaksanaannya jadi bahan cerita di kedai kopi.

Kalau begini ceritanya, mungkin orang kampung akan tetap setia pada falsafah lama: Kojo biar sungguh, tak kojo jangan mengaku sibuk. Kalau tidak, nanti dunia ini penuh orang “online”, tapi kerja entah ke mana.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Masyarakat Adat Rantau Sakai Mengadu ke LAMR, Berharap Keadilan atas Lahan Ulayat

2 April 2026 - 17:23 WIB

Milad ke-60 BRK Syariah, Mantan Direksi Tekankan Penguatan SDI dan Teknologi

2 April 2026 - 10:43 WIB

Pemprov Riau Apresiasi Kinerja BRK Syariah di Usia ke-60, Tekankan Transformasi Digital dan Penguatan Tata Kelola

1 April 2026 - 17:48 WIB

Pemimpin Divisi di Garda Depan, HUT ke-60 BRK Syariah Berlangsung Khidmat, Penuh Haru dan Kebanggaan

1 April 2026 - 13:11 WIB

Terima SK Baru dari DPP, IPK Riau Semakin Solid di Grand Elite

1 April 2026 - 12:14 WIB

Trending di Pekanbaru