KALAU sudah begini halnya, Wak, hendak percaya kepada siapa lagi? Orang yang diamanahkan menjaga hukum, malah tersangkut hukum. Bukan pula duit seling yang disikat, tapi sampai hitungan triliunan. Rakyat yang setiap hari menghitung uang belanja dengan jari, hanya mampu mengurut dada sambil bertanya, “Apakah keadilan sudah pindah alamat?”
Di kampung Melayu kami ada tunjuk ajar yang berbunyi, “Kalau menjadi pagar, jangan makan tanaman.” Ini pagar bukan lagi makan pucuk daun ubi, batang, akar, sampai tanah tempat tanaman tumbuh pun hampir habis dikunyahnya.
Lucunya lagi, yang paling lantang berteriak tentang bahaya korupsi, kadang-kadang justru yang paling lihai menyembunyikan karung hasil rampokan. Bak kata pepatah, maling teriak maling, supaya orang lain sibuk mengejar bayang-bayang, sementara dia berlengang kangkung membawa peti.
Kalau nenek moyang Melayu dahulu berpesan, “Lurus hati, lurus langkah,” sekarang ada pula manusia yang langkahnya lurus ke podium pidato, tapi tangannya berbelok ke laci anggaran. Mulutnya penuh petuah, sakunya penuh “amanah” yang entah dari mana datangnya.
Yang paling menyayat hati, uang yang mereka rampas bukan sekadar angka di laporan keuangan. Di situ ada hak anak yatim, ada obat orang sakit, ada jalan kampung yang berlubang, ada sekolah bocor, ada perut rakyat yang belum sempat kenyang. Koruptor tidak hanya mencuri uang, tetapi juga mencuri masa depan.
Kalau setan diberi kesempatan diwawancarai, agaknya dia pun menggeleng kepala. “Kami memang menggoda manusia,” katanya barangkali, “tapi yang satu ini sudah pandai berjalan sendiri.” Sampai-sampai setan pun bisa kehilangan pekerjaan karena muridnya lebih hebat daripada gurunya.
Orang Melayu berpesan, “Biar miskin harta, jangan miskin marwah.” Tetapi sekarang ada yang hartanya menggunung, marwahnya tinggal segenggam. Rumahnya bertingkat, tetapi harga dirinya tinggal setinggi tunggul kayu.
Yang membuat rakyat semakin bingung, pelaku korupsi itu bukan orang sembarangan. Mereka bersumpah atas nama Tuhan, berjanji di depan rakyat, lalu setelah duduk di kursi empuk, sumpah tinggal suara, jabatan menjadi ladang. Rupanya ada yang mengira sumpah jabatan itu cuma pembuka acara, bukan ikatan moral.
Lebih teruk lagi, sesudah tertangkap, masih ada yang dielu-elukan. Ada pula yang disambut seperti pahlawan pulang perang. Entah karena rakyat mudah lupa atau karena amplop lebih cepat bekerja daripada akal sehat. Padahal dalam adat Melayu, orang yang kehilangan malu, hilanglah timbang rasa, orang yang hilang amanah, hilanglah segala kemuliaan.
Mengapa korupsi tak habis-habis? Salah satu sebabnya, hukum sering terasa seperti jaring laba-laba. Lalat kecil terperangkap, kumbang besar kadang berhasil menerobos. Hukuman yang ringan membuat penjara seperti rumah singgah, bukan tempat membuat orang jera. Padahal, kalau seekor ayam mencuri segenggam padi, sekampung heboh mengejarnya. Tetapi kalau manusia mencuri uang rakyat bertriliun-triliun, prosesnya bisa berliku-liku sampai rakyat sendiri lupa awal ceritanya.
Tunjuk ajar Melayu mengingatkan, “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Amanah bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga bekal menuju akhirat. Harta yang diperoleh dengan mengkhianati rakyat mungkin dapat membeli kasur paling empuk, tetapi tak akan mampu membeli tidur yang tenang.
Jadi, Wak, kalau masih ada yang bertanya apa obat korupsi, jawabannya bukan sekadar pidato, seminar, atau spanduk di pinggir jalan. Obatnya adalah malu, iman, dan hukum yang benar-benar tajam kepada siapa pun. Sebab bila malu sudah mati dan hukum kehilangan taji, negeri ini akan terus dipenuhi maling berdasi yang pandai berpidato, sementara rakyat hanya menjadi penonton yang dipaksa bertepuk tangan.
Orang tua Melayu sudah lama berpesan, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Maka tinggallah memilih, hendak dikenang sebagai pemimpin yang menjaga amanah, atau sebagai koruptor yang membuat setan pun malu mengaku saudara.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








