WAK…, cerita ini bukan cerita dongeng hutan. Ini sebetol-betolnya kisah. Belasan ekor gajah mengamuk di kawasan mes karyawan PT Arara Abadi, Desa Rantau Bertuah, Siak. Lima petak rumah hancur. Motor jadi lenyik macam kuih lepat kena pijak.
Puncanya?
Seekor anak gajah terperosok dalam septic tank. Bayangkan, Wak. Hutan tempat dia berlari sudah jadi kebun. Laluan nenek moyang dia sudah jadi jalan lori. Tiba-tiba anak pula terjerumus dalam lubang najis manusia. Kalau itu bukan alasan untuk marah, entah apa lagi agaknya.
Tapi yang membuat hati ini tersentak bukan amuknya. Yang menyentuh itu, bila anak gajah berhasil diselamatkan dan dikembalikan kepada induknya, telinga si induk tidak mengeras. Tidak tegak tanda murka. Dia hanya mengibas-ngibaskan lembut. Orang kata itu tanda terima kasih.
Nah, Wak!?
Gajah saja tahu berterima kasih.
Padahal lintasannya sudah kena babat. Hutan rumahnya sudah botak. Dia makin terasing, makin terancam. Tapi bila anaknya diselamatkan, dia tahu membalas dengan bahasa yang halus.
Dalam tunjuk ajar Melayu, sudah lama disebut: Tanda Melayu sejati dan beriman, tahu menjaga alam dan lingkungan. Hutan dipelihara, tanah dijaga, bukit dirawat, laut disambut.
Maknanya apa?
Maknanya orang Melayu bukan sekadar pandai berpantun di pelaminan. Bukan sekadar hebat bersilat di gelanggang. Melayu itu penjaga alam. Sebab alam itu bukan harta, tapi amanah..Tapi sekarang kadang kita ini sesau, Wak. Rumah sendiri kita kasi kapak untuk orang tebang.
Tanah sendiri kita pajak panjang. Air sendiri kita keruhkan. Lepas itu bila “tuan lama” datang mengetuk, kita kata dia mengamuk. Padahal mungkin dia cuma bertanya, “Ini rumah siapa sebetolnya?”
Orang Melayu selalu bangga dengan pepatah, Melayu tak hilang di bumi. Memang betul ni, tapi jangan pula jadi Melayu yang hilang di bumi sendiri.
Kita ini bangsa yang terbuka. Datanglah siapa saja, kita sambut. Duduklah siapa saja, kita kasi tempat. Itu adab dan itu lah marwah. Tapi dalam adat juga ada pesan: Baik berpade-pade, jangan sampai rumah kena ngandah.
Terbuka itu bukan berarti terdedah. Beradat itu bukan berarti lemah. Kalau gajah yang makin sempit hidupnya pun masih tahu mengucap terima kasih, kita yang mengaku beradat ini bagaimana?
Alam dijaga atau dijual?
Adat dipelihara atau dipakai waktu seminar saja?
Marwah dipertahankan atau ditukar dengan janji?
Amuk gajah itu mungkin bukan sekedar marah. Mungkin itu isyarat. Isyarat bahwa ada yang tidak seimbang.
Dalam adat Melayu, bila alam marah, itu tanda manusia sudah lupa diri. Jadi, Wak, sebelum kita sibuk menilai gajah itu liar atau tidak, elok kita tanya dulu: Siapa yang memulai mengamuk? Siapa yang memulai membuka rumah orang tanpa salam?
Melayu Riau harus jadi tuan di tanah sendiri. Tuan bukan bermakna menolak orang. Tuan bermakna menjaga rumah. Menyusun halaman. Memelihara dusun. Supaya yang datang merasa teduh, bukan melihat kita sendiri kebingungan di serambi.
Petuah itu marwah. Kalau petuah tinggal petuah, alamat bukan gajah saja yang terancam, adat pun bisa pupus perlahan-lahan.
Kalau sampai adat terperosok dalam septic tank, jangan tunggu gajah pula yang datang menyelamatkan kita. Betul tak Wak…!?
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








