RiauKepri.com, SIAK– Di lantai teras dingin rumah rakyat Siak, seorang perempuan muda terbaring lemah. Namanya Putri. Usianya 27 tahun, tapi tubuhnya tampak seperti remaja yang kelelahan oleh hidup. Rambut keritingnya menutupi wajah, pakaiannya kusut, dan matanya kosong, seolah kehilangan arah pulang.
Putri tidak datang sendiri. Seorang ibu menggenggam harapan terakhir, membawanya menempuh perjalanan jauh dari Tualang dengan sepeda motor, Rabu (29/4/2026). Bukan untuk berkunjung, melainkan untuk memohon pertolongan. Tak tahu lagi harus ke mana, ia memilih mengetuk pintu rumah dinas Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli.
Putri bukan anak kandungnya. Dia diangkat sejak usia sehari, dibesarkan dengan kasih sayang tanpa batas. Namun cinta seorang ibu pun nyaris kalah oleh kerasnya kenyataan. Narkoba perlahan merenggut Putri, mengubahnya dari anak yang dicintai menjadi sosok asing yang tak lagi dikenali.
Dengan suara bergetar, sang ibu menceritakan luka yang selama ini dipendam. Putri beberapa kali mengaku mencuri, dengan nilai yang disebut-sebut mencapai Rp25 juta. Namun tak pernah ada bukti. “Dia hanya disuruh orang dan mengaku maling, tapi barang buktinya tak ada,” ujar sang ibu lirih.
Keputusasaan sempat menghampiri. Tapi sebagai ibu, ia tidak menyerah. Ia hanya ingin anaknya tetap hidup, tetap diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar masalah. Itulah yang membawanya sampai ke titik ini, mencari jalan agar Putri bisa diselamatkan.
Di hadapan Bupati Afni, kondisi Putri membuat hati teriris. Tubuhnya kotor, kuku panjang menghitam, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Oleh Afni, Putri kemudian diminta untuk dibersihkan, dimandikan, diperlakukan dengan layak. Inibsebuah langkah kecil untuk mengembalikan martabatnya sebagai manusia.
Hasil tes urine menunjukkan kenyataan pahit, Putri positif mengonsumsi metamfetamin atau sabu-sabu. “Ya Allah, budak macam dari mana dia dapat sabu? Dia ini mana tahu-menahu dengan hal macam itu,” ucap Afni dengan nada prihatin.
Bagi Afni, Putri bukan sekadar satu kasus. Putri adalah wajah dari fenomena gunung es, bahwa di luar sana, mungkin masih banyak “Putri” lain yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan narkoba. Mereka bukan pelaku, melainkan korban dari sistem yang rapuh dan lingkungan yang tak melindungi.
Putri kemudian dipulangkan dalam kondisi lebih bersih dan sedikit lebih tenang. Ia akan menjalani rehabilitasi, sebuah harapan baru, meski jalan yang harus ditempuh masih panjang.
Kisah ini menjadi pengingat, perang melawan narkoba tidak bisa dilakukan sendiri. Ia membutuhkan kepedulian bersama, keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Sebab jika lengah, bukan tidak mungkin akan ada Putri-Putri lain yang bernasib sama.
Dan bagi seorang ibu, harapan itu tidak pernah benar-benar padam. (RK1)







