* Perayaan Hari Tari Sedunia 2026 di Tanjungpinang
RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Peringatan Hari Tari Sedunia pada 29 April tahun ini berlangsung berbeda di Tanjungpinang. Para penari dari usia belia sampai lansia ikut berpartisipasi pada hajatan dengan tajuk Satu Jam Menari di halaman Gedung LAM di Tepi Laut.
Tidak ada batasan. Siapa saja boleh ambil bagian, baik ia penari atau bukan. Meski dilaksanakan secara swadaya dan mendapat dukungan dari Kedai Seni sanggam, peringatan Hari Tari Sedunia di ibu kota provinsi Kepulauan Riau tahun ini menarik minat banyak orang untuk datang.
Satu di antara yang ambil bagian adalah Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tanjungpinang, Yuniarni Pustoko Weni. “Setelah saya dapat info, saya langsung saja datang, karena penasaran ingiin tahu seperti apa menari satu jam tanpa henti,” kata Weni.
Yang bikin Weni tambah terkejut adalah rentang usia para penari yang dijumpainya. Ada penari belia berusia lima tahun dan, yang paling tua, usianya sudah 65 tahun. Kalau tidak karena kecintaan mereka pada seni tari, kata Weni, tidak mungkin semangat seperti ini.
“Saya memang tak pandailah kalau menari seperti kawan-kawan di sini, tapi saya berharap tahun depan event seperti ini bisa menjadi event pariwisata kita sehingga bisa menarik minat wisatawan mancanegara,” ujarnya.
Gagasan itu tidak hadir tiba-tiba datang dari kedai seni sanggam, Tanker dance studio dan dewan kebudayaan. Ternyata ada 10 penari yang hadir di lokasi yang pada pekan awal Mei nanti akan berpartisipasi pada event Jogeton di Kuala Lumpur. Pada acara itu, rencananya mereka akan menari selama 90 menit tanpa henti.
Agenda itu yang menginspirasi Weni supaya bisa ada juga di Tanjungpinang. “Tadi setelah diskusi dengan kawan-kawan di sini, ternyata Hari Tari Sedunia itu yang ramai di Solo, ya. Ke depan, kenapa tidak kita bikin yang besar juga di Tanjungpinang,” pungkas Weni. (RK9/*)







