DULU, semasa awak masih tonges lagi, pipi pun masih berkerak, kami budak-budak kampung selalu duduk-duduk di tebing pengerih, tempat turun-naiknya nelayan. Kerjanya tak ada kesah lain, tengok tongkang lalu-lalang. Besar mesinnya, berdengung bunyinya, kalah suara emak-emak memanggil anak mandi petang. Heee…!?
Tongkang-tongkang itu, Wak, bukan bawa orang pergi melancong macam sekarang naik kapal sambil swafoto muncung itik. Dulu tongkang itu bawa kayu bakau dari kampung kami yang sekarang bernama Meranti, menuju Selat Malaka, singgah pula ke Batu Pahat di Malaysia. Orang kampung cakap itu rezeki laut dan rezeki hutan bersatu dalam satu perut tongkang.
Kami dulu bukan orang pandai sangat, sekolah pun kadang-kadang kalah rajin dengan ayam kampung. Tapi satu yang orang tua kami ajar, “ambil bakau jangan tamak.”
Kalau menebang, ambil batang atasnya saja. Akar jangan diganggu. Sebab akar bakau itu bukan sekadar kayu, dia penahan ombak, penahan marwah kampung. Orang dulu tak pandai pidato soal ekosistem, tapi tahu kalau akar dicabut, pantai pun ikut pugat lari.
Sekarang lain ceritanya. Bakau dicabut sekali dengan akar-akarnya. Macam mencabut uban bini di anak tangga, habis semua tercerabuk. Lepas itu bila pantai runtuh, sibuk pula salahkan ombak. Ombak dari dulu macam itu juga, yang berubah perangai manusianya.
Dulu orang kampung yang berlayar bawa kayu, arang, hasil kebun ke Malaysia dipanggil “smokel.” Kalau sekarang bahasanya lebih garang, penyelundup. Padahal dulu itulah jalan periuk kami berasap. Dari situlah anak kampung bisa makan ikan sembilang segar, bisa beli baju raya walau kainnya satu gulung dipakai tiga beradik berganti-ganti, dari situ juga budak kampung ini jadi profesor.
Ketika itu, orang Malaysia pula kami anggap macam saudara dekat. Kalau berjumpa, tegur-tegur juga: “Dari mana, Wak?” “Dari Meranti.” “Ooo… kalau begitu masih sepupu jauh kite.”
Tak ada jarak psikologis macam orang pandai kota bilang sekarang. Laut itu bukan pemisah, tapi penghubung darah dan nasib. Tapi sekarang dunia sudah pandai sangat. Pabrik arang tumbuh macam cendawan di atas kerakap pada musin hujan. Orang cakap membuka ribuan lapangan pekerjaan. Tapi orang kampung pun diam-diam bertanya sambil garu kepala: “Yang ribuan bekerja itu siapa? Anak tempatan atau orang singgah makan?”
Kadang masyarakat tempatan ni jadi macam ayam tengok beras dalam guni. Bau dapat, makan tidak. Yang lucunya lagi, bila ada masalah, mulailah orang bercakap pasal aturan, pasal undang-undang, pasal keselamatan. Tapi ketika hasil keluar bertan-tan, tak ramai pula ingat dapur orang kampung yang perlahan-lahan padam asapnya.
Beginilah hidup sekarang, Wak. Dulu hutan dijaga sebab orang tahu adat. Sekarang hutan dijaga sebab ada papan tanda larangan. Orang tua dulu ada berpesan: “Kalau hendak hidup lama di tanah sendiri, jangan rakus pada alam. Sebab alam itu bukan harta pusaka, tapi utang kita pada cucu cicit.”
Melayu ini bukan anti kemajuan. Tidak juga anti orang mencari makan. Tapi dalam tunjuk ajar Melayu, rezeki itu biar berkat. Jangan sampai perut sendiri kenyang, kampung halaman tinggal tulang. Sebab bila bakau habis, pantai terkikis, laut masuk ke darat, nanti anak cucu bertanya: “Dulu datuk buat apa?”
Malu pula kita nak jawab: “Datuk sibuk semokel, cu…”
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







