KALAU nak tahu, Wak, zaman sekarang ini banyak betul perkara yang membuat kening kita berkerut, bukan karena tak pandai tapi karena dunia ini terlalu laju berlari, sampai-sampai kasotpun kadang tertinggal di anak tangga.
Kawan aku pun datang bertanya dengan wajah serius, macam nak pinjam duit tapi malu-malu, “Wak, kenapa dalam cerita Upin dan Ipin tu tak nampak batang hidung mak bapaknya?”
Aku pun tersenyum, Wak. Pertanyaan itu berat, tapi jawabannya jangan dibuat berat sangat, nanti jadi macam sambal belacan kurang garam, tak sedap di anak tekak.
“Upin dan Ipin itu bukan tak ada bapak dan maknye, tapi cerita itu nak mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini, kadang yang mendidik bukan hanya mak dan bapak. Opah, kakak, jiran, bahkan kampung, semuanya adalah sekolah.”
Coba kite tengok, Wak. Walau Upin dan Ipin dibesarkan oleh Opah dan Kak Ros, adab mereka elok, bahasa mereka lembut, tahu hormat orangtua. Itu tandanya, didikan itu bukan semata-mata siapa yang melahirkan, tapi siapa yang membimbing dengan kasih dan tunjuk ajar.
Budak-budak sekarang lain pula ceritanya. Duduk dalam kamar, pintu tertutup, tapi dunianya terbuka luas. Dari dalam kamar, dia boleh tahu apa yang terjadi di ujung dunia. Kadang, belum sempat guru masuk kelas, dia sudah tahu pelajaran hari itu. Hebat, Wak, tapi seram pun ada.
Bak kata orang sekarang: dunia dalam genggaman. Tapi Wak, jangan sampai genggaman itu melepaskan pegangan., terjungkal jadinya Wak. Adoi…!?
Kawan aku tadi pun buat kesimpulan cepat: katanya nanti orangtua tak diperlukan lagi atau kita ini tak mampu jadi orangtua, kalah dengan zaman. Contohnya macam cerita Upin dan Ipin tu. Aku terus geleng kepala.
“Eeh, janganlah begitu. Teknologi itu alat, bukan pengganti kasih sayang. Handphone boleh kasi ilmu, tapi tak bisa menggantikan pelukan hangat mak. Internet boleh jawab pertanyaan, tapi tak boleh ajar adab macam bapak.”
Dalam adat Melayu, Wak, yang dijaga itu bukan sekadar hidup tapi cara hidup. Ada waktu bermain, ada waktu pulang. Dulu, sebelum magrib, anak-anak sudah harus balik. Bukan sekadar takut kena marah, tapi itu tanda ingat waktu, ingat Tuhan, ingat rumah.
Sekarang? Anak tak balik-balik, tapi kita bisa videocall. Nampak mukanya, tahu dia di mana. Itu kemajuan, Wak. Tapi jangan pula cukup dengan nampak muka di layar, lupa menatap mata di depan.
Masjid pun sekarang ada di mall, Wak. Tinggal pilih, nak ikut waktu atau ikut nafsu. Teknologi ini ibarat pisau. Kalau pandai guna, boleh potong sayur tapi kalau salah guna potong lomik pun tak bisa, boleh melukai diri sendiri.
Adat dan budaya pula, jangan dianggap batu keras yang tak boleh diukir. Dia itu seperti air, boleh mengalir ikut zaman, tapi tetap jernih kalau dijaga sumbernya.
Yang paling penting, Wak, anak-anak ini jangan hanya diberi gadget, tapi diberi juga pegangan. Jangan hanya diajar pandai mencolet alias sekrol layar, tapi juga diajar salam dan senyum. Anak jangan hanya tahu password WiFi, tapi lupa doa masuk rumah.
Kalau tidak, bangsai, jadilah dia budak cerdas kepala, tapi kosong di dada.
Akhirnya, Wak, hidup ini bukan soal lama atau baru, bukan soal kampung atau kota, bukan soal teknologi atau tradisi. Yang utama, bagaimana kita menyikapinya. Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan kemajuan itu alat untuk mendekatkan, bukan menjauhkan.
Sebab sebaik-baiknya hidup, bukan yang paling canggih tapi yang paling beradab. Dan setinggi-tinggi ilmu, bukan yang dihafal tapi yang diamalkan.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







