TANJUNGPINANG – Pemerintah Kota Tanjungpinang diminta untuk segera membangun jaringan transportasi darat yang terintegrasi sebagai langkah memperbaiki aksesibilitas dan mendukung sektor pariwisata daerah. Dorongan ini muncul menyusul viralnya komentar wisatawan yang menyoroti sulitnya mendapatkan transportasi umum yang layak dan terjangkau di kota tersebut.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kepri, Syaiful, mengatakan bahwa kritik yang disampaikan wisatawan seharusnya menjadi bahan evaluasi sekaligus penyemangat bagi pemerintah daerah untuk berbenah.
“Transportasi adalah urat nadi perekonomian dan pariwisata. Jika aksesnya baik, wisatawan akan lebih mudah datang dan ekonomi lokal ikut bergerak,” ujar Syaiful.
Menurutnya, jaringan transportasi yang efisien akan membantu meningkatkan konektivitas antar-wilayah, termasuk menuju destinasi wisata unggulan Tanjungpinang. Akses yang baik juga akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengunjung dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
Syaiful menjelaskan bahwa sebagian besar wisatawan cenderung memilih transportasi yang murah, aman, dan nyaman. Namun kenyataannya, fasilitas angkutan umum di Tanjungpinang dinilai masih sangat minim.
“Setibanya di pelabuhan atau bandara, wisatawan langsung dihadapkan pada pilihan mobil carteran dengan tarif jauh lebih mahal dibanding transportasi umum massal. Kondisi ini tentu kurang ideal bagi daerah yang ingin meningkatkan kunjungan wisata,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari Pemko Tanjungpinang. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, perputaran ekonomi daerah seperti hunian hotel, perdagangan UMKM, hingga jasa masyarakat akan terdongkrak.
Syaiful juga mendorong pemerintah kota untuk menghadirkan sistem transportasi massal yang terintegrasi khususnya di dua pintu masuk utama, yakni Bandara Raja Haji Fisabilillah dan Pelabuhan Sri Bintan Pura.
“Transportasi terintegrasi sangat penting karena memberikan banyak manfaat bagi pengguna dan lingkungan. Mobilitas penduduk menjadi lebih efisien, teratur, dan mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan transportasi massal yang terhubung langsung dengan pusat kota dan kawasan wisata akan memudahkan wisatawan, pekerja, serta masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Dari sisi ekonomi, penggunaan transportasi massal juga menawarkan biaya perjalanan yang jauh lebih terjangkau. Hal ini dinilai dapat mengurangi beban pengeluaran wisatawan yang selama ini harus menggunakan jasa carter kendaraan dengan biaya relatif tinggi.
“Jika transportasi massal tersedia dan terjangkau, wisatawan akan lebih nyaman berkeliling kota. Dampaknya tentu positif bagi pariwisata dan ekonomi Tanjungpinang,” tutur Syaiful.
Ia berharap Pemko Tanjungpinang dapat segera menindaklanjuti persoalan tersebut dan menjadikannya prioritas pembangunan daerah. (RK9)







