EWAH, ewaaah…! Sekarang ini orang sibuk cakap pasal teknologi, kecerdasan buatan AI, sampai lupa satu ilmu lama orang Melayu: ilmu menjaga mulut. Padahal, dari dulu lagi orang tua-tua sudah pesan, jangan dibuat main-main benda yang satu ini. Sebab, mulut itu bukan sekadar alat makan asam pedas lomik dan menangkop gobak tapi juga pintu masuk bala kalau tak pandai dijaga. Seperti kata gurindam 12, pasal 5, jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.
Alkisah, muncullah satu istilah lama yang kini makin jarang kedengaran: Jones. Bunyinya macam nama orang Inggeris, tapi isinya pekat bau laut Selat Malaka. Di pesisir Riau, Jones ini bukan sembarang kata. Ia ibarat tanda alam– semiotik kata orang pandai-pandai–yang membawa firasat, bukan sekadar gurauan kedai kopi.
Kata orang tua, orang Jones itu ada tandanya. Tengah bibir bawahnya ada tahi lalat. Tapi jangan pula Wak pergi ronda kampung tengok bibir orang satu-satu, bangsai dibuat. Soalnya, nanti bukan ilmu yang didapat, tapi jari lima pula singgah di pipi. Yang penting bukan tandanya, tapi perangainya: cakapnya selalu “mendahului kejadian.”
Kalau cabuh, lain ceritanya. Dia spontan macam terkejut tengok harga lade naik. Tapi Jones ini lebih halus, dia macam bom jangka, cakapnya pelan, tapi efeknya bisa buat orang lain tepuk dahi sambil bilang, “Nah, kan jadi betul…”
Dulu, orang Melayu kalau belayar, pantang betol cakap sembarangan. Tengah laut nampak batang kayu hanyut saja pun sudah jadi ujian iman. Si Jones ini pula ringan mulut, “Biasanya dekat kayu itu ada jin balang, hantu laut…” Adoi, Wak! Ini sama saja mengundang yang tak diundang.
Orang tua tak ajar macam itu. Mereka pakai bahasa kiasan. Kalau pun nak sebut, cukup bilang, “Biasanya di situ ada beliau…” Halus, beradat, tak menyengat telinga alam. Sebab orang Melayu ini bukan takut, tapi tahu adab dengan yang tak nampak.
Sebab itu keluar petuah keramat: “Mulutmu harimau mu.” Ini bukan sekadar hiasan di dinding kedai kopi. Ini maklumat keras. Harimau itu kalau dilepas, bukan main lagi dia menerkam. Begitulah mulut, sekali terlepas, bisa menerkam tuannya sendiri.
Kalau salah makan, paling kuat sakit perut. Tapi kalau salah cakap, Wak… itu bisa sakit satu kampung. Kadang bukan saja kena sule dengan lada hidup, bisa pula kena pulau sosial, orang tak ajak kenduri, tak dipanggil rapat, duduk sorang diri macam tali bas putus.
Lucunya sekarang, Jones ini sudah naik pangkat. Dulu dia pantang larang, sekarang jadi alasan pembelaan. Orang bercakap melantur, lepas itu bila disanggah, dia cakap, “Itu kan cuma narasi…” Eh, narasi pedah!
Kalau cakap sudah ke mana-mana, jangan salahkan orang kalau tersesat jalan. Contoh paling sedap: orang ribut bilang, “Kenapa narasi jumpa pers tak sama dengan dakwaan?”
Lah, memang tak sama, Wak. Jumpa pers itu macam pembuka selera, dakwaan itu lauk utama. Kalau dikau makan sambal saja, lepas itu marah nasi tak kenyang, itu bukan salah nasi, itu salah dikau yang Jones.
Orang bijak tak akan melompat jauh dari pokok persoalan. Dia tahu mana batang, mana ranting, mana daun gugur. Tapi orang Jones ini lain, dia kejar bayang sendiri, lepas itu jatuh tersungkur, nanti disalahkan pula tanah. Adoi…!?
Dalam adat Melayu, bercakap itu ada timbangnya. Ada tunjuk ajar, sebelum berkata, ukur dulu dengan akal, tapis dengan hati. Kalau ragu, diam itu ada mahkotanya. Sebab diam tak pernah memakan tuan, tapi cakap yang lepas bisa jadi jerat.
Sekarang ini, ramai yang bangga jadi “berani bersuara”. Bagus, tapi jangan lupa, berani tanpa adab itu ibarat perahu tanpa kemudi. Laju memang laju, tapi tunggu saja bila dia menghantam batu.
Akhir kata Wak, kalau terasa diri itu ada sikit-sikit Jones, tak usah malu. Itu bukan penyakit keturunan, itu cuma penyakit kebiasaan. Obatnya satu saja, banyakkan ingat pesan orang tua, cakap siang pandang-pandang, cakap malam dengar-dengar.
Kalau tak, siap-siaplah badan tu dalam lokap. Mulut jones, petaka pun datang pelan-pelan.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








