Menu

Mode Gelap
Ketika Kejujuran dan Ketulusan Dianggap Kebodohan Tunjuk Ajar Durian Kapal Harimau Buas Siak Gaungkan Spirit Al-Qur’an dan Warisan Kesultanan di MTQ Riau Robot Rama Sahabat Kami, Jam Pintar, dan Paper Wash Telang: Solusi Kreatif dan Inovatif Mendukung Sekolah Ramah Anak di SD Negeri 65 Pekanbaru Riau Dari Tipidkor ke Kapolres: Rekam Jejak Karir Kapolres Meranti ke-10 KKP Lakukan Survei Topografi, Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Jemaja Timur Masuki Tahap Awal

Minda

Tunjuk Ajar Durian

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

SEKARANG musim durian, Wak. Mulailah orang kampung kami sibuk tengok batang durian. Pagi-pagi, belum lagi ayam berkokok, sudah ada yang terconggok di pondok, bawah pokok sambil membawa lampu suluh, tikar, termos kopi, dan muka penuh harapan.

Bagi orang Melayu di Riau, durian bukan sekadar buah. Durian itu guru kehidupan. Sejak dari putik sampai gugur, semua ada tunjuk ajarnya.

Bunga durian yang tak jadi buah pun jangan dipandang sebelah mata. Ia sedap dibuat gulai. Orang tua-tua dulu berpesan, “Kalau hidup tak menjadi raja, jangan pula merajuk jadi bunga durian. Sekurang-kurangnya masih boleh masuk dalam periuk.”

Kalau musim berbunga, keluang dari tanah raya pun datang beramai-ramai mengisap madu. Keluang ini bijak, Wak. Dia tahu mana yang manis. Cuma manusia kadang-kadang saja yang susah membedakan mana yang manis, mana yang manis di mulut tapi pahit di belakang.

Isi durian pula banyak ragam namanya. Ada yang dipanggil mentimun air. Buahnya besar, tapi isi tipis. Orang kampung selalu menyindir, “Jangan jadi macam durian mentimun air, besar bunyi tapi isi tak seberapa.” Sindiran ini biasanya ditujukan kepada orang yang banyak berjanji masa pemilihan, tapi selepas menang, bayangnya pun susah dicari.

Ada pula durian daging ayam. Isinya sudah mulai elok, tebal dan sedap. Ini ibarat anak muda Melayu yang sudah mulai matang. Belum tua benar, tapi sudah tahu membedakan antara nasihat emak dengan bisikan kawan yang baru kenal seminggu.

Dalam proses masak, ada istilah membuang buruk. Durian gugur, kulitnya elok, baunya semerbak, tapi bila dibuka, isinya busuk. Orang tua-tua selalu mengingatkan, “Jangan tertipu oleh kulit.” Sebab dalam hidup ini, ada orang bersongkok tinggi, berbaju licin, bercakap lembut, tetapi perangainya lebih buruk daripada durian membuang buruk.

Ada pula durian mangko. Gugurnya cepat, tapi isinya keras dan tawar. Ini macam budak sekarang yang baru dua hari belajar silat sudah mahu dipanggil pendekar, baru seminggu bekerja sudah minta pensiun.

Orang Melayu juga ada pantang larang tentang durian. Jangan dipukul pangkal pokok dengan batang beremban. Kalau dibuat begitu, putik durian akan gugur. Artinya, rezeki bukan lari lagi tapi pugat.

Falsafahnya mudah, Wak. Dalam hidup pun begitu. Jangan kasar terhadap sumber rezeki. Jangan melawan orang tua, jangan menyakiti hati guru, jangan mengkhianati sahabat, dan jangan lupa asal-usul. Kalau itu dibuat, bukan durian saja yang gugur, berkat pun ikut kedebab.

Jadi Wak, pada fisit durian juga ada filsafah. Kulit durian yang berduri mengajarkan kita supaya kuat menghadapi tantangan. Isinya yang lembut dan manis mengingatkan bahwa kesenangan memerlukan kesabaran.

Membelah durian pula perlu ikut urat atau ruasnya, tidak boleh dipaksa. Sama seperti mendidik anak dan membina rumah tangga, kalau main paksa, yang rusak bukan kulit, tetapi isinya.

Paling penting, durian mengajarkan tentang kebersamaan. Tak pernah kami jumpa orang kampung makan durian seorang diri di dalam kamar sambil memakai fon telinga. Durian mesti dimakan beramai-ramai. Sebab itulah orang Melayu berkata, “Kalau ada durian setangkai, panggillah tetangge, kalau makan seorang diri, alamat esok orang kampung cakap kita sudah lupa daratan.”

Maka, selama durian masih gugur di dusun, selama itu jugalah tunjuk ajar Melayu akan terus hidup. Cuma sekarang ini, yang ditakutkan bukan durian tak gugur, tetapi orang yang sudah kenyang makan durian, lupa membawa pulang kulitnya. Akhirnya kambing jiran pula yang jadi mangsa.

Begitulah, Wak. Durian boleh habis semusim, tetapi tunjuk ajar yang terkandung di dalamnya, elok disimpan sepanjang hayat.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Kejujuran dan Ketulusan Dianggap Kebodohan

28 Juni 2026 - 06:52 WIB

Kapal Harimau Buas Siak Gaungkan Spirit Al-Qur’an dan Warisan Kesultanan di MTQ Riau

28 Juni 2026 - 05:40 WIB

Robot Rama Sahabat Kami, Jam Pintar, dan Paper Wash Telang: Solusi Kreatif dan Inovatif Mendukung Sekolah Ramah Anak di SD Negeri 65 Pekanbaru Riau

27 Juni 2026 - 15:03 WIB

Politik Nonagama

27 Juni 2026 - 07:49 WIB

Sentuhan Humanis Polairud Polda Riau di Pesisir Siak: Salurkan Sembako hingga Bibit Pohon Lewat Program JALUR

26 Juni 2026 - 22:52 WIB

Trending di Riau