Menu

Mode Gelap
Hangat dan Penuh Keakraban, Kapolda Kepri Bertemu Nelayan Jemaja dan Salurkan Bansos Adat Duduk Peduli Masyarakat Pesisir, Ditpolairud Polda Riau Laksanakan Program Jalur di Rupat Utara Menengok Program Prioritas Kementrian Pendidikan Nasional: Dari Revitalisasi Sekolah hingga Tunjangan Guru Kapolda Kepri Asep Safrudin Serap Aspirasi Nelayan dalam Jumat Curhat di Jemaja Provinsi Kepri Terbentuk Karena Perjuangan Bersama

Riau

Adat Duduk

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, kalau mike nak tahu bahwa dalam adat Melayu, duduk itu bukan sekadar melipat kaki lalu selesai perkara. Duduk itu ada ilmunya, ada marwahnya, bahkan kadang dari cara orang duduk saja, orang tua-tua dulu sudah boleh menapis perangai seseorang. Sebab itu orang Melayu berkata, “duduk beramai perangainya sopan.” Maknanya, walau pinggang pegal dan lutut berbunyi macam pintu gudang berderap, adab tetap jangan tercicir.

Paling terkenal tentulah duduk bersila, atau orang tua menyebutnya baselo. Inilah duduk lelaki Melayu sejati. Silang kaki elok-elok, tangan di lutut, muka jangan pula tegang macam hendak menagih hutang. Duduk bersila ini tanda tenang, tanda hormat, tanda kita datang bukan hendak bikin kecuh. Dari kenduri sampai musyawarah kampung, beginilah cara duduk yang paling aman dari teguran emak-emak belakang tabir.

Kalau kaum perempuan pula, adat mengajar duduk bersimpuh atau basimpuah. Kaki dilipat ke belakang, duduk dengan tertib, lembut macam bahasa gurindam dan pantun.
Orang tua dulu cakap, perempuan yang tahu bersimpuh itu ibarat bunga yang tahu menjaga kelopak.
Sekarang ini ada juga yang duduknya macam hendak “take off” di bandara, satu kaki ke sini satu ke sana. Kursi pun kadang kalah bingung melihat posisi tuannya.

Ada pula duduk bersila panggung. Ini tingkat lanjut sikit, Wak. Lutut naik sedikit, gaya nampak santai tapi masih dalam pagar adat. Biasanya dipakai orang yang sudah lama duduk mendengar pidato penghulu yang panjangnya macam musim hujan. Nak luruskan kaki takut ditegur, jadi lutut dinaikkan sedikit sebagai jalan tengah antara sopan dan keram kaki.

Lain pula duduk bertinggung alias jongkok. Ini duduk rakyat pekerja. Tukang kebun jongkok, nelayan jongkok, emak pilih sayur pun jongkok. Tapi jangan salah, jongkok orang Melayu ada seninya. Kalau terlalu lama, tumit kebas dan patah mengkarung dibuatnya. Kalau berdiri mendadak, kepala pula berpusing nampak bintang siang hari. Sebab itu jongkok jangan dibuat sombong, nanti lutut minta cerai dari badan.

Yang paling bahaya dalam majelis adat ialah duduk berlunjur atau selonjoran. Meluruskan kaki di depan orang tua itu ibarat mengibarkan bendera perang. Kecuali sakit atau uzur, jangan sesekali dibuat-buat, nyawa badan nanti.

Orang tua dulu belum sempat marah dengan mulut, mata mereka saja sudah cukup membuat kita menarik kaki balik macam terkena api. Kadang belum apa-apa sudah terdengar batuk kecil dari hujung ruangan: “ehem…” Itu kode halus Melayu, Wak. Kalau tak faham juga, memang layak kena sungut santak ke Maghrib.

Dalam Islam pun duduk ada adabnya. Duduk iftirasy dan tawarruk misalnya, diajar dalam shalat. Ini tanda bahwa agama dan adat memang berjalan seiring. Orang Melayu lama bukan sekadar pandai menyilang kaki, tapi tahu kapan duduk untuk ibadah dan kapan duduk untuk bermusyawarah. Semua ada tempatnya, semua ada tertibnya.

Satu lagi yang sering kena tegur ialah duduk bertopang dagu. Nampak memang macam orang sedang berpikir berat tentang masa depan negeri. Padahal kadang yang dipikir cuma, “habis ini makan apa?” Dalam tunjuk ajar Melayu, bertopang dagu sering dikaitkan dengan malas dan lemah semangat. Sebab itu orang tua dulu pantang melihat anak muda duduk begitu lama-lama. Belum sempat melamun jauh, sudah disuruh bangun cari kayu bakar.

Hakikatnya, Wak, adat duduk ini bukan hendak menyusahkan lutut manusia. Tapi mengajar bahwa tubuh pun ada bahasa. Cara kita duduk menunjukkan cara kita menghormati orang. Kalau duduk sudah macam sotong terdampar, orang pun susah hendak melihat kita sebagai manusia beradat.

Akhirnya, orang Melayu mengajar: di mana bumi dipijak, di situ adab ditegakkan. Duduk boleh macam-macam, tapi perangai jangan terjungkal. Sebab kadang orang bukan ingat apa yang kita cakap, tapi ingat bagaimana kita duduk ketika bercakap.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menengok Program Prioritas Kementrian Pendidikan Nasional: Dari Revitalisasi Sekolah hingga Tunjangan Guru

16 Mei 2026 - 07:13 WIB

Provinsi Kepri Terbentuk Karena Perjuangan Bersama

16 Mei 2026 - 06:41 WIB

Dari Byzantium, Konstantinopel hingga Istanbul

16 Mei 2026 - 00:10 WIB

Bantah Jual Pupuk, Ketua KWT Gamar Sejahtera Kini Diduga Jual Mesin Rumput

15 Mei 2026 - 20:57 WIB

Bupati Siak Jajaki Pendirian UNU Pertama di Riau dan Sekolah Rakyat di Mempura

15 Mei 2026 - 08:25 WIB

Trending di Nasional