“Berlibur ke Kepri Aja!” bukan sekadar tagline, tapi semangat kebangkitan ekonomi daerah lewat wisata.
Provinsi Kepulauan Riau tampaknya tak lagi hanya berharap pada geliat industri dan pelabuhan. Tahun 2025 menjadi momentum penting saat pemerintah daerah menancapkan gas penuh pada sektor pariwisata. Targetnya cukup berani: Rp17 triliun dari kantong para wisatawan.
Optimisme itu datang bukan tanpa alasan. Tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) ke Kepri terus menunjukkan grafik menaik sepanjang paruh pertama tahun ini. Bahkan, pada Mei 2025 saja, lonjakan kunjungan wisman tercatat menembus 176.366 orang—naik hampir 40 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kalau tren ini berlanjut, target yang kita tetapkan dalam RPJMD bukan cuma realistis, tapi bisa kita lampaui,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, saat ditemui di Batam, Kamis (16/7/2025).
Hitung-Hitungan Ekonomi di Balik Senyum Wisatawan
Secara matematis, satu kunjungan wisman ke Kepri rata-rata menyumbang sekitar US$296 atau setara Rp4,8 juta dalam perputaran uang lokal. Mulai dari bandara hingga hotel, dari warung makan hingga toko oleh-oleh, semua sektor ikut kecipratan rezeki. Jika ditotal, sektor pariwisata ditarget mampu menyumbang pendapatan daerah sebesar Rp17 triliun sepanjang 2025.
Angka itu bukan mimpi kosong. BPS mencatat kunjungan wisman selama Januari–Mei 2025 sudah menyentuh 711.683 orang. Sementara kunjungan wisnus bahkan lebih fantastis: 1,7 juta perjalanan hanya dalam lima bulan pertama.
Hasan menyebut angka-angka ini adalah bukti konkret bahwa Kepri sudah mulai menjadi magnet baru wisata regional. “Apalagi wisatawan dari Singapura dan Malaysia sudah mulai kembali ramai, ditambah dengan meningkatnya minat wisatawan lokal dari Pulau Jawa dan Sumatera,” katanya.
Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Tempat
Kunci strategi Dinas Pariwisata Kepri bukan cuma soal promosi, tetapi memperkuat ekosistem pengalaman. “Kita tak hanya menjual destinasi, tapi juga menjual pengalaman wisata yang beragam—kuliner, budaya, hingga sport tourism,” jelas Hasan.
Berbagai agenda pun sudah disiapkan untuk semester II tahun ini. Mulai dari Festival Bahari, Lomba Perahu Jong, Festival Musik Melayu, hingga ajang olahraga ekstrem seperti triathlon dan kejuaraan jetski internasional. Semua ini bukan hanya untuk menarik wisatawan datang, tapi juga untuk membuat mereka bertahan lebih lama.
“Semakin lama mereka tinggal, semakin besar kontribusinya terhadap ekonomi lokal,” ujar Hasan.
Tagline Sederhana, Dampak Luar Biasa
Tagline baru “Berlibur ke Kepri Aja!” bukan sekadar kampanye semata, tapi menjadi simbol ajakan agar masyarakat Indonesia tak perlu jauh-jauh mencari tempat liburan yang eksotik. Kepri punya segalanya—laut biru, budaya Melayu, kuliner khas, hingga akses transportasi yang makin mudah.
Dengan letaknya yang strategis dan jaringan pelabuhan serta bandara yang berkembang, Kepri menjadi pintu masuk utama wisatawan ke Indonesia dari negara-negara tetangga.
Bukan Sekadar Target, Tapi Gerakan Kolektif
Meski Kementerian Pariwisata RI menetapkan target 5,9 juta kunjungan wisatawan ke Kepri tahun ini (2,4 juta wisman dan 3,5 juta wisnus), Dinas Pariwisata Kepri tetap fokus pada angka yang realistis sesuai RPJMD: 1,7 juta kunjungan wisman dan 2,2 juta kunjungan wisnus.
“Fokus kami adalah kualitas, bukan sekadar kuantitas. Kalau target RPJMD tercapai dengan baik, nilai ekonomi akan tetap besar,” kata Hasan.
Akhir Kata: Wisata adalah Harapan
Di tengah tekanan ekonomi global dan tantangan fiskal nasional, pariwisata bisa jadi tulang punggung baru bagi Kepri. Tak hanya sebagai sumber pendapatan, tapi juga motor penggerak UMKM, pelestarian budaya, hingga perluasan lapangan kerja.
Dan saat wisatawan datang dan berkata, “Kepri itu keren!”, maka itulah momen ketika setiap sen yang dibelanjakan di Kepri menjadi investasi untuk masa depan daerah ini.
Jadi tunggu apa lagi? Berlibur ke Kepri Aja! (RK9)








