RiauKepri.com, SIAK– Petang itu, matahari kelihatan menguning, perlahan condong ke barat ketika iring-iringan Safari Ramadan menyusuri jalanan Dusun Tanjung Layang, Kampung Tanjung Kuras, Kecamatan Sungai Apit. Di tengah perjalanan, langkah itu terhenti oleh pemandangan sederhana namun menggetarkan hati, seorang bocah kecil berlari riang ke arah rombongan.
Tanpa ragu, Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, menyambutnya dengan senyum lebar dan menggendongnya. Sang ibu yang sempat mengejar anaknya karena khawatir bermain terlalu jauh di jalan, tersenyum lega. Afni pun berseloroh ringan, menyuruh si bocah kembali berlari. Tawa kecil pecah di antara mereka.
Adegan singkat itu seolah menjadi pesan tak terucap, pemimpin tak selalu harus berdiri di atas panggung, kadang cukup berdiri di tengah jalan, dekat dan setara.
Di jalan yang sama, Afni bertemu seorang warga penerima zakat dan sedekah dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Siak. Bantuan diserahkan begitu saja, tanpa seremoni, tanpa mikrofon, tanpa pidato panjang. Tak ada jarak antara pemberi dan penerima. Hanya sapaan, doa, dan harapan.
Perjalanan berlanjut dari pintu ke pintu. Ada zakat yang diberikan sambil duduk di anak tangga rumah kayu, ada pula yang diantarkan masuk hingga ke dalam rumah ketika penerimanya sedang sakit. Sentuhan langsung itu membuat bantuan bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan pertemuan hati dengan hati.
Salah seorang ibu penerima zakat bahkan sempat tak mengenali siapa perempuan yang berdiri di hadapannya. Ketika Afni memperkenalkan diri sebagai Bupati Siak, barulah ibu itu tersenyum malu.
“Kenalnya cuma dari foto,” ujarnya pelan.
Momen itu menjadi cermin betapa pentingnya seorang pemimpin hadir secara nyata, bukan hanya lewat baliho dan media sosial.
Menjelang azan Magrib, Afni dan rombongan berbuka puasa di salah satu rumah warga. Menu yang tersaji sederhana, nasi kotak, air minum, dan kebersamaan. Tak ada hidangan mewah, tak ada protokol berlebihan.
Kesederhanaan itu justru mempererat suasana. Warga dusun yang tinggal di wilayah cukup terpencil itu merasa dihargai, bukan sekadar dikunjungi.
Dalam kesempatan itu, Afni sengaja mengajak para pejabat di lingkungan Pemkab Siak untuk ikut turun langsung. “Saya sengaja membawa pejabat Siak ikut mendampingi, seraya mengingatkan bahwa sekarang bukan saatnya lagi pejabat dilayani. Sesungguhnya kitalah pelayan,” ujarnya.
Mantan wartawan itu mengungkapkan, pejabat harus berani meninggalkan SOP protokoler yang berlebihan dan menyatu bersama rakyat. Turun ke ceruk-ceruk dusun, mendengar suara yang mungkin tak pernah sampai ke ruang rapat.
“Mungkin belum banyak yang bisa kita lakukan. Namun dengan mau turun, mendengar, merangkul, dan duduk bersama, rakyat kiranya dapat menyelami niat baik kita,” ucap Afni.
Safari Ramadan Bupati perempuan pertama di Siak di Dusun Tanjung Layang bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa kepemimpinan adalah soal kehadiran. Tentang menyapa bocah yang berlari, mendengarkan keluhan tanpa jarak, dan berbuka puasa tanpa sekat jabatan.
Di bulan yang mengajarkan empati dan kesederhanaan, langkah kecil dari satu pintu ke pintu lain itu menghadirkan nilai edukasi yang dalam, pemimpin yang baik bukan hanya yang banyak berbicara, tetapi yang mau berjalan.
Dan di jalanan dusun yang sederhana itu, makna pelayanan terasa lebih nyata daripada seribu kata di atas mimbar. (RK1)








