Menu

Mode Gelap
Indratno Atan Secara Aklamasi Terpilih Sebagai Ketua Boat Pancung Desa Sungai Buluh Empat Rumah Hilang ke Sungai, Warga Kuala Enok Bertahan di Tengah Ancaman Longsor Novel Sejarah “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris” Akan Dibedah di Pekanbaru, Kuota Peserta Tinggal 20 Kursi Bhabinkamtibmas Polsek Tebingtinggi Cek Ketahanan Pangan Masyarakat Sambut 1 Muharam 1448 H, Pemdes Ulu Maras Gelar Doa Bersama di Masjid Al-Munawwarah Aneng dan Raja Bayu Serahkan Bantuan Misi Kemanusiaan Vega 1892 kepada Masyarakat Desa Telaga

Pekanbaru

Tegak Tiang Tonggol, LAMR Teguhkan Marwah Melayu di Usia ke-56

badge-check


					Rangkaian kegiatan Milad ke-56  LAMR di Balai Adat LAMR, Pekanbaru. (Foto: ist) Perbesar

Rangkaian kegiatan Milad ke-56 LAMR di Balai Adat LAMR, Pekanbaru. (Foto: ist)

RiauKepri.com, PEKANBARU – Suasana khidmat menyelimuti Balai Rung Tenas Effendi, Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Sabtu (6/6/2026). Di tengah peringatan Hari Jadi ke-56 LAMR, prosesi sakral Tegak Tiang Tonggol Adat digelar sebagai simbol tegaknya marwah, jati diri, dan kedaulatan masyarakat Melayu.

Prosesi diawali dengan kedatangan tuan kadam dan tuan imam, yang menghadap Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Datuk Seri Marjohan dan Ketum DPH LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, yang didampingi para datuk seri dan datuk-datuk, menyampaikan kesiapan pelaksanaan Tegak Tiang Tonggol Adat.

Sejumlah perlengkapan adat seperti panji, keris, dua butir kelapa, dan payung adat turut dihadirkan sebagai bagian dari rangkaian upacara.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, para hadirin menyaksikan iring-iringan panji adat yang diturunkan dari lantai dua Balai Adat, diiringi musik silat. Langkah para pembawa panji yang perlahan menuruni anak tangga seakan menghadirkan kembali jejak sejarah dan kebesaran tamadun Melayu yang diwariskan turun-temurun.

Hadir dalam helat adat tersebut Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Pemerintah Provinsi Riau yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan, Kapolda Riau yang diwakili Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, para Ketua LAMR kabupaten/kota se-Riau, pengurus LAMR, tokoh adat, serta undangan lainnya.

Tegak Tiang Tonggol Adat atau Togak Tonggol merupakan tradisi sakral masyarakat Melayu yang melambangkan tegaknya struktur kepemimpinan, hukum adat, serta kedaulatan suatu kaum. Tonggol berbentuk menyerupai panji dengan lima warna yang masing-masing memiliki makna mendalam.

Warna hitam melambangkan hukum dan aturan adat, kuning melambangkan daulat dan pemerintahan tertinggi, putih melambangkan alim ulama dan nilai agama, merah melambangkan rakyat serta hulubalang, sedangkan hijau melambangkan pemerintahan dan kemakmuran alam.

Dalam tradisi Melayu, tonggol diwariskan secara turun-temurun oleh perangkat adat seperti batin, penghulu, dan ketiapan, serta disimpan di Rumah Soko. Penegakan tonggol biasanya dilakukan dalam upacara adat besar, pelantikan datuk, maupun perayaan lembaga adat. Berdirinya tonggol menjadi penanda bahwa suatu wilayah berada dalam naungan hukum dan tatanan adat yang sah.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Marjohan Yusuf dalam petuah amanahnya menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir, mulai dari unsur pemerintah, Forkopimda, tokoh adat, tokoh masyarakat hingga pengurus dan anggota LAMR.

Menurut Datuk Seri Marjohan, prosesi Tegak Tiang Tonggol yang dilaksanakan bersempena Hari Jadi ke-56 LAMR bukan sekadar seremoni adat, melainkan simbol jati diri dan semangat masyarakat Melayu untuk terus menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.

“Tegaknya tiang tonggol melambangkan tegaknya semangat dan marwah masyarakat Melayu. Jika semangat dan marwah hilang, maka kehidupan akan kehilangan arah dan makna,” ujarnya.

Datuk Seri Marjohan menegaskan, tugas LAMR tidak hanya memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, tetapi juga menyiarkan, menjaga, dan melestarikan budaya Melayu agar tetap hidup serta diwariskan kepada generasi mendatang.
Ia mengajak masyarakat untuk terus berpegang pada prinsip adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.

Nilai adat dan agama, sambung Datuk Seri Marjohan, harus tetap menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tengah berbagai tantangan sosial.

Datuk Seri Marjohan juga mengingatkan pentingnya mewariskan jati diri dan marwah Melayu kepada generasi muda sebagai benteng moral dan budaya.

Menutup petuah amanahnya, Datuk Seri Marjohan mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat persatuan dan menjaga identitas Melayu sebagai warisan yang tidak ternilai.

“Walaupun tujuh laut sudah terbakar, kapal Melayu berjalan juga di dunia,” ungkap Datuk Seri Marjohan dengan suara berat menahan tangis. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Empat Rumah Hilang ke Sungai, Warga Kuala Enok Bertahan di Tengah Ancaman Longsor

17 Juni 2026 - 15:09 WIB

Novel Sejarah “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris” Akan Dibedah di Pekanbaru, Kuota Peserta Tinggal 20 Kursi

17 Juni 2026 - 15:01 WIB

Wako Pekanbaru dan Bupati Kuansing Akan Terima JMSI Riau Award 2026, HUT ke-6 JMSI Dimeriahkan Baca Puisi

17 Juni 2026 - 09:18 WIB

Ambil Momen Tahun Baru Islam, Siaran LAMR-RRI Mengudara

16 Juni 2026 - 17:53 WIB

Polda Riau Sita 15 Motor dan 3 Mobil Hasil Kejahatan

15 Juni 2026 - 19:02 WIB

Trending di Pekanbaru