RiauKepri.com, KAMPAR– Harapan warga Kenegerian Umbio untuk memiliki akses penghubung yang layak kembali menguat. Dalam suasana Halal bi Halal 1447 Hijriah di Masjid Jamik Kenegerian Umbio, Ahad (29/3/2026), ninik mamak dan tokoh masyarakat sepakat mendesak pemerintah melanjutkan pembangunan Jembatan Pasar Rumbio yang telah terbengkalai selama tujuh tahun.
Musyawarah yang berlangsung hangat itu tak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang curahan harapan masyarakat. Jembatan yang mangkrak sejak pandemi Covid-19 disebut menjadi penghambat utama aktivitas warga di 12 desa yang bergantung pada akses tersebut.
“Sejak wabah Covid-19 melanda, pembangunan jembatan ini terhenti. Karena itu kita harus bergerak bersama dan menyamakan persepsi agar pembangunan ini bisa kembali dilanjutkan,” ujar Bustami HY, yang memandu jalannya musyawarah.
Sejumlah tokoh hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Prof. Munzir Hitami, Prof. Masadi, Dr. Nurhamin, Datuk Kampar Dr (HC) H. Munasir, Ketua Komisi III DPRD Riau Edi Basri, Anggota DPRD Kampar Zulfan Azmi, serta para datuk persukuan, camat, dan kepala desa se-Kenegerian Umbio.
Dalam forum tersebut, masyarakat juga menyepakati pembentukan Tim Percepatan Pembangunan Jembatan Pasar Rumbio yang beranggotakan 13 orang dari berbagai latar belakang keilmuan.
Datuk Kampar H. Munasir dipercaya sebagai ketua tim. “Jembatan ini sangat penting untuk menghubungkan 12 desa di Kenegerian Umbio. Kami akan segera menggalang dukungan masyarakat dan melakukan audiensi ke pemerintah daerah hingga Kementerian PUPR,” kata Munasir.
Bagi warga, jembatan itu bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan. Tanpa jembatan, mobilitas warga terhambat, aktivitas ekonomi tersendat, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan menjadi tidak efisien.
Rasa ketimpangan pembangunan pun mencuat dalam musyawarah. Jayusman, salah satu tokoh masyarakat, mengungkapkan keprihatinan warga atas kondisi tersebut.
“Kami merasakan adanya ketimpangan pembangunan infrastruktur dibanding kenegerian lain. Anak kemenakan di sini merasa miris karena daerah kami seolah kurang mendapat perhatian,” ujarnya.
Usai musyawarah, para ninik mamak dan tokoh masyarakat langsung meninjau lokasi jembatan. Tiang-tiang pancang yang berdiri sunyi di tepian sungai menjadi simbol harapan yang tertunda, sekaligus pengingat bahwa pembangunan yang terhenti menyisakan beban panjang bagi masyarakat.
Kini, warga Umbio hanya berharap suara mereka sampai ke pengambil kebijakan, agar jembatan yang lama terbengkalai itu dapat kembali dibangun dan menghidupkan denyut ekonomi serta kebersamaan di 12 desa yang selama ini terpisah. (RK1/*)








