JELAK rasenye, Wak, mencari Sultan Syarif Kasim II pakai tanjak, yang nampak di foto-foto sang baginda banyak mengenakan kopiah dan nghetam. Uniknya, kopiah atau songkok yang dipakai Sultan senget ke kanan. Ape pasal?
Orang Melayu ni, Wak, bukan sembarang pakai penutup kepala. Kopiah itu bukan sekadar kain hitam ditaruh di ubun-ubun. Itu lambang adab, tanda tahu diri, dan isyarat bahwa kepala ini tunduk pada Tuhan, bukan pada dunia. Tapi bila kopiah itu dimiringkan ke kanan, nah di situlah ceritanya jadi panjang, macam hikayat seribu satu malam.
Kata orang tua-tua, kalau lurus itu adat, maka miring itu ikhtiar. Lurus tanda patuh, miring tanda berfikir. Jadi bila Sultan Syarif Kasim II pakai kopiah senget ke kanan, jangan cepat-cepat kata itu gaya. Itu bahasa diam, Wak, bahasa yang tak perlu pidato, tapi sekali tengok orang sudah faham: “yang ini bukan orang sembarangan.”
Konon kabarnya, miring ke kanan itu tanda keberanian. Macam orang bilang, “aku ikut aturan, tapi bukan berarti aku takut melawan yang tak betul.” Dan dalam sejarah, sikap begini bukan asing. Tengoklah Soekarno, kadang kopiahnya pun tak tegak lurus macam tiang bendera. Tapi fikirannya tegak, Wak, itu yang penting.
Nah, kalau kita kaitkan dengan tunjuk ajar Melayu, ini makin sedap ceritanya. Dalam adat, kita diajar: “biar mati anak, jangan mati adat.” Tapi bukan berarti adat itu kaku macam kayu bakar. Adat itu hidup, Wak, dia boleh condong, asal jangan tumbang. Sama macam kopiah Sultan itu, miring tapi tak jatuh.
Dan jangan lupa satu hal, Wak, di balik seorang Sultan, ada mak yang mendidik. Tak mungkin kopiah itu miring kalau dari kecil tak diajar tegak dulu. Mak Sultan lah yang mula-mula betulkan kopiah di kepala, kasi tahu mana adab, mana kurang ajar. Jadi kalau sekarang kopiah itu condong ke kanan, itu bukan salah pakai, Wak, itu tanda tegas dan sudah memilih arah.
Mak Melayu ni, Wak, bukan banyak cakap. Tapi sekali dia diam, maknanya dalam. Dia ajar anaknya bukan hanya cara duduk di singgasana, tapi juga cara berdiri di hadapan ujian. Jadi bila Sultan tampil dengan kopiah miring ke kanan, itu bukan sekadar warisan gaya, tapi itu warisan jiwa.
Lucunya, Wak, sekarang orang kadang sibuk nak tiru gaya, tapi lupa isi dan makna. Kopiah disengetkan tapi hati masih bengkok. Padahal dalam adat kita jelas mengatakan, elok pakaian kerana iman, elok perangai kerana budi.” Akibat tak paham dengan tunjuk ajar ini, hanya kopiah dia saja yang senget, akal dia pun ikut senget. Parahnya lagi Wak, jalan dia jadi oleng membawa beban hidup.
Jadi kesimpulannya, Wak, kopiah miring ke kanan itu bukan sekadar gaya zaman dulu. Itu simbol sikap berani, dekat dengan rakyat, dan tetap berakar pada adat dan agama. Dan paling penting itu, mengingatkan kita bahwa dalam setiap pemimpin, ada didikan seorang mak yang diam-diam membentuk arah hidupnya.
Jadi Wak, kalau lah ada yang jumpa foto Sultan pakai tanjak atau kopiah miring ke kiri, bolehlah kirim ke sayo, Wak. Tapi kalau tak jumpa, jangan risau. Yang penting bukan di mana miringnya kopiah, tapi ke mana condongnya hati kita ini.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







