RiauKepri.com, BINTAN – Pagi di SD Negeri 002 Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, berjalan seperti biasa. Riuh tawa anak-anak memenuhi halaman sekolah. Namun, di sudut lain, beberapa siswa tampak sibuk mengumpulkan tempurung dan sabut kelapa. Bagi mereka, benda-benda yang selama ini dianggap limbah itu bukan lagi sampah, melainkan awal dari sebuah karya yang menyimpan harapan.
Di sekolah yang berada di kawasan pesisir tersebut, limbah kelapa mendapat kehidupan baru melalui program inovasi bernama BRIKOLA, singkatan dari Briket dari Limbah Kelapa. Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga lahir dari persoalan nyata yang dihadapi lingkungan sekitar.
Wilayah Seri Kuala Lobam dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak pohon kelapa. Hampir setiap hari, tempurung dan sabut kelapa berserakan di pekarangan rumah maupun kebun. Sebagian dibakar begitu saja, sementara sisanya dibiarkan menumpuk hingga menjadi limbah yang kurang dimanfaatkan.
Melihat kondisi tersebut, warga sekolah tidak memilih untuk membiarkannya. Mereka justru menjadikan persoalan lingkungan itu sebagai media belajar yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, kepedulian terhadap alam, dan kreativitas siswa dalam satu kegiatan yang menyenangkan.
Melalui BRIKOLA, para siswa diajak mengenal proses mengolah limbah organik menjadi briket arang ramah lingkungan. Dengan bimbingan guru, mereka belajar mulai dari mengumpulkan bahan baku, mengolahnya, mencampurkannya dengan perekat alami, mencetak hingga menjemurnya sebelum siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Di tangan-tangan kecil itulah, tempurung dan sabut kelapa yang sebelumnya tidak bernilai berubah menjadi produk yang memiliki manfaat nyata. Tidak sekadar menghasilkan briket, anak-anak juga belajar bahwa setiap benda memiliki potensi apabila diolah dengan kreativitas dan pengetahuan.
Kepala SD Negeri 002 Seri Kuala Lobam, Suharyanto, mengatakan bahwa BRIKOLA lahir dari keinginan sekolah menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Menurutnya, pendidikan akan lebih bermakna ketika anak-anak mampu melihat hubungan antara pelajaran di sekolah dengan kondisi di lingkungan tempat mereka tinggal.
“Kami ingin anak-anak sejak dini memahami bahwa sampah atau limbah bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Lewat BRIKOLA, mereka belajar sains, kepedulian lingkungan, sekaligus dasar-dasar kewirausahaan. Mereka melihat langsung bagaimana limbah kelapa di sekitar rumah mereka bisa diubah menjadi briket yang punya nilai jual dan manfaat bagi masyarakat,” ujar Suharyanto saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (10/7/2026).
Baginya, inovasi tersebut bukan sekadar kegiatan membuat kerajinan tangan. BRIKOLA merupakan implementasi pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning yang mendorong siswa aktif menemukan solusi terhadap persoalan di sekitar mereka.
Program ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Gaya Berkelanjutan. Setiap tahapan pembuatan briket dirancang agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, gotong royong, kreativitas, hingga tanggung jawab terhadap lingkungan.
Anak-anak tidak hanya mendengarkan teori mengenai pelestarian lingkungan. Mereka benar-benar menyentuh, mengolah, dan melihat perubahan limbah menjadi energi alternatif. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang sulit diperoleh hanya melalui buku pelajaran.
“Proses ini melatih motorik, kerja sama tim, dan rasa tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi belajar dari alam dan untuk alam,” tambah Suharyanto.
Lebih jauh, BRIKOLA menghadirkan manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh sekolah. Secara lingkungan, program ini membantu mengurangi pembakaran limbah kelapa secara langsung yang selama ini berpotensi menimbulkan polusi udara.
Briket yang dihasilkan juga memiliki kualitas pembakaran yang cukup baik. Nyalanya lebih tahan lama, menghasilkan asap yang lebih sedikit, dan dapat menjadi alternatif bahan bakar pengganti kayu maupun gas dalam skala rumah tangga.
Nilai edukasi dan manfaat lingkungan berjalan beriringan. Anak-anak belajar bahwa menjaga bumi bukan hanya melalui slogan atau kampanye, tetapi melalui tindakan sederhana yang dapat dilakukan sejak usia sekolah dasar.
Tidak berhenti sebagai media pembelajaran, sekolah juga mulai menatap peluang yang lebih besar. BRIKOLA diproyeksikan berkembang menjadi produk kewirausahaan sekolah atau school enterprise yang memiliki nilai ekonomis.
Apabila pengembangan tersebut terwujud, hasil penjualan briket diharapkan dapat menjadi tambahan kas sekolah sekaligus mendukung berbagai kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, siswa memperoleh pengalaman berharga mengenai proses produksi, pemasaran, hingga pentingnya menciptakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Tentu kami berharap inovasi BRIKOLA ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia, khususnya yang berada di wilayah pesisir atau area perkebunan kelapa. Kami juga sangat terbuka untuk kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun pihak swasta guna mengembangkan mesin pencetak dan kemasan produk yang lebih baik agar nilai ekonomisnya semakin meningkat,” pungkas Suharyanto.
Apa yang dilakukan SD Negeri 002 Seri Kuala Lobam menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah besar dengan fasilitas lengkap. Justru dari sebuah sekolah dasar di pesisir Bintan, lahir gagasan sederhana yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus memperkaya proses pendidikan.
Di balik setiap keping briket yang dihasilkan, tersimpan pelajaran tentang kepedulian, kreativitas, dan harapan. BRIKOLA bukan hanya mengubah limbah kelapa menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga sedang membentuk generasi muda yang memahami bahwa masa depan bumi dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini.








