Menu

Mode Gelap
Pemkab Siak Kukuhkan SOTK Baru, Terjadi Mutasi Demi Kelancaran Pembayaran Gaji ASN Ikuti Seminar Peningkatan Mutu Akademik, Puluhan Mahasiswa Unilak Muntah 3 Rumah di Dusun Nadi Bangka Tengah Terseret Arus Banjir, PT TIMAH Tbk Salurkan 300 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Sepuluh Kepala Daerah dan Tiga Wartawan Raih Trofi Abyakta di HPN 2026 Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 13 Januari 2026: Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada Kecelakaan Tunggal di Pelalawan, Sepasang Karyawan Bank Tewas

Riau

Segalanya Duit

badge-check


					Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Lama Atah Roy termenung setelah menyaksikan iklan suatu produk rokok yang menghadirkan sosok jin minta disogok ketika seorang pemuda meminta dihapuskan sogok menyogok di negara ini. Atah Roy pun menyakini bahwa nampaknya semua makhluk yang mendiami di negara ini sudah terkena ‘virus’ sogok menyogok. Tiada harapan agar negara ini menjadi lebih baik.

Semua lini telah dirasuki seberapa duit yang dimiliki. Semua masalah nampaknya di negeri ini diselesaikan dengan duit, dan beberapa masalah pun ditimbulkan oleh duit. Tak henti-hentinya negara yang kita cintai ini dihadapkan masalah duit. Lebih parah lagi tempat menggantungkan nasib dan penegakkan hukum juga dihantui kasus yang sama. Duit menjadi kekuatan baru zaman modern ini. Tiada duit, tiada masalah yang dapat diselesaikan. Ada duit, ada juga masalahnya. Semua pakal bala di negara iniberpunca dari duit.

Atah Roy juga bertambah bingung, banyak sekali institusi yang dipercayai dapat menyelesaikan masalah tanpa  duit selama ini, sudah ikut-ikut pula menegadahkan tangan dan bertanya “duitnya berape?” Bertambah bingungnya Atah Roy, banyak pula fasilitas yang dibangun negara untuk rakyat, bukan menambah kenyamanan rakyat, malahan rakyat dihantui keraguan.

Banyak contoh gegara duit jembatan dan jalan di negeri tidak selesai dengan sempurna; duit habis, kerje tak selesai. Jambatan dan jalan yang diperuntukan untuk kepentingan rakyat, kini rusaknya semakin parah, namun tiada satu pun lembaga, baik itu perguruan tinggi dan lembaga masyarakat yang berhubungan masalah ini, melakukan kajian; apakah fasilitas tersebut layak atau tidak dipergunakan. Atah Roy pun bertanya-tanya, apakah perlu juga lembaga-lembaga seperti itu menanyakan “duitnye berape?”

“Saye tenguk, semenjak balik dari kota ni, Atah murung aje. Ade masalah ape, Tah?” tanye Leman Lengkung.

“Entahlah. Waktu aku berjalan di kota, banyak jalan dan jembatan penghubung yang rusak parah. Muncul pulak ketakutan dalam diri aku ini,” jelas Atah Roy.

“Ketakutan seperti ape tu, Tah?” Leman Lengkung penasaran.

“Kite kehilangan hati nurani dan kehilangan rase kepedulian sesame kite,” tambah Atah Roy.

“Maksud Atah seperti ape ni? Atah kalau dah risau selalu mengeluarkan kata-kata yang sukar dimengerti,” Leman Lengkung tambah penasaran.

“Aku orang kampung ni saje tahu, banyak gedung, jambatan dan jalan di kota itu bermasalah. Bisa mendatangkan azab bagi penggune gedung, jalan dan jambatan tersebut, tetapi tak satu pun lembaga, baik itu perguruan tinggi, maupun lembaga lainnye, memberhentikan menggunakan fasilitas tersebut. Aku takut dah banyak jatuh korban, baru muncul penelitian. Untuk ape gune penelitian kalau telah banyak jatuh korban? Selain itu, ade ketakutan yang luar biase dalam hati aku ini, Man,” wajah Atah Roy memerah.

“Ketakutan ape tu, Tah?” tanya Leman Lengkung.

“Aku takut semue orang yang ade di negara kite cintai ini, telah menuhankan duit. Kalau hal ini sempat terjadi, make semakin hancou-leboulah negara kite ini,” ujar Atah Roy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Untuk ape kite risau, Tah, semuenye terjadi di kota, sementare di kampung-kampungkan masih memegang rasa kebersamaan yang tinggi,” Leman Lengkung menenangkan Atah Roy.

“Masalah kota, Man, akan menjadi masalah orang kampung di belakang harinya. Sebab orang kampung berkiblat kepade orang kota. Bukankah orang kota itu banyak orang terpelajar, sekolah tinggi-tinggi, banyak bace buku ini-itu, tentu menjadi sumber kite orang kampung,” Atah Roy semakin khawatir.

“Untuk mengatasi semue itu, Tah, kite harus mampu menampakkan wujud kite sebagai orang kampung yang berakhlak mulia. Kite lihatkan kepade orang kota, bahwa duit bukanlah segale-galenye,” Leman Lengkung optimis.

“Kecik harapan, Man,” Atah Roy macam putus asa.

“Itulah salah Atah ni, cepat menyerah kepade keadaan. Sebagai orang kampung, Tah, kite harus tegap menghadapi segale macam masalah. Selame ini, kite orang kampung tak pernah mempermasalahkan duit. Atah tahukan due hari yang lalu, kite dapat menyelesaikan pertikaian Ucu Seman dengan Cik Jalal tanpe mengeluarkan duit se-sen pun. Kite selesaikan masalah tersebut dengan musyawarah dan mufakat kan?” ujar Leman Lengkung panjang lebar.

“Betul kate dikau tu, Man, tahu betul aku. Masalah Seman dan Jalal tu, masalah adik beradik; masalah siape yang berhak mengurus kebun durian, tapi masalah jambatan dan masalah jalan di negeri ini, masalah orang banyak, tentu berbede,” jelas Atah Roy geram kepada Leman Lengkung.

“Usah Atah pikirkan, Tah, itu masalah orang kota. Bio dilantak ape yang hendak mereke buat, yang penting kampung kite tidak macam itu,” tambah Leman Lengkung pula.

“Masalah kota, tetap jadi masalah kite, Man. Sedang permasalahan di depan mate penguasa, tidak teratasi, apelagi masalah yang ade di kampung kite ni. Dikau tenguk kampung sebelah, jalan utamenye saje dah tinggal sejengkal masuk ke laut, sampai sekarang tidak ade kebijakan orang kota. Semuenye orang bertanye “berape duit?” membawak masalah rakyat ke pemerintah. Sementare pemerintah sibuk juge dengan masalah “berape duit?” untuk menyelesaikan masalah. Lagi-lagi duit, lagi-lagi duit masalahnye,” Atah Roy mulai geram dengan Leman Lengkung.

Menenguk Atah Roy sudah emosi, Leman Lengkung pun berkeinginan meninggalkan Atah Roy. Leman Lengkung tahu betul, kalau percakapan ini dilanjutkan, tentu semakin menjadi-jadi emosi Atah Roy. Leman Lengkung pun berdiri dan langsung ambil langkah seribu; pergi.

“Kemane engkau, Man!?” tanya Atah Roy berteriak.

“Pening saye dah, Tah, orang kota aje tak bisa menyelesaikan masalah, apelagi kite orang kampung ni, Tah,” jawab Leman Lengkung menjauh dari Atah Roy.

“Celakuk budak ni agaknye…,” ucap Atah Roy bertambah geram.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak

 

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Siak: Jika Belum Bisa Melayani dengan Baik, Jangan Malu Minta Maaf

12 Januari 2026 - 14:53 WIB

PT BSP Berprestasi dan Peduli, Konsisten Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

12 Januari 2026 - 12:40 WIB

Pengungkapan Sumpah Bertandatangan Gubernur Riau (Berhalangan Sementara) Abdul Wahid

12 Januari 2026 - 09:45 WIB

Pakar: Pipa Gas PT TGI Meledak Lagi Karena Tidak Ada Inspeksi Menyeluruh

11 Januari 2026 - 11:45 WIB

Sultan Menangis

11 Januari 2026 - 07:32 WIB

Trending di Minda