Menu

Mode Gelap
Pemprov Riau Percepat Implementasi SP2D Online, Pembayaran Gaji ASN Kini Lebih Cepat Kelemahan Melayu Polsek Mandau Gagalkan Peredaran Sabu di Bathin Solapan, Dua Kakek Paruh Baya di Bekuk Bersama Barangbukti 30 Paket Sabu Polsek Rupat Utara Amankan Remaja Terduga Pemilik Sabu, Satu DPO Diburu Audiensi Bupati Asmar Berbuah Komitmen BNPP RI Kawal Pembangunan Kawasan Perbatasan Meranti Prakiraan Cuaca Kepri Sabtu, 25 Juli 2026: Mayoritas Wilayah Berawan, Warga Tetap Waspadai Hujan Lokal

Riau

Kelemahan Melayu

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

ORANG Melayu ini memang unik, wak. Kalau ada kursi kosong, dia sibuk mempersilakan orang lain duduk. Kalau ada jabatan terbuka, dia pula yang berkata, “Biarlah orang lain dulu.” Sementara orang lain sudah datang membawa map, proposal, dan senyum paling manis. Belum sempat kita meneguk kopi, papan nama di pintu sudah berganti.

Padahal, kalau hendak tahu di mana letak kekuatan Melayu, bukan pada keris yang terselip di pinggang, bukan pula pada tubuh yang tegap atau suara yang lantang. Kekuatan Melayu ada pada tunjuk ajar orang tua, petatah-petitih yang diwariskan turun-temurun, serta kemampuan hidup selaras dengan alam dan masyarakat.

Orang Melayu diajar menjaga marwah. Marwah itu ibarat mahkota. Sekali jatuh ke tanah, susah hendak dipungut kembali. Sebab itu orang tua-tua lebih rela kehilangan harta daripada kehilangan harga diri.

Dari kecil kita dididik dengan petuah, “Hidung tak mancung, pipi jangan tersorong-sorong.” Maksudnya jangan berebut kemuliaan, jangan memaksa diri mencari penghormatan, apalagi meminta-minta gelar atau jabatan.

Bagi orang Melayu, jabatan bukan hadiah untuk dibanggakan. Jabatan adalah amanah yang dipikul. Gelar bukan sekadar panggilan, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan, bukan saja kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Namun, wak, di sinilah kadang letak masalahnya. Apa yang menjadi kekuatan Melayu, kadang berubah menjadi kelemahannya. Karena terlalu menjaga malu dan marwah, banyak anak Melayu memilih diam ketika kesempatan datang.

Sementara itu, orang lain tidak berpikir sepanjang itu. Ada peluang sedikit, langsung maju. Ada jabatan kosong, langsung menawarkan diri. Ada kesempatan tampil, langsung berdiri paling depan.

Bukan berarti mereka salah. Mereka hanya memahami bahwa dunia hari ini menuntut kemampuan untuk menunjukkan kapasitas diri. Siapa yang terlihat, dialah yang sering dilirik.

Sedangkan orang Melayu masih sibuk berkata, “Tak elok nanti orang cakap haus jabatan.” Akhirnya yang haus memang tidak disebut, tetapi yang mendapat jabatan juga bukan orang Melayu.

Lalu setelah semuanya selesai, barulah kita duduk di warung kopi. Segelas kopi habis, sebungkus rokok tinggal puntung, keluhan pun bersambung dari pagi sampai ke petang. Yang disalahkan keadaan, padahal kesempatan tadi lewat di depan mata.

Padahal tunjuk ajar Melayu bukan mengajarkan kita menjadi penakut. Adat juga mengajarkan kebijaksanaan, membaca zaman, serta menempatkan diri sesuai keadaan.

Kalau memang memiliki ilmu, pengalaman, kemampuan, dan niat yang baik, tidak ada salahnya anak Melayu menawarkan diri untuk memimpin. Itu bukan menabrak adat, melainkan menjalankan amanah apabila dipercaya.

Yang dilarang adat adalah tamak, sombong, menghalalkan segala cara, serta memperebutkan kuasa dengan menjatuhkan orang lain. Tetapi menyatakan kesiapan mengabdi bukanlah sebuah aib.

Zaman telah berubah. Kalau Melayu terus bersembunyi di balik rasa malu, sementara orang lain terus melangkah maju, jangan heran bila suatu hari Melayu hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri. Adat tetap dijunjung, tetapi peran perlahan hilang.

Maka, marilah memahami kembali petatah-petitih orang tua sesuai dengan ruhnya, bukan sekadar bunyinya. Marwah tetap dijaga, adat tetap dipelihara, tetapi keberanian untuk tampil, memimpin, dan mengabdi juga mesti dipupuk. Sebab Melayu yang berpegang pada tunjuk ajar bukan Melayu yang berdiam diri, melainkan Melayu yang tahu kapan merendah, dan kapan harus berdiri paling depan demi menjaga negeri dan marwah bangsanya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bupati Afni dan Menkeu Purbaya Bertemu, Suasana Reuni Warnai Silaturahmi

24 Juli 2026 - 22:34 WIB

Dukung Program Unggulan Kapolda Riau, Ditpolairud dan Polres Rohil Gelar Aksi ‘JALUR’ di Panipahan

24 Juli 2026 - 21:36 WIB

From Nothing Become Everything, Inilah Singapura

24 Juli 2026 - 21:00 WIB

Pemkab Siak Gandeng KPK RI, Menata Kelola SDA dan Komitmen Pencegahan Korupsi

24 Juli 2026 - 05:55 WIB

Tiga Boks Dokumen Dibawa, Suasana Disdik Riau Mendadak Jadi Sorotan

23 Juli 2026 - 18:19 WIB

Trending di Pekanbaru