Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 22 Juli 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Melayu FIB Unilak Ikuti Pelatihan Kompetensi Calon Guru di BGTK Riau Gas Metana: Pembelajaran Berharga dari Ledakan di Grand Polonia Medan Polsek Mandau Ungkap Kasus Penyalahgunaan Ekstasi, Dua Terduga Diamankan Dukung Program P4GN Persiapan Porprov Riau 2027, KONI dan Disporapar Meranti Mulai Matangkan Persiapan Polsek Bantan Siapkan Lahan Ketahanan Pangan, Gandeng Kelompok Tani Milenial Tanam Jagung Pipil

Pekanbaru

Tegak Tiang Tonggol, LAMR Teguhkan Marwah Melayu di Usia ke-56

badge-check

Rangkaian kegiatan Milad ke-56  LAMR di Balai Adat LAMR, Pekanbaru. (Foto: ist) Perbesar

Rangkaian kegiatan Milad ke-56 LAMR di Balai Adat LAMR, Pekanbaru. (Foto: ist)

RiauKepri.com, PEKANBARU – Suasana khidmat menyelimuti Balai Rung Tenas Effendi, Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Sabtu (6/6/2026). Di tengah peringatan Hari Jadi ke-56 LAMR, prosesi sakral Tegak Tiang Tonggol Adat digelar sebagai simbol tegaknya marwah, jati diri, dan kedaulatan masyarakat Melayu.

Prosesi diawali dengan kedatangan tuan kadam dan tuan imam, yang menghadap Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Datuk Seri Marjohan dan Ketum DPH LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, yang didampingi para datuk seri dan datuk-datuk, menyampaikan kesiapan pelaksanaan Tegak Tiang Tonggol Adat.

Sejumlah perlengkapan adat seperti panji, keris, dua butir kelapa, dan payung adat turut dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian upacara.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, para hadirin menyaksikan iring-iringan panji adat yang diturunkan dari lantai dua Balai Adat, diiringi musik silat. Langkah para pembawa panji yang perlahan menuruni anak tangga seakan menghadirkan kembali jejak sejarah dan kebesaran tamadun Melayu yang diwariskan turun-temurun.

Hadir dalam helat adat tersebut Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Pemerintah Provinsi Riau yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan, Kapolda Riau yang diwakili Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, para Ketua LAMR kabupaten/kota se-Riau, pengurus LAMR, tokoh adat, serta undangan lainnya.

Tegak Tiang Tonggol Adat atau Togak Tonggol merupakan tradisi sakral masyarakat Melayu yang melambangkan tegaknya struktur kepemimpinan, hukum adat, serta kedaulatan suatu kaum. Tonggol berbentuk menyerupai panji dengan lima warna yang masing-masing memiliki makna mendalam.

Warna hitam melambangkan hukum dan aturan adat, kuning melambangkan daulat dan pemerintahan tertinggi, putih melambangkan alim ulama dan nilai agama, merah melambangkan rakyat serta hulubalang, sedangkan hijau melambangkan pemerintahan dan kemakmuran alam.

Dalam tradisi Melayu, tonggol diwariskan secara turun-temurun oleh perangkat adat seperti batin, penghulu, dan ketiapan, serta disimpan di Rumah Soko. Penegakan tonggol biasanya dilakukan dalam upacara adat besar, pelantikan datuk, maupun perayaan lembaga adat. Berdirinya tonggol menjadi penanda bahwa suatu wilayah berada dalam naungan hukum dan tatanan adat yang sah.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Marjohan Yusuf dalam petuah amanahnya menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir, mulai dari unsur pemerintah, Forkopimda, tokoh adat, tokoh masyarakat hingga pengurus dan anggota LAMR.

Menurut Datuk Seri Marjohan, prosesi Tegak Tiang Tonggol yang dilaksanakan bersempena Hari Jadi ke-56 LAMR bukan sekadar seremoni adat, melainkan simbol jati diri dan semangat masyarakat Melayu untuk terus menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.

“Tegaknya tiang tonggol melambangkan tegaknya semangat dan marwah masyarakat Melayu. Jika semangat dan marwah hilang, maka kehidupan akan kehilangan arah dan makna,” ujarnya.

Datuk Seri Marjohan menegaskan, tugas LAMR tidak hanya memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, tetapi juga menyiarkan, menjaga, dan melestarikan budaya Melayu agar tetap hidup serta diwariskan kepada generasi mendatang.
Ia mengajak masyarakat untuk terus berpegang pada prinsip adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.

Nilai adat dan agama, sambung Datuk Seri Marjohan, harus tetap menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah berbagai tantangan sosial.

Datuk Seri Marjohan juga mengingatkan pentingnya mewariskan jati diri dan marwah Melayu kepada generasi muda sebagai benteng moral dan budaya.

Menutup petuah amanahnya, Datuk Seri Marjohan mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat persatuan dan menjaga identitas Melayu sebagai warisan yang tidak ternilai.

“Walaupun tujuh laut sudah terbakar, kapal Melayu berjalan juga di dunia,” ungkap Datuk Seri Marjohan dengan suara berat menahan tangis. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rida K Liamsi Laporkan Dugaan Penipuan dan Pengalihan Aset ke Polda Riau, Sengketakan Tanah di Jalan Arifin Ahmad

20 Juli 2026 - 19:02 WIB

Empat Daerah di Riau Tuntas Bayar Gaji dan TPP ke-13, Siak Masuk Daftar Meski Dihimpit Tekanan Fiskal

20 Juli 2026 - 15:33 WIB

Di Ruang Sidang, Abdul Wahid Minta Maaf Kepada UAS: “Saya Menyeret Nama Beliau”

20 Juli 2026 - 12:16 WIB

Lewat Riau Bhayangkara Run, BRK Syariah Kampanyekan Gaya Hidup Sehat dan Literasi Keuangan Syariah

20 Juli 2026 - 10:02 WIB

Penyair Riau Bacakan Puisi Dengan Berbagai Ekspresi di Hari Raya Puisi Indonesia

19 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trending di Pekanbaru