RiauKepri.com, PEKANBARU– Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) terasa lebih hangat dari biasanya, Kamis (22/1/2026). Sejumlah mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tampak antusias menyimak setiap penjelasan tentang adat dan budaya Melayu Riau. Kunjungan itu bukan sekadar agenda akademik, tetapi juga menjadi ruang temu rasa antara generasi muda serumpun yang dipisahkan batas negara.
Rombongan mahasiswa UKM dipimpin oleh Dosen Pusat Kajian Arab dan Tamadun Islam, Dr. Farid Mat Zain, bersama Zulfakar. Mereka disambut langsung Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, didampingi Sekretaris Umum DPH LAMR, Datuk H. Jonnaidi Dasa.
Sejak awal pertemuan, suasana berlangsung akrab. Para mahasiswa terlihat aktif mencatat, memotret, dan mengajukan pertanyaan tentang sejarah serta peran adat Melayu di Riau.
Bagi mereka, Balai Adat bukan hanya bangunan simbolik, tetapi ruang belajar yang menghadirkan jejak peradaban leluhur.
Datuk H. Jonnaidi Dasa membuka pertemuan dengan memperkenalkan peran dan fungsi LAMR sebagai lembaga yang bertanggung jawab menjaga, memelihara, dan mengembangkan nilai-nilai adat serta budaya Melayu di Provinsi Riau. Ia menegaskan bahwa adat Melayu bukan peninggalan masa lalu yang membeku, melainkan warisan peradaban yang terus hidup dan relevan.
“Adat Melayu itu dinamis. Ia tumbuh bersama zaman, namun tetap berakar pada nilai dan jati diri,” ujar Jonnaidi di hadapan para mahasiswa.
Dr. Farid Mat Zain menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan LAMR. Menurutnya, kunjungan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa UKM untuk mengenal lebih dekat jati diri Melayu yang sesungguhnya.
“Kami datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk merasakan ikatan sejarah dan peradaban yang sama antara Riau dan Malaysia. Ini tentang mengenali akar kami sendiri,” katanya.
Ia menilai, pertemuan langsung dengan lembaga adat seperti LAMR memberi pengalaman emosional sekaligus intelektual bagi mahasiswa, karena nilai-nilai budaya yang dipelajari di kampus dapat disaksikan langsung dalam praktik kehidupan masyarakat.
Ketua Umum DPH LAMR, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, menyebutkan kunjungan mahasiswa UKM sebagai bagian dari silaturahmi akademik lintas negara yang terus dibangun LAMR.
“Sebelumnya, kami juga menerima mahasiswa dari University Malaya (UM). Ini menunjukkan bahwa LAMR menjadi rumah bersama bagi anak-anak Melayu serumpun,” ujarnya.
Datuk Seri Taufik menekankan bahwa secara kebudayaan, Riau dan Malaysia memiliki akar sejarah yang sama. Perbedaan yang ada hari ini, menurutnya, hanyalah batas administratif negara.
“Adat dan budaya kita tetap serumpun. Bahasa, nilai, dan cara pandang hidupnya masih satu napas,” katanya.
Pada kesempatan itu, Datuk Seri Taufik juga memaparkan perjuangan LAMR dalam mendorong pengakuan Riau sebagai daerah istimewa, yang berpijak pada sejarah panjang, kekuatan budaya, serta peran strategis Melayu Riau dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Bagi para mahasiswa UKM, kunjungan ini menjadi lebih dari sekadar agenda kampus. Ia menjadi momen pulang ke akar budaya, mengenali saudara jauh yang sesungguhnya dekat secara nilai dan sejarah.
Di Balai Adat itu, mereka menemukan bahwa Melayu bukan hanya identitas di buku teks, tetapi ikatan rasa yang hidup dan terus diwariskan lintas generasi dan lintas negara. (RK1)








