Produksi minyak nasional Indonesia terus mengalami penurunan sejak mencapai puncaknya pada tahun 1977 dan 1995. Pada Tahun 1977, produksi minyak bumi mencapai 1,65 juta barel per hari melalui tahapan Primary Recovery (tampa injeksi energi dari luar seperti injeksi air dan gas) dan pada Tahun 1995 mencapai 1,6 juta barel perhari melalui tahapan Secondary Recovery melalui injeksi air (waterflood) dan tahapan Tersier Recovery atau lebih dikenal dengan istilah Enhanced Oil Recovery melalui metode Injeksi Uap Panas (Steamflood) di Lapangan Duri. Di sisi lain, kebutuhan energi khususnya minyak bumi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Kondisi ini membuat Indonesia, yang pernah menjadi eksportir minyak serta bergabung dengan organisasi negara-negara eksportir dunia yaitu Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sejak Tahun 2004 hingga saat ini bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Salah satu penyebab utama penurunan produksi adalah semakin tuanya (mature fields) lapangan-lapangan minyak yang ada dan telah diproduksikan sejak Indonesia Merdeka bahkan ada lapangan minyak yang telah berproduksi sebelum Indonesia Merdeka seperti lapangan Kawengan, Sojomerto, Telaga Said, Lapangan Sanga-Sanga, dll . Dari sekitar 650 lapangan minyak di Indonesia, lebih dari 90 persen diproduksikan dari lapangan yang sudah tua (mature fields) tersebut, dengan tingkat produksi minyak yang semakin rendah dan kadar air (water cut) yang semakin tinggi (bahkan ada diatas 95%). Padahal, jumlah minyak yang masih tertinggal di dalam reservoir (remaining oil in place) diperkirakan mencapai sekitar 49,5 miliar barel. Jumlah ini bukanlah angka yang kecil untuk dapat diproduksikan Kembali dengan menggunakan teknologi-teknologi yang ada saat ini (20%, hingga 60% bahkan lebih dari jumlah minyak awal yang ada di reservoir (Original Oil In Place). Namun demikian, tantangannya adalah bagaimana minyak tersebut dapat diproduksikan secara ekonomis sesuai dengan kondisi saat ini. Karena teknologi yang dapat digunakan dalam meningkatkan produksi minyak bumi sangat tergantung dengan harga minyak dunia. Sebagian teknologi masih memerlukan biaya yang tinggi seperti teknologi Produksi Tahap Lanjut (Tersier Recovery) yang biasanya di sebut sebagai Enhanced Oil Recovery / EOR.
Apa itu Enhanced Oil Recovery (EOR) ?
Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah teknologi lanjutan untuk meningkatkan perolehan minyak setelah tahap produksi primer dan sekunder (seperti natural flow dan waterflood) tidak lagi efektif. Secara statistik dan informasi global, EOR terbukti mampu menambah perolehan minyak, terutama melalui injeksi Gas Karbon Dioksida (CO2) di US seperti Permian, Wyoming, Colorado, dll serta injeksi kimia seperti Polimer di Daqing field (China) dan Injeksi Uap Panas (steamflood) di Lapangan Duri (Riau) yang menghasilkan peningkatan produksi minyak bumi 20–60 persen dari total minyak awal di tempat, bahkan lebih pada kondisi tertentu.
Keberhasilan Steamflood di Lapangan Duri
Lapangan Duri di Cekungan Sumatra Tengah adalah ikon EOR Indonesia. Studi dilakukan sejak Tahun 1975 dan diterapkan secara penuh pada tahun 1985, metode steamflood di lapangan minyak berat ini telah menjadikan Duri sebagai proyek steamflood terbesar di dunia. Pada puncaknya, produksi Duri mencapai sekitar 300 ribu barel per hari pada Tahun 1994-1995, dan hingga kini masih menyumbang produksi minyak nasional terbesar dari metode EOR yang merupakan satu-satunya metode EOR skala lapangan di Indonesia telah berlangsung selama 40 tahun yang lalu.
Keberhasilan Duri membuktikan bahwa EOR bukan sekadar konsep laboratorium, tetapi solusi nyata untuk memperpanjang umur lapangan minyak dan menjaga ketahanan energi nasional. Namun, karakteristik steamflood yang membutuhkan minyak berat dan reservoir dangkal membuat metode ini menjadi tantangan tersendiri untuk diterapkan secara luas di lapangan lain di Indonesia.
Potensi Injeksi Kimia (Chemical EOR/CEOR) dan Injeksi Gas CO2 (CO2 EOR)
Seiring keterbatasan penerapan injeksi uap atau steamflood, fokus EOR Indonesia mulai bergeser ke injeksi kimia dan injeksi gas, khususnya CO₂. Berbagai uji coba dan proyek percontohan CEOR menggunakan surfaktan, polimer, alkali maupun kombinasi keduanya dan ketiganya telah dilakukan di sejumlah lapangan seperti Minas, Tanjung, Handil, Widuri, Meruap, dan Limau. Hasilnya menunjukkan peningkatan produksi pada beberapa lapangan, meskipun masih menghadapi tantangan biaya, sehingga secara ekonomi belum dapat diimplementasikan dalam skala lapangan dan komersil.
Kabar baiknya, pengembangan bahan kimia lokal oleh perguruan tinggi dan lembaga riset dalam negeri mulai menunjukkan hasil di skala laboratorium dan uji coba di beberapa sumur walapun perlu terus dikembangkan. Surfaktan berbasis kelapa sawit, misalnya, mampu menekan biaya hingga lebih murah dibandingkan produk impor. Ini membuka peluang besar bagi CEOR yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.
Sementara itu, injeksi gas CO₂ menjadi salah opsi yang sangat menarik. Indonesia memiliki sumber CO₂ alam yang sangat besar, termasuk di Natuna dan Sumatra Selatan, serta di lapangan gas lainnya yang belum dimanfaatkan secara maksimal serta sumber CO₂ dari industri petrokimia, pabrik semen, pabrik baja, pembangkit Listrik dan pabrik lainnya atau disebut sebagai sumber gas antrophogenic. Selain meningkatkan produksi minyak, CO₂-EOR juga berpotensi dikaitkan dengan program carbon capture and storage (CCS), sehingga mendukung agenda transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
Metode Lainnya Masih Tahap Riset di Laboratorium dan Uji Coba (Trial)
Beberapa metode EOR lain seperti microbial EOR (MEOR), getaran seismic (seismic vibration), dan metode listrik atau electrical assisted oil recovery (EAOR) dan nano partikel, telah diuji pada skala laboratorium dan uji sumur yang terbatas. Walaupun menunjukkan potensi secara teknis, metode-metode ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas dan ekonomis.
Tantangan Besar di Depan Mata
Meski potensinya besar, implementasi EOR di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan serius, antara lain: Investasi awal yang tinggi, terutama untuk lapangan tua dengan fasilitas using, Biaya bahan kimia yang masih mahal jika bergantung pada impor, Harga minyak yang fluktuatif, yang sangat memengaruhi keekonomian proyek EOR, Keterbatasan SDM ahli EOR, karena banyak tenaga berpengalaman bekerja di luar negeri, Tanpa kebijakan fiskal yang mendukung dan insentif khusus, EOR akan sulit berkembang optimal.
Masa Depan EOR Indonesia
Dengan dukungan pemerintah, pengalaman panjang di Lapangan Duri, ketersediaan sumber daya CO₂, serta keterlibatan aktif perguruan tinggi dan lembaga riset nasional, EOR memiliki peluang besar menjadi tulang punggung peningkatan produksi minyak Indonesia di masa depan.
Jika EOR mampu meningkatkan perolehan minyak hanya 5–10 persen saja, Indonesia berpotensi memperoleh tambahan 2,5 hingga 5 miliar barel minyak—jumlah yang sangat signifikan untuk menjaga ketahanan energi nasional. EOR bukan sekadar pilihan teknologi, melainkan keharusan strategis bagi masa depan industri hulu minyak dan gas Indonesia.
Tulisan ini disadur dan dilakukan improvisasi dari Jurnal Internasional dengan judul ” EOR in Indonesia: Past, Present and Future“ diterbitkan oleh penulis di International Journal Oil, Gas and Coal Technology. Volume 16 No. 3 Tahun 2017.
Penulis:
Prof. Dr. Eng. Ir. Muslim
Guru Besar Prodi Teknik Perminyakan
Fakultas Teknik, Universitas Islam Riau
Ketua Pusat Studi Pengembangan, Peningkatan, Produksi







