WAK, kalau kita cakap pasal Melayu, jangan main-main. Bangsa ini bukan bangsa sembarangan. Dari dulu sampai kini, kalau berkata bukan sekadar berkata, juga bukan sekedar berlapik. Kalau marah pun, bunyinya bukan main lembut, macam menasehati. Kalau menyindir pun, yang kena sindir senyum dulu lepas itu baru terasa pedihnya, macam kena sengat ikan lepu.
Orang Melayu ini, kelemahannya bukan tak ada. Tapi yang anehnya, kelemahan orang Melayu sering datang dari kekuatannya sendiri.
Macam mana tu, Wak?
Begini ceritanya. Dalam adat Melayu, diajarkan supaya jangan meninggikan diri. Jangan menunjuk pandai. Jangan menepuk dada. Semua itu terangkum dalam tunjuk ajar Melayu yang masyhur: “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.”
Maka jadilah Melayu bangsa yang penuh santun. Sampai memilih pemimpin pun, kita beresung-ngesung. Macam budak dara nak dipinang.
Ditanya, “Nak tak?” Dijawab, “Tengoklah dulu…” sambil berlari ke dapur.
Padahal dalam hati sudah setuju. Itulah lahirnya pepatah: “Hidung tak macung, pipi jangan tersorong-sorong.”
Maknanya, jangan sombong. Jangan menonjolkan diri. Kalau tak seberapa, jangan berlagak, Wak.
Tapi persoalannya sekarang, kalau memang hidung dah mancung, dah tercacak, tak usah disembunyikan lagi. Kalau memang mampu memimpin, kenapa asyik kata “alah biasa saja”? Kalau memang pandai, kenapa takut mengaku mampu?
Adat itu mengajar rendah hati. Tapi bukan mengajar rendah diri. Ini beda yang orang Melayu kadang-kadang terlepas pandang.
Rendah hati itu santun.
Rendah diri itu mundur.
Kalau semua asyik menunggu disuruh, siapa pula yang tampil memikul?
Kalau semua takut nampak menonjol, siapa yang mau memimpin? Nanti yang berani bukan yang beradat, yang naik jadi kepala. Habis tu kita marah pula. Padahal dalam tunjuk ajar lama tak pernah disebut orang Melayu dilarang maju.
Tak pernah pula disebut orang Melayu mesti kekal beresung-ngesung sampai peluang pun orang lain ambil.
Pepatah itu lahir pada zaman orang takut takabur. Zaman kini orang bukan takut sombong tapi orang takut kalah. Heee…!?
Maka mungkin agaknya, Wak, bukan pepatahnya yang salah. Tapi tafsirannya yang perlu disesuaikan. Kalau dulu bunyinya: “Hidung tak macung, pipi jangan tersorong-sorong.”
Maka hari ini bolehlah kita ubah: “Kalau hidung dah mancung, jangan pula disumbat dengan kapas.” (Ini mayat, Wak)
Kalau memang ada kemampuan, tampil dengan adab. Kalau memang layak, melangkah lah dengan santun. Kalau memang tahu, bercakap dengan ilmu, itulah Melayu yang sebenar.
Melayu tak pernah diajar jadi pengecut. Melayu diajar jadi beradat. Dan orang beradat itu bukan orang yang menyuruk di balik kelambu, tapi orang yang tahu bila waktunya duduk, dan bila waktunya berdiri.
Kalau tidak. Alamak memang benar: Melayu tak hilang di bumi tapi di bumi sendiri Melayu jadi ape, jadi penonton?
Dan penonton ini, Wak,
selalunya cuma pandai tepuk tangan. Jadi, biarlah kita kekalkan adat. Tapi jangan jadikan adat alasan untuk tidak melangkah. Sebab adat itu petunjuk, bukan pengikat kaki.
Kalau hidung memang mancung dan pipi tembam, biarlah mancungnya itu membawa arah dan tembamnya itu menjadi alas untuk maju. Suai…!?
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








