Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Ragam

M. Diah: Pendidik Yang Tak Tertarik Politik

badge-check


					Prof. Dr. H. Mohammad Diah, M.Ed. Perbesar

Prof. Dr. H. Mohammad Diah, M.Ed.

KUANTAN SINGGINGI sejak dulu di Riau dikenal sebagai “gudang” penghasil para tenaga pendidik, politisi, dan birokrat andal di Riau. Keberadaan tokoh penting asal Kuantan Singingi di pucuk jabatan eksekutif, legislatif maupun pimpinan utama lembaga pendidikan formal di lingkup Perguruan Tinggi di Riau melengkapi “simbol” Kuantan Singingi penghasil orang hebat sejak dulu.

Salah satu putra terbaik Kuantan Singingi yang meraih jabatan pimpinan utama lingkup Perguruan Tinggi di Riau adalah Prof. Dr. H. Mohammad Diah, M.Ed. Pendidik yang tak tertarik terjun di dunia politik ini pernah menjabat rektor di dua perguruan tinggi berbeda di Riau. Yakni Universitas Riau (Unri) dan Universitas Muhammadiyah (Umri).

M. DIAH adalah tokoh yang berperan dalam memajukan pendidikan di Riau. Dilahirkan pada 10 Mei 1936 Desa Teluk Pauh, Kecamatan Pangean, Kuantan Singingi.

M. Diah merupakan anak keempat dari enam bersaudara pasangan Zainuddin dan Syofia. Kakaknya Risun, Jura dan Samsinar. Sedangkan adiknya adalah Dahlian dan Yurlis. Ibu M. Diah, Sofia punya lima orang saudara kandung yakni Aminah, Maryam, Husin, dan Sahamin.

Kendati hidup sederhana, namun orang tua M. Diah sangat peduli dengan pendidikan. Hidup di tengah suasana alam pedesaan yang nyaman dan asri, membawa keluarga ini ke dalam kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan.

Kemiskinan tak membuat orang tua M. Diah “patah arang” menyekolahkan anaknya. Sadar di kampung halamannya (Pangian) ketika itu belum ada sekolah, orang tuanya “memaksa” M. Diah sekolah ke luar daerah.

Jauh dari kampung halaman tak membuat M. Diah cengeng. Apalagi prustasi dan putus asa. Hari-harinya berjalan normal tanpa henti belajar.

Sedari kecil M. Diah sudah terbiasa merantau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang demi jenjang. Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Baserah, Kuantan Singingi diselesaikannya pada 1943.

Kemudian Sekolah Guru Bawah (SGB) di Bengkalis (1948) lalu melanjutkan Sekolah Guru Atas (SGA) di Padang (1951). Sarjana mudanya di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri pada 1970 dengan gelar Bachelor of Arts (BA).

Kemudian M. Diah melanjutkan kuliah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) kini Universitas Negeri Malang, Jawa Timur untuk meraih gelar sarjana lengkap – doktrandus (Drs) pada 1975. Pada 1978-1982, M. Diah melanjutkan kuliah di University of Illinois at Chicago (UIC) Amerika Serikat.

Di salah satu kampus universitas negeri “terbaik” di Amerika Serikat menurut US News & World Report, M. Diah menyelesaikan gelar Master Education (M. Ed) dan Philosophy (Phd). Tercatat M. Diah adalah dosen Unri asal Kuantan Singingi pertama yang meraih gelar Phd atau doktor dari negara adidaya yang sering disebut “Paman Sam” tersebut.

Dua anaknya Victor Ramadhani Alkahfi dan Asra Muhammad Diah pernah sekolah di Amerika Serikat.

PERJALANAN karier M. Diah sebagai pendidik diawali pada 1957 ketika diangkat menjadi guru di SMP Pasir Pangaraian (dulu masih bergabung dengan Kampar-kini Rokan Hulu). Tidak lama mengajar di Pasir Pangaraian, M. Diah pindah menjadi Kepala SMP Lubuk Jambi, Kuantan Mudik (1961-1964).

Lalu pindah ke Pekanbaru, M. Diah diangkat menjadi Kepala SMP PGRI (1967-1972). Setelah itu menjadi Kepala SMPP (kini SMA 6) pada 1975-1976.

M. Diah juga pernah bertugas di SMP Negeri 1 Tanjungpinang, Kepri.

Kemudian M. Diah menjadi Dosen FKIP Jurusan Bahasa Program Studi Bahasa Inggris Unri. Selama di Unri, M. Diah pernah menjadi Pembantu Dekan I Bidang Akademik FKIP Unri (1983-1989) dan Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Perencanaan dan Sistem Informasi, Pembinaan serta Pelayanan pada Mahasiswa dan Alumni Unri (1989-1993).

Sejak 1978 hingga 1980 Unri dapat dikatakan sebagai masa peralihan dari sistem presidium kepada sistem rektor. Syahdan ditunjuklah Drs. H. M. Farid Kasmy sebagai pejabat sementara Rektor Unri. Baru pada 1980 Unri mempunyai rektor definitif berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.148/M/1980.

Tercatat sebagai Rektor Unri adalah: Prof. Dr. H. Muchtar Lutfi (1980-1984 dan 1985-1989), Prof. Drs. H. M. Bosman Saleh, M.B.A (1989-1993), Dr. H. Mohammad Diah, M.Ed. (1993-1997). Prof. Dr. H. Muchtar Ahmad, M.Sc (1997-2001 dan 2002-2006), Prof. Dr. H. Ashaluddin Jalil, M.S. (2006-2010 dan 2010-2014), Prof. Dr. H. Aras Mulyadi, D.E.A (2014-2018 dan 2018-2022), dan Prof. Dr. Hj. Sri Indarti, S.E., M.Si (2022-sekarang).

M. Diah adalah rektor kedua di Unri asal Kuntan Singingi. Yang pertama Prof. Dr. H. Muchtar Lutfi asal Beserah (Kuantan Hilir) dan yang ketiga Prof. Dr. H. Aras Mulyadi, D.E.A asal Simandolak (Benai). Rektor selanjutnya asal Kuantan Singingi , waktu jua yang akan menjawabnya.

M. Diah juga pernah menjabat Rektor Universitas Umri periode 2010-2014. Di perguruan tinggi yang didirikan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau pada 2010 ini, estapet kepemimpinannya dilanjutkan oleh Dr. H. Mubarak, M.Si (2014-2018 dan 2018-2022) dan Dr. H. Saidul Amin, M.A (2022-2026).

KETIKA syukuran pengukuhan M. Diah sebagai Guru Besar atau Profesor Unri di Ballroom Meeting Room Hotel Sahid Pekanbaru, pada 2000 Gubernur Riau H. Saleh Djasit menyebut sosok M. Diah sebagai tua-tua keladi, makin tua makin berisi. Seiring dengan usianya yang makin menua, pengabdian M. Diah tidak pernah berhenti.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Riau, saya mengucapkan selamat dan tahniah untuk senior, sahabat, dan guru saya M. Diah,” ujar Saleh Djasit ketika itu.

Sementara itu Rektor Unri kala itu Muchtar Ahmad menyebut sosok M. Diah adalah pendidik sejati yang sangat peduli dengan pendidikan di Riau. Setelah “pensiun” dari Rektor Unri, bersama dengan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Riau merintis pendirian Umri yang kini makin berkembang.

Ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar di Unri usia M. Diah memang sudah 64 tahun. Sedangkan batas usia pensiun Guru Besar ketika itu 65 tahun. Kemudian diperpanjang jadi 70 tahun sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 27 Tahun 2005 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Perpanjangan Batas Usia Pensiun Guru Besar dan Pengangkatan Guru Besar/Profesor Emeritus.

TAK hanya di dalam negeri, M. Diah Juga pernah mengajar pada Collage of Education, University of Kentucky Amerika Serikat pada 1987. Universitas Kentucky adalah universitas pendidikan publik terpadu di Lexington, Kentucky. Didirikan pada tahun 1865 oleh John Bryan Bowman sebagai Perguruan Tinggi Pertanian dan Mekanik Kentucky.

Lalu M. Diah berkerjasama dengan PT. Caltex Pasifik Indonesia (CPI) tahun 1996 mengggagas pendirian Laboratorium Bahasa Unri di Kampus Binawidya KM 12,5 Simpang Baru-Panam.

M. Diah banyak bergaul dengan PT. CPI dalam menuangkan ide dan berbagai pemikiran bagaimana mahasiswa dan dosen dapat secara langsung untuk belajar bahasa Inggris dengan cara mendengar dan membaca. Gayung bersambut, PT. CPI membangun fisik Laboratorium Bahasa Unri. Sedangkan Personal Computer itu dibiayai oleh Unri.

M. Diah juga mengikuti Penataran dan Administrasi Perguruan Tinggi – kiprahnya ketika diangkat sebagai Kanwil Konsultan Bank Dunia berperan besar dalam pembuatan proposal untuk Bank Dunia. Kemudian dalam Proyek Pengembangan Pendidikan Tinggi. M. Diah diutus untuk mengikuti penataran perwakilan dari Unri pada 1983 di Hotel Cibogo, Subang (Jawa Barat).

M. Diah Pernah menjadi fasilitator dosen untuk melanjutkan gelar master di perguruan tinggi di luar negeri ketika menjabat sebagai Rektor Unri dan berkerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri.

Bagi M. Diah pendidikan adalah “nomor satu.” “Selagi mampu untuk mendapatkan pendidikan itu kenapa tidak dikejar. Pendidikan merupakan pilar penting dalam memberantas kebodohan,” ujarnya,

Selama menjabat sebagai Rektor Unri, M. Diah banyak memberikan kontribusi. Sebut saja berhasil memberangkatkan tiga dosen Unri melanjutkan pendidikan ke Unversitas Leeds atau University of Leeds adalah salah satu perguruan tinggi utama di Leeds, West Yorkshire, Inggris.

Universitas Leeds merupakan anggota dari Russell Group dan ditempatkan di sepuluh besar perguruan tinggi Britania Raya untuk pembiayaan riset. Awalnya merupakan Sekolah Medis Leeds yang dibentuk pada 1831 dan mendapat status universitas pada 1904.

Dari Universitas Leeds yang merupakan satu dari enam universitas ‘bata merah’ ini tiga dosen Unri masing-masing Drs. Marzuki M.Ed, Dr. Dahnilsyah, S.S., M.A dan Flora Fita Farma, S.S., M.A berhasil meraih gelar master dan doktoralnya.

DALAM menggeluti dunia pendidikan, M. Diah dikenal sebagai orang yang sangat aktif, kreatif, dan peduli. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya prestasinya dan dipercayai oleh berbagai kalangan untuk memberikan ilmu sehingga ditunjuk sebagai pemateri dipelbagai seminar pendidikan dan beragam penghargaan yang diberikan kepadanya.

Sederetan prestasi dan penghargaan yang disematkan kepada M. Diah di antaranya adalah: Dosen Teladan I Unri, Tanda Kehormatan Satpalencana Karya Satya 30 tahun, Penghargaan Workshop Pendidikan.

M. Diah juga banyak menyampaikan pemikiran dalam pelbagai forum ilmiah. Pemakalah dalam Seminar Internasional Pendidikan Serantau JOM FKIP – Unri Volume 7 Edisi 1 Januari – Juni 2020, Pemakalah dalam Seminar Sehari Pemberdayaan Komite Sekolah, Pembicara dalam seminar Forom Komunikasi Ikatan Pemuda Mahasiswa Riau se-Indonesia. Sertifikat Apresiasi Atas Kepemimpin.

Semangat M. Diah dalam memajukan pendidikan sungguh luar biasa. Di luar kepribadiannya sebagai seorang pendidik, suatu ketika pernah diminta oleh orang-orang untuk terjun di dunia politik.

Tetapi sebagai pendidik sejati M. Diah tidak tertarik terjun ke dunia politik. Dunia pendidikan lebih mendarah daging bagi dirinya ketimbang terjun di dunia yang penuh dengan intrik itu.

Prinsip yang dipegang teguh M. Diah yakni ingin bermanfaat untuk orang banyak terutama dalam dunia pendidikan begitu terpatri dalam dirinya. Dalam setiap kesempatannya tidak pernah lepas dari kesibukannya di dunia pendidikan. Kepeduliannya kepada – orang orang yang ingin berusaha dalam melanjutkan pendidikan, agar bisa sukses.

Sekian banyak amanat yang diembannya bukan karena diminta tetapi karena kepercayaan serta kepemimpinannya yang sangat dikagumi oleh orang banyak. Ia juga tak segan-segan membagi ilmu kepada orang banyak untuk meningkatkan mutu pendidikan.

M. DIAH meningggal dunia pukul 22.15 WIB di Rumah Sakit Awal Bros, Pekanbaru, Selasa 24 Februai 2015 di usia 79 tahun. M. Diah yang mempersunting gadis pujaannya di desanya SYAFRILINAR ABDYS meninggalkan 6 orang buah hati. Yakni Ir. Mas Berry Diah, Hj. Veni Maria Aprya, S.E, Ir. Esfiera Nova Diah, Dra. Fangiana Syafitri Diah, M.Ed, Victor Ramadhan Alkahfi, S.H, dan Asra Mohammad Diah, S.Kom.

Di mata seorang sejawat, Prof. Dr. H. Muchtar Ahmad, M.Sc, M. Diah adalah sosok pendidik yang pantas menjadi teladan bagi siapa saja dan tidak segan-segan memberikan ilmunya kepada orang lain. “Riau kehilangan dengan kepergian M Diah. Ya…, ini sudah kehendak Allah. Kita semua berasal dari-Nya dan pasti akan kembali kepada-Nya,” ungkapnya.

Sedangkan di mata Wakil Rektor I Bidang Akademik Umri (2014- 2018) dan Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Umri (2018 – 2022). dr. H. Taswin Yacub, Sp.S, M. Diah adalah sosok yang peduli masalah pendidikan, baik ketika memimpin Unri maupun Umri.

Menurut Taswin, gaya kepemimpinan M. Diah yang hamble, lembut, bersahaja, dan kebapakan serta dekat dengan semua kalangan membuat dirinya disegani dan dikagumi mahasiswa dan teman-teman sesama dosen. Hal ini juga ditunjang oleh kemampuannya dalam berbahasa Inggris.

Dalam hubungan kekerabatan lanjut Taswin, M. Diah merupakan “bagito” di Kenegerian Sentajo dengan orang tuanya dan saudara-sudaranya. “Bapak saya (Ya’cub) juga sama sekolah di Batusangkar dengan abang beliau (Ali Usman). Kelak Ali Usman di Kenegerian Pangean dikenal sebagai guru agama. Kami sekeluarga jika bulan puasa selalu saling mengunjungi “babuko basamo” baik di Pangean maupun di Sentajo.”

Taswin mengakui punya kedekatan khusus dengan keluarga M. Diah yang kini masih terjalin dengan baik. Ketika melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah mengambil Spesialis Syaraf, dirinya pernah menerima kunjungan keluarga M. Diah dan istri Syafrilinar Abdys.

“Waktu itu anak tertuanya Ir. Masberry Diah yang akrab disapa Berry nikah di Semarang. Berry turun dari rumah kami yang tergolong sederhana dan jauh dari kesan mewah itu. Sebelum mengantar Berry ke rumah pengantin perempuan, kami syukuran kecil-kecilan dulu di rumah kami. Sebelum pulang ke Pekanbaru beliau tinggal beberapa hari di rumah kami. Betapa indahnya suasana kekeluargaan itu,” ujar Taswin asal Kampung Baru Sentajo, Sentajo Raya ini.

Di tilik dari perjalanan hidup kedua tokoh Riau asal Kuantan Singingi punya banyak kesamaan. Sama-sama peduli dengan dunia pendidikan, bergabung dalam organisasi Muhamamdiyah yang ikut merintis pendirian dan pengembangan Perguruan Tinggi Umri di Pekanbaru. Kesamaan lain, sama-sama tidak tertarik dengan dunia politik.

Dalam pandangan Nursal, M. Diah adalah sosok yang sangat peduli dengan pendidikan. Orangnya juga lembut tapi bersahaja. Ucapan yang keluar dari mulutnya penuh makna.

“Pak Diah adalah guru yang tak pernah menggurui dan patut diteladani,” ujar Nursal asal Sentajo yang pernah tinggal di rumah M. Diah waktu sekolah SMP di Pekanbaru.

Sementara itu bagi politisi PAN, Dr. Mardianto, M.T, M. Diah adalah sosok motivator ulung yang memacu dirinya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mardianto mengaku mengenal sosok M. Diah ketika duduk dibangku SMP di Pangian. Waktu itu tahun 1984 ada pertemuan dengan M. Diah di Mesjid At Taqwa Pasarbaru, Pangian.

“Dengan menggunakan seragam SMP kami memenuhi undangan untuk mendengarkan pidato “orang besar” Pangean. Orang besar bergelar doktor itu baru saja pulang dari Amerika berpidato di mimbar Mesjid At Taqwa. Pak Diah bercerita tentang masa kecil dan sekarang serta buat kami ke depan,” ujarnya.

Ketika sesi tanya jawab kata Mardianto, hanya dirinya yang percaya diri dan berani tampil ke depan bertanya. Yang lain? “Hanya bagak di luar saja alias tak punya nyali. Mardianto dilawan, putus semua… putus… putus…..hahaha.”

“Saya menyampaikan hasrat ke depan mau menjadi menjadi doktor yang hebat seperti beliau. Alhamdulillah doktor sudah tercapai namun hebatnya belum,” jelas peraih doktor Ilmu Lingkungan Unri ini mengingat kembali masa lalunya.

Menurut Mardianto, hebat yang dimaksud adalah M. Diah meraih gelar Guru Besar sementara dirinya belum. Hebatnya lagi M. Diah pernah menjadi rektor di dua perguruan tinggi berbeda di ibu kota Provinsi Riau: Unri dan UMRI.

Sementara dirinya kata Mardianto hanya menjadi Ketua di Sekolah Sekolah Tinggi Teknologi Swarnadwipa Kuantan Singingi di Telukkuantan. Dan, ketika sekolah tinggi marger menjadi Universitas Islam Kuantan Singingi, Mardianto menaku dilupakan atau dilupakan.

“Pak Diah adalah salah seorang guru, motivator, dan mentor yang saya banggakan,” ujar MM sapaan akrab pria yang rambutnya sudah memutih – kendati tiap minggu disemir istri tercinta.

Itulah Mardianto yang usianya makin menua namun semangatnya masih kelihatan muda menggelora dan terlihat gagah ini.

“Usia boleh tua, semangat tetap anak muda. Jangan kasih kendur…” katanya semangat.

Lalu kapan Mardianto bakal meraih gelar Guru Besar seperti M. Diah? Dia hanya tersenyum. “Masih jauh panggang dari api, hahahahah,” ujarnya tersenyum ramah.

Namun kata Mardianto di bidang politik selera mereka berbeda. “Pak Diah tak tertarik terjun ke dunia politik sementara politik adalah dunia saya,” katanya berkelakar.

SEBAGAI bukti intelektualnya, M. Diah juga menulis dan menterjemahkan sejumlah buku ilmiah. Sebut saja “Sastra Islam Melayu Riau: Bentuk, Fungsi dan Kedudukannya” yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Melayu, 1986/1987.

Sedangkan buku terjemahannya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia di antaranya buku: “Mitos dan Kelas Penguasa Melayu.”

Kedua buku tersebut hingga sekarang masih menjadi acuan bagi peneliti dan mahasiswa yang melakukan penelitian khususnya tentang Melayu Riau.

Sebagai perhormatan atas dirinya namanya diabadikan sebagai Nama Gedung M. Diah diambil dari nama Rektor Unri periode 1993-1998 yang berasal dari fakultas pencetak calon pendidik itu. Gedung M. Diah diresmikan 14 Januari 2023 oleh Rektor Unri, Prof. Dr. Sri Indarti, M.Si.

Gedung M. Diah melengkapi nama setiap fakultas di Unri memiliki gedung representatif dengan nama tokoh di fakultas masing-masing. Sebelumnya, adapun Gedung “Bosman Saleh” dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Gedung “Sutan Balia” di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Biografi M. Diah Sebagai tokoh Pendidikan Riau juga pernah ditulis oleh Resi Dewi Anggraini, Prof. Dr. Isjoni, M.Si, dan Drs. Tugiman, MS tahun 2020. Tulisan ketiga dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unri bisa dilihat di: Jom Fkip – Ur Volume 7 Edisi 1 Januari – Juni 2020.

M. Diah memang telah meninggal dunia. Namun karyanya dan semangatnya dalam mencerdaskan anak bangsa tetap terpatri dalam relung hati yang paling dalam masyarakat di Riau.

Penulis naskah: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

BRK Syariah Resmikan Kantor Baru di Baserah, Perkuat Layanan Perbankan Syariah Enam Kecamatan di Kuansing

22 Desember 2025 - 15:00 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Trending di Kuansing