Di tengah gegap gempita kota yang tak pernah tidur, seorang pria muda berdiri di atas van tua dengan mikrofon di tangan. Di sekelilingnya, orang-orang menoleh, sebagian tertawa, sebagian bertepuk tangan. Gaya bicaranya cepat, liris, dan penuh semangat. Tidak tampak seperti politisi konvensional, tapi di sanalah ia berdiri, Zohran Mamdani, calon Wali Kota New York yang sedang mengguncang peta politik Amerika.
Zohran bukan nama asing bagi warga Queens. Sejak 2020, ia duduk di kursi Majelis Negara Bagian New York, mewakili distrik 36. Ia menjadi salah satu tokoh kunci dalam gelombang progresif muda yang mendorong agenda-agenda sosial radikal: perumahan terjangkau, transportasi gratis, layanan publik tanpa diskriminasi, dan anggaran yang berpihak pada rakyat kecil. Siapa sangka, sebelum jadi politisi, Zohran adalah seorang rapper jalanan dengan nama panggung “Mr. Cardamom.”
Lahir di Kampala, Uganda, tahun 1991, dari pasangan akademisi terkemuka Mahmood Mamdani dan sutradara kenamaan Mira Nair, Zohran tumbuh di persimpangan budaya. Ketika ia masih kecil, keluarganya pindah ke Amerika Serikat. Di Bronx High School of Science, dan kemudian Bowdoin College, ia mulai merumuskan identitasnya sebagai Muslim, imigran, dan aktivis.
Politik bukan jalur awalnya. Ia sempat bekerja sebagai konselor kredit bagi warga yang terjerat utang, sembari aktif di komunitas musik bawah tanah New York. Lewat rap dan spoken word, ia bicara tentang diaspora, Islamofobia, dan krisis ekonomi. Musik menjadi ruang katarsis, tetapi tak cukup untuk mengubah sistem. “Aku butuh masuk ke ruang kebijakan,” katanya dalam satu wawancara. “Kalau tidak, kita hanya akan terus menulis puisi di reruntuhan.”
Tahun 2020, Mamdani mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York dan menang, mengalahkan petahana yang telah lama menjabat. Ia membawa semangat kampanye akar rumput tanpa dana korporasi, tanpa kompromi politik. Ia bicara langsung pada rakyat, mengetuk pintu rumah demi rumah, menyapa dalam berbagai bahasa.
Agenda politiknya tak biasa: “rent freeze” (pembekuan sewa), bus gratis, toko grosir milik publik, upah minimum $30 per jam. Dalam banyak hal, ia seperti perwujudan mimpi demokratisasi sosial ala Bernie Sanders atau Alexandria Ocasio-Cortez, namun dengan perspektif Global South yang lebih tajam.
Memasuki tahun 2025, Mamdani membuat langkah mengejutkan: mencalonkan diri sebagai Wali Kota New York. Lawan utamanya adalah mantan gubernur ternama, Andrew Cuomo. Namun siapa sangka, Mamdani berhasil menang di putaran pertama pemilu primer dengan strategi kampanye digital, teatrikal, dan populis yang kuat.
Ia menempuh jalan yang tak mulus. Lawan-lawan politik menuduhnya “komunis Muslim”, terutama karena sikap pro Palestina yang ia nyatakan terang-terangan. Dalam satu unjuk rasa, ia enggan mengecam slogan “Globalize the Intifada” yang dianggap sebagian kalangan sebagai radikal. Tapi Mamdani bergeming. “Saya Muslim. Saya tahu artinya jadi minoritas. Tapi saya juga warga New York. Dan saya tahu kota ini bisa lebih adil.”
Jika terpilih, Mamdani akan menjadi Wali Kota Muslim, Asia Selatan, dan progresif pertama di sejarah New York. Tetapi yang lebih penting, ia membawa gagasan baru tentang siapa yang berhak memimpin kota. Ia tidak datang dari dinasti politik. Ia bukan miliarder real estate. Ia bukan alumni Ivy League yang bermain aman. Ia anak muda dari diaspora, seniman, aktivis, sekaligus penyintas sistem. Ia mewakili generasi baru warga kota yang marah, terpinggirkan, namun penuh harap.
Dalam salah satu kampanyenya, Mamdani berkata, “Aku tahu rasa lapar. Aku tahu sulitnya sewa rumah. Aku tahu bagaimana rasanya tak punya suara. Tapi aku juga tahu, kita bisa ubah itu semua, kalau kita berani bermimpi.” Dan malam itu, di jantung kota yang gemerlap, suara Zohran Mamdani menggema. Bukan hanya sebagai calon wali kota, tetapi sebagai simbol harapan bahwa New York bisa berubah dari bawah, oleh mereka yang selama ini dibungkam.
(Dikutip dari berbagai sumber internet oleh Hang Kafrawi)








