Oleh Hang Kafrawi
Di zaman ketika media sosial menjadi ruang utama perjumpaan manusia, kehidupan terasa seperti panggung besar tempat narasi dipertontonkan tanpa henti. Setiap hari, kita disuguhi beragam cerita, opini, dan klaim kebenaran yang saling bertabrakan. Tidak lagi sekadar berbagi informasi, ruang digital telah menjelma menjadi arena pertarungan, sebuah akrobat narasi di mana siapa yang paling lihai membingkai realitas, dialah yang berpotensi memenangkan perhatian dan kepercayaan publik.
Dalam hamparan seperti ini, kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang jernih. Kebenaran sering kali dikaburkan oleh kepentingan, dipoles oleh retorika, dan dipercepat oleh algoritma. Narasi tidak lagi hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk cara pandang. Seseorang dapat terlihat benar bukan karena ia berpegang pada kebenaran, melainkan karena narasinya lebih meyakinkan, lebih emosional, dan lebih mudah diterima oleh khalayak. Di sinilah batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur, bukan karena kebenaran hilang, tetapi karena kebenaran tertutup oleh lapisan-lapisan rekayasa.
Dalam kerangka semiotik, situasi ini dapat dibaca melalui pemikiran Roland Barthes. Barthes menjelaskan bahwa tanda tidak berhenti pada makna literal (denotasi), tetapi berkembang menjadi konotasi, lalu membentuk apa yang disebut sebagai mitos. Mitos bekerja dengan cara membuat sesuatu yang sebenarnya merupakan konstruksi sosial tampak alamiah dan seolah-olah tidak bisa dipertanyakan. Di media sosial, mitos-mitos ini hadir dalam berbagai bentuk seperti citra kesederhanaan yang direkayasa, narasi kepahlawanan yang dibangun, atau bahkan pandangan yang dilekatkan pada kelompok tertentu. Semua itu diterima bukan karena kebenarannya mutlak, melainkan karena tampil meyakinkan.
Sementara itu, Umberto Eco mengingatkan bahwa teks dan tanda memang terbuka untuk ditafsirkan, tetapi tidak berarti bebas tanpa batas. Melalui gagasannya tentang opera aperta (karya terbuka), Eco menegaskan bahwa makna lahir dari interaksi antara teks dan pembaca, namun tetap dibatasi oleh struktur dan konteks. Dalam dunia digital hari ini, batas itu sering diabaikan. Tafsir menjadi liar, informasi dipelintir, dan makna dimanipulasi sesuai kepentingan. Inilah yang oleh Eco disebut sebagai overinterpretation, penafsiran berlebihan yang justru menjauh dari makna yang dapat dipertanggungjawabkan.
Fenomena ini juga melahirkan aktor-aktor baru dalam dunia komunikasi. Mereka yang dengan sengaja membangun, menguatkan, dan menyebarkan narasi tertentu demi kepentingan tertentu. Dalam bahasa populer, mereka kerap disebut “buzzer”, istilah yang menggambarkan peran sebagai penggaung pesan. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa narasi bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan juga strategi. Media sosial berubah menjadi medan perang, dan kata-kata menjadi senjata.
Paling mengkhawatirkan bukanlah keberadaan para penggaung narasi itu sendiri, melainkan dampaknya terhadap kesadaran publik. Di tengah banjir informasi, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memilah, memeriksa, dan memahami konteks. Ketika narasi dikonsumsi tanpa jeda dan tanpa perenungan, narasi perlahan membentuk cara berpikir. Emosi menjadi lebih dominan daripada rasio, reaksi lebih cepat daripada pertimbangan. Pada titik tertentu, manusia tidak lagi berpikir tentang apa yang benar, tetapi hanya mengikuti apa yang terasa benar. Di sinilah akal sehat mulai melemah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama kita hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan narasi yang tidak terkelola. Kita hidup dalam dunia di mana setiap orang bisa berbicara, tetapi tidak semua yang berbicara membawa kejelasan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan membaca menjadi lebih penting daripada kemampuan berbicara. Membaca bukan sekadar memahami teks, tetapi juga menelusuri niat, membongkar kepentingan, dan menyadari posisi diri di tengah arus makna yang terus bergerak.
Meski demikian, tidak berarti manusia sepenuhnya tak berdaya. Di tengah riuhnya narasi, selalu ada kemungkinan untuk kembali pada kejernihan. Kesadaran untuk tidak tergesa-gesa, keberanian untuk meragukan apa yang tampak meyakinkan, serta kemauan untuk mencari kebenaran di luar gema yang berulang-ulang, semua itu adalah bentuk perlawanan yang sunyi namun penting. Dalam dunia yang semakin bising, justru ketenangan berpikir menjadi kekuatan.
Pada akhirnya, narasi akan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia. Akrobat narasi tidak bisa dihindari, karena manusia memang hidup dari cerita. Namun yang perlu dijaga adalah agar kita tidak kehilangan diri di dalamnya. Seperti diingatkan oleh Barthes dan Eco, makna tidak pernah benar-benar netral, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas. Di antara dua kutub itulah manusia dituntut untuk tetap waspada agar tidak sekadar menjadi pengikut narasi, melainkan tetap menjadi pembaca yang sadar dan merdeka.
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak, Pekanbaru, Riau.







