Menu

Mode Gelap
BRK Syariah Salurkan CSR Rp30 Juta untuk Masjid Al-Jama’ah pada Safari Ramadan Pemprov Riau di Inhil Prakiraan Cuaca Kepri Ahad, 8 Maret 2026: Sebagian Wilayah Berpotensi Hujan Ringan hingga Sedang BRK Syariah Gaungkan Literasi Keuangan Syariah Lewat GERAK Syariah 2026 di Pekanbaru Bupati dan Wabup Siak Jadi Amil Zakat, Terima Langsung Zakat dari Muzakki Safari Ramadan Kecamatan Jemaja Digelar di Pulau Darak, Warga Air Biru Sampaikan Terima Kasih Malu Melayu

Minda

Mengarungi Jejak Ibadah Haji

badge-check


					Azmi bin Rozali. F: Dok Perbesar

Azmi bin Rozali. F: Dok

Oleh Azmi bin Rozali

Tiap tahun, ketika bulan Dzulhijjah menjelang, langit Nusantara dipenuhi harapan dan air mata haru. Dari Sabang sampai Merauke, umat Islam bersiap menunaikan rukun Islam kelima: haji.

Tahun ini, lebih dari 241.000 jamaah haji Indonesia bertolak ke Tanah Suci. Jumlah ini terdiri dari 221.000 jamaah reguler dan 20.000 jamaah haji khusus. Mereka akan membelah langit menuju dua kota suci umat Islam: Mekkah dan Madinah, dalam rangka memenuhi panggilan abadi: labbaik Allahumma labbaik.

Dua Kota Suci, Dua Cahaya Ilahi

Mekkah dan Madinah bukan sekadar kota di peta geografis; keduanya adalah poros spiritual umat Islam. Di Mekkah, terletak Masjidil Haram, tempat berdirinya Ka’bah—kiblat yang mempersatukan arah shalat miliaran Muslim di dunia. Di Madinah, berdiri Masjid Nabawi, tempat makam Rasulullah SAW berada, yang juga menjadi pusat penyebaran risalah Islam pasca hijrah.

Bagi para jamaah, berada di dua kota suci ini adalah karunia yang tak ternilai. Terlebih karena di dalamnya terdapat dua masjid yang keutamaannya disebut langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sabda beliau yang masyhur menyatakan:
“Shalat di Masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani)

Satu rakaat shalat di Masjidil Haram menyamai seratus ribu rakaat di tempat lain. Satu rakaat di Masjid Nabawi menyamai seribu. Maka betapa berharganya setiap detik ibadah di sana, betapa agungnya pahala bagi siapa yang bersujud dengan khusyuk dan penuh cinta kepada Tuhannya.

Rukun dan Wajib Haji: Pilar Ketaatan

Namun haji tidak hanya soal ruang dan waktu yang istimewa. Ia juga tentang proses, tentang rangkaian ibadah yang sarat makna simbolik dan historis. Dalam fiqh, ibadah haji memiliki lima rukun yang tidak boleh ditinggalkan:

Pertama – Niat (ihram) dari miqat sebagai tanda masuknya seseorang ke dalam ibadah haji.

Kedua – Wukuf di Arafah, yang disebut sebagai inti haji.

Ketiga – Thawaf Ifadhah, mengelilingi Ka’bah setelah wukuf.

Keempat – Sa’i, berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah, mengenang perjuangan Hajar.

Kelima – Tahallul, mencukur rambut sebagai simbol penyucian dan pelepasan ego.

Selain itu, terdapat amalan yang tergolong wajib haji, seperti mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, serta thawaf wada’ sebelum meninggalkan Mekkah. Kewajiban ini, jika ditinggalkan, harus dibayar dengan dam (denda).

Ibadah haji bukanlah rutinitas teknis belaka. Ia adalah bentuk totalitas kepatuhan. Nabi Ibrahim AS bersedia menyembelih anaknya, Ismail, bukan karena logika, tapi karena perintah. Maka haji adalah momen di mana rasionalitas kita tunduk pada ketaatan spiritual. Jamaah pun dilatih untuk bersabar, tawadhu, dan melebur dalam kebersamaan umat.

Haji: Sekolah Jiwa dan Kebangsaan

Ibadah haji adalah ibadah sosial. Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, manusia dari berbagai bangsa berkumpul dalam pakaian serba putih—tanpa jabatan, tanpa kasta. Semua menyatu dalam lautan tauhid.

Di sana, seorang profesor duduk sejajar dengan petani, pejabat berdampingan dengan tukang becak. Tak ada sekat. Tak ada status. Yang membedakan hanyalah taqwa.

Menurut Dr. Salim Segaf Al-Jufri, haji adalah momentum pendidikan ruhani. “Haji adalah pembersihan jiwa secara menyeluruh. Ia bukan hanya menyucikan tubuh dan pakaian, tetapi juga pikiran dan perasaan,” ujar beliau dalam salah satu ceramahnya. Beliau juga menegaskan bahwa haji adalah ibadah kolektif yang mengajarkan persaudaraan dan perdamaian antarumat.

KH. Mustofa Bisri mengingatkan bahwa haji sejati adalah mereka yang sepulang dari Mekkah semakin bersahaja dan menyejukkan. “Kalau pulang dari haji justru tambah arogan, maka itu bukan haji yang mabrur, tapi hanya wisata religius,” katanya dalam satu wawancara.

Pesan untuk Jamaah Haji Indonesia

Untuk para jamaah haji Indonesia yang kini tengah bersiap di tanah air atau telah sampai di Mekkah dan Madinah, kami titipkan harap: jagalah niat agar tetap lurus. Jangan bawa ego dalam koper. Buanglah riya sebelum berangkat. Tanggalkan segala bentuk pamer. Bawalah hati yang bersih, pikiran yang terbuka, dan semangat untuk kembali sebagai manusia yang lebih suci.

Gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk memperbanyak shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Jangan sia-siakan satu rakaat pun. Di saat orang lain berlomba mengejar diskon belanja oleh-oleh, kejarlah pahala yang abadi di sisi Tuhan.

Dan ingatlah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka perbanyaklah doa, amal, dan istighfar selama di Tanah Suci. Jadikan ibadah ini sebagai titik balik kehidupan, bukan hanya status sosial di masyarakat.

Haji Bukan Akhir, Tapi Awal

Ibadah haji bukan akhir perjalanan spiritual, melainkan awal kehidupan yang lebih dekat kepada Allah. Bagi umat Islam di Indonesia, jamaah haji bukan sekadar duta agama, tapi juga teladan moral di tengah masyarakat. Mereka adalah cahaya yang kembali ke kampung halaman untuk menerangi sekitarnya dengan akhlak dan keteladanan.

Semoga Allah menerima semua amal ibadah para jamaah. Semoga mereka pulang dalam keadaan sehat, selamat, dan membawa haji yang mabrur, serta menjadi inspirasi bagi jutaan Muslim lainnya di tanah air. *

Penulis adalah coach dan trainer nasional, pernah 3 periode menjabat anggota DPRD kabupaten Bengkalis 2004-2019.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Malu Melayu

7 Maret 2026 - 10:16 WIB

Chokepoint Dunia: Selat Hormuz dan Ancaman Krisis Energi Global

2 Maret 2026 - 10:27 WIB

Hidung Melayu

1 Maret 2026 - 11:16 WIB

…dari Gajah

28 Februari 2026 - 12:09 WIB

​Infaq, Antara Kemuliaan Niat dan Etika Kebijakan Publik

25 Februari 2026 - 05:53 WIB

Trending di Minda