RiauKepri.com, Pekanbaru — Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya daerah dan peningkatan literasi sastra lisan di kalangan generasi muda, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning (Unilak) menyelenggarakan kegiatan bertajuk: “Peningkatan Kemampuan Membaca dan Memahami Pantun Jenaka Karya Tenas Effendy pada Siswa SMA Negeri 5 Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru Provinsi Riau.” pada tanggal 22 Juli 2025.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan SMA Negeri 5 Pekanbaru ini dihadiri oleh puluhan siswa. Acara tersebut dirancang sebagai sarana edukatif sekaligus rekreatif yang memperkenalkan nilai-nilai budaya Melayu kepada para pelajar melalui medium sastra lisan, khususnya pantun jenaka karya Tenas Effendy, budayawan besar asal Riau yang dikenal luas atas kontribusinya terhadap dokumentasi dan pelestarian pantun Melayu.
Pantun bukan hanya sekadar permainan kata, melainkan juga cerminan pemikiran, etika, dan filosofi hidup masyarakat Melayu. Dalam sambutannya, Amanan, ketua tim pelaksana dari UNILAK, menyampaikan bahwa kegiatan ini didasari oleh keinginan untuk membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap warisan budaya lokal.
“Kita melihat ada jarak antara pelajar dengan kekayaan budaya yang sebenarnya mereka miliki. Lewat pelatihan ini, kami ingin mendekatkan kembali generasi muda kepada sastra lisan yang bukan hanya indah secara estetis, tapi juga penuh nilai ajar dan humor cerdas, seperti pantun jenaka karya Tenas Effendy,” ujar Amanan.
Kegiatan pengabdian ini tidak hanya menyajikan materi teoritis, tetapi juga diisi dengan praktik membaca, memahami, dan menyusun pantun secara kreatif. Para peserta dibimbing untuk membaca pantun, memahami isi dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya, serta mencoba membuat pantun jenaka versi mereka sendiri.
Gambar 1 Siswa sedang berlatih membaca Pantun Jenaka dibimbing tim pengabdian
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi tentang sejarah dan peran pantun dalam kebudayaan Melayu, dilanjutkan dengan sesi membaca pantun karya Tenas Effendy secara bergilir oleh peserta. Para siswa terlihat sangat antusias, bahkan beberapa di antaranya menunjukkan bakat alami dalam berpantun secara spontan. Salah seorang peserta, Arkan, siswa kelas XI, mengaku kegiatan ini membuka wawasannya tentang budaya Melayu yang sebelumnya dianggap kuno.
“Awalnya saya kira pantun itu cuma pelajaran yang membosankan. Tapi pas dibaca-baca, pantun jenaka ini lucu juga. Kegiatannya juga seru, jadi kami nggak cuma duduk diam, tapi bisa ikut membaca dan bikin pantun sendiri. Sekarang saya malah pengen coba-coba buat pantun lagi,” ujarnya sambil tersenyum antusias.
Menurut Juswandi, salah satu anggota tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Budaya UNILAK, kegiatan ini memberikan ruang yang segar bagi siswa untuk terlibat aktif dalam memahami warisan budaya.
“Kami melihat semangat siswa sangat tinggi ketika diminta membaca dan menciptakan pantun mereka sendiri. Saat sesi praktik, mereka bukan hanya mencoba, tapi juga tertawa bersama, berdiskusi, dan saling mengapresiasi. Ini menunjukkan bahwa pantun bukan warisan yang membosankan, tapi bisa hidup dan menyenangkan jika dikenalkan dengan cara yang tepat,” jelas Juswandi
Sementara itu, Hermansyah, anggota tim lainnya, menambahkan bahwa pendekatan sastra lisan sangat efektif untuk siswa. Ia juga berharap ke depan kegiatan semacam ini dapat dilakukan secara rutin dengan topik-topik budaya lainnya yang relevan dengan kehidupan siswa.
“Kita ingin siswa bukan hanya bisa membaca pantun, tapi juga paham maknanya. Dari sana, mereka bisa menciptakan karya sendiri dan bangga dengan budayanya. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut di sekolah.” katanya.
Kegiatan ini juga sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Riau dalam pembinaan dan pengembangan Budaya Melayu Riau (BMR) sebagai identitas utama daerah. Universitas Lancang Kuning, sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Riau, terus berkomitmen menjadi garda terdepan dalam upaya pelestarian budaya lokal melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Ini adalah bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual kami. Kampus tidak boleh hanya berkutat di ruang kelas, tapi juga harus hadir di tengah masyarakat dan menjawab tantangan kultural yang ada,” pungkas Amanan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku dan formal. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif, para pelajar dapat merasakan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sesuatu yang hidup dan relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Dengan demikian, penyelenggaraan kegiatan seperti ini diharapkan dapat memunculkan membangkitkan generasi muda yang tak hanya mahir dalam sastra, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian nilai-nilai lokal. (Rls)







