Menu

Mode Gelap
Robot Rama Sahabat Kami, Jam Pintar, dan Paper Wash Telang: Solusi Kreatif dan Inovatif Mendukung Sekolah Ramah Anak di SD Negeri 65 Pekanbaru Riau Dari Tipidkor ke Kapolres: Rekam Jejak Karir Kapolres Meranti ke-10 KKP Lakukan Survei Topografi, Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Jemaja Timur Masuki Tahap Awal Jumat ASRI Jemaja Timur Libatkan Forkopimcam, Warga, dan Mahasiswa KKN UGM Bersihkan Lingkungan Desa Bukit Padi Camat Siantan Hadiri Buka Puasa Asyura dan Santunan Anak Yatim, Apresiasi Kepedulian Majelis Taklim Istiqomah HNSI Jemaja dan Kapolsek Perkuat Sinergi, Nelayan Diimbau Waspada Musim Angin Selatan

Riau

LAMR: Sejarah Nasional Sebaiknya Ditulis Dari Daerah, Ini Alasannya

badge-check


					Taufik Ikram Jamil. F: Dok Perbesar

Taufik Ikram Jamil. F: Dok

RiauKepri.com, PEKANBARU- Penulisan sejarah nasional idealnya diserahkan kepada daerah. Pasalnya, konstruksi kebangsaan Indonesia lahir dari semangat desentralisasi, akal budi yang menyatu dari berbagai penjuru nusantara. Dengan pendekatan ini, sejarah tak lagi tercecer dan bisa ditulis lebih utuh dari akar budayanya.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau (DPH LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, Rabu (28/5/2025), menanggapi rencana Kementerian Kebudayaan yang akan meluncurkan penulisan ulang sejarah nasional pada Agustus mendatang.

Isu penulisan ulang sejarah nasional memang telah berulang kali disampaikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, termasuk dalam rapat bersama Komisi X DPR RI awal pekan ini.

Menurut Datuk Seri Taufik, pendekatan sejarah nasional selama ini terlalu berpusat di Jakarta dan kurang menggali narasi dari daerah. “Sejarah kita sering dilihat dari sudut pandang pusat dengan pendekatan geopolitik modern, padahal yang lebih tepat adalah pendekatan geobudaya,” ungkap Datuk Seri Taufik.

Riau, misalnya, punya banyak catatan penting yang nyaris tak tersentuh dalam sejarah nasional. Pada abad ke-15 saja, wilayah ini sudah berkali-kali melakukan perlawanan terhadap penjajahan Eropa. Bahkan di masa agresi militer kedua, lebih dari 2.000 warga Riau menjadi korban pembantaian akibat konflik yang dipicu perebutan ladang minyak.

Belum lagi peristiwa diplomatik besar, di daerah ini pernah terjadi pertemuan tiga negara dalam upaya mendamaikan Indonesia dan Belanda. Bahkan menurut riset UGM tahun 2019, peradaban di wilayah ini telah ada sejak 10.000 hingga 400.000 SM.

“Semua itu sering kali luput dari narasi nasional. Padahal jika ditulis oleh daerahnya sendiri, kisah-kisah seperti ini bisa diangkat lebih utuh dan kontekstual,” ujar Datuk Seri Taufik.

Ia mencontohkan serangan Siak dan Bengkalis ke Melaka tahun 1512. Menurutnya, peristiwa tersebut seharusnya tidak dibaca dengan kacamata nasionalisme modern, tetapi dalam kerangka sejarah kemaharajaan Melayu.

Datuk Seri Taufik menyarankan agar Kementerian Kebudayaan tidak mengambil alih seluruh proses penulisan sejarah, melainkan berperan sebagai fasilitator dan koordinator nasional. Pemerintah bisa memberikan kerangka penulisan, sistem pengawasan, dan mekanisme penyelarasan antar daerah.

“Barulah itu sejalan dengan semangat hidup berbangsa dalam negara kesatuan yang menghargai keragaman dan akar sejarah lokal,” ujar Datuk Seri Taufik. (RK3)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Robot Rama Sahabat Kami, Jam Pintar, dan Paper Wash Telang: Solusi Kreatif dan Inovatif Mendukung Sekolah Ramah Anak di SD Negeri 65 Pekanbaru Riau

27 Juni 2026 - 15:03 WIB

Politik Nonagama

27 Juni 2026 - 07:49 WIB

Sentuhan Humanis Polairud Polda Riau di Pesisir Siak: Salurkan Sembako hingga Bibit Pohon Lewat Program JALUR

26 Juni 2026 - 22:52 WIB

Haris Kampai Tetapkan Hariyanto Karim jadi Sekretaris PT SPR

26 Juni 2026 - 13:46 WIB

Rektor UIN Suska Riau Sambut Baik Kerja Sama dengan IKADI Riau, Perkuat Pengabdian untuk Masyarakat

25 Juni 2026 - 22:28 WIB

Trending di Riau