Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Senin, 13 Juli 2026: Tanjungpinang hingga Anambas Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Kadishub Tersandung Hukum, Sekda Ingatkan ASN Siak Pesan Bupati Haul Sultan Siak Jadi Ruang Merawat Ingatan, Afni Ajak Generasi Muda Tak Lupakan Sejarah Polda Riau Juara Umum Kejurnas Taekwondo Kapolri Cup 7, Personel Polres Meranti Sumbang Emas Seniman Dulu Ketua TP PKK Kabupaten Bintan Hadiri Puncak HKG PKK ke-54 Tingkat Nasional di Makassar

Minda

Seniman Dulu

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DULU Wak, di Riau tanah Melayu ini, kalau nak mengaku seniman, bukan semudah mengaku lapar di kenduri. Baru sebut, “Saya ni seniman,” belum sempat tarik napas, yang tua-tua sudah menyulut rokok daun nipah sambil bertanya perlahan, “Baiklah, mana karya dikau?”

Kalau jawabannya masih mutar macam kipas angin rusak, alamat cepat-cepat cari alasan nak balik. Sebab di zaman itu, mengaku seniman tanpa karya, ibarat mengaku nelayan tapi takut gelombang.

Kalau berani duduk semeja dengan almarhum Idrus Tintin, almarhum Pak Cik BM Syamsudin, almarhum Bang Edi Ruslan dan para pendekar seni Riau lainnya, jangan harap mereka bertanya berapa ramai pengikut di media sosial. Yang mereka tanya cuma satu, “Apa yang sudah dikau hasilkan?”

Kalau belum ada puisi, cerpen, lukisan, naskah teater atau lagu, lebih elok duduk di warung sebelah dulu sambil makan pisang goreng. Bukan mereka sombong, tetapi adat Melayu mengajar, marwah itu ditegakkan oleh hasil, bukan oleh pengakuan.

Dulu, kalau puisi naik di Mingguan Riau Pos, dada mulai lebo sikit. Kalau tembus Majalah Horison, orang kampung mula berbisik, “Budak ni ada isinya.” Kalau sampai dimuat Kompas, barulah orang tua-tua mengangguk sambil menyebut, “Ha, sekarang bolehlah dia duduk bersama.”

Begitulah adabnya. Saya sendiri pernah berkumpul di Gedung Dewan Kesenian Riau di Dang Merdu. Ramai seniman bermarkas di Teater Arena. Tapi saya? Duduk di tepi saja. Bukan sebab tak ada kursi, tetapi sado diri. Karya belum banyak, ilmu masih secawan kopi.

Sampailah suatu hari Pak Cik BM Syamsudin mencabar, “Kalau benar kau anak muzik, buktikan!” Cabaran itu bukan penghinaan. Dalam adat Melayu, orang tua mencabar bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menaikkan darjat anak muda.

Lalu saya diberi kesempatan tampil di Teater Arena. Saya membentuk kumpulan musik Boedak-Boedak Kecuh. Bermain bersama kawan dari Kanada dan Amerika. Waktu itu asap Karhutla menyelimuti Riau, dan lahirlah lagu Silsilah Asap, yang menjadi bagian dari pertunjukan musikalisasi puisi Tersebab Aku Melayu karya Taufik Ikram Jamil.

Sejak itulah saya mulai diterima. Bukan kerana pandai bercakap, tetapi kerana sudah ada yang boleh dipertanggungjawabkan.
Sekarang, lain pula ceritanya. Baru pandai pegang gitar tiga hari, sudah tulis biodata: “Seniman Nasional.” Baru beli kuas lima batang, terus sibuk mencari siapa yang mahu melukis wajahnya. Baru sekali baca puisi di kafe, videonya diputar tujuh belas kali sehari. Esok pagi statusnya berbunyi, “Terus berkarya demi peradaban.”

Yang lebih lucu, puisinya dimuat di media miliknya sendiri, penyuntingnya dirinya sendiri, yang memuji dirinya sendiri, kemudian dishare pula ke semua grup WhatsApp. Lepas itu menunggu orang memanggilnya maestro.

Ada pula yang belum sempat menghasilkan karya, sudah sibuk mengatur-ngatur karya orang lain. Belum pandai berenang, sudah mau mengajar buaya menyelam.

Dalam adat Melayu ada tunjuk ajar: Padi makin berisi makin tunduk, tempayan kosong bunyinya paling kuat. Seniman sejati tidak lahir dari baju hitam, syal batik atau kopi pahit yang dipegang ketika diskusi. Seniman sejati lahir dari peluh, latihan, kegagalan, kesabaran dan karya yang sanggup diuji zaman.

Kerana itu, janganlah terlalu cepat menabalkan diri. Biarlah orang yang menyebut kita seniman, jangan kita sendiri yang berteriak sampai satu kampung. Sebab gelar boleh dibuat sehari, tetapi karya yang hidup puluhan tahun hanya lahir dari jiwa yang jujur.

Bagi seorang seniman, nama itu bukan ditulis pada kartu nama, tetapi diukir oleh karya yang tetap hidup walaupun tuannya sudah lama tiada.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kadishub Tersandung Hukum, Sekda Ingatkan ASN Siak Pesan Bupati

12 Juli 2026 - 20:24 WIB

Menepis Bayang-Bayang Pendapat Orang

12 Juli 2026 - 08:01 WIB

Rida K Liamsi akan Mengambil kembali Semua Saham Atas Namanya di Lingkungan Riau Pos Grup

11 Juli 2026 - 20:12 WIB

Bupati Afni Lantik Pengurus KTNA, Serahkan Bantuan Alsintan Hampir Rp15 Miliar

11 Juli 2026 - 13:39 WIB

Setan Malu

11 Juli 2026 - 06:14 WIB

Trending di Minda