RiauKepri.com, PEKANBARU- Langit Pekanbaru kembali diselimuti asap, Selasa (15/9/2026) pagi. Kabut asap yang semakin pekat membuat sejumlah warga mengeluhkan mata perih, sesak napas hingga batuk.
Bagi warga, asap bukan lagi sekadar membuat jarak pandang berkurang. Pekatnya asap membuat suasana pagi hingga siang terasa berbeda, sementara malam hari langit yang biasanya dihiasi bintang kini nyaris tak terlihat.
“Semakin pekat asap di Pekanbaru. Kalau malam kita tidak bisa melihat bintang, kalau pagi hingga tengah hari tidak bisa bersentuhan langsung dengan matahari,” kata Dayat, warga Marpoyan Damai, Pekanbaru, Selasa.
Dayat mengatakan, kondisi tersebut membuat aktivitas warga di luar rumah menjadi kurang nyaman. Udara yang dihirup terasa lebih berat, terutama ketika asap semakin pekat.
Malam tadi, Oki memutuskan untuk cepat pulang karena khawatir melihat kondisi kabut asap. Padahal dia sudah berencana mau bawa keluarga jalan-jalan pakai sepeda motor, tapi batal karena kualitas udara sudah sangat tidak sehat.
Akibat kabut asap di Pekanbaru berlansung lebih kurang sebulan, Oki mengaku kesehatannya kurang baik diduga akibat terlalu lama menghirup asap karhutla.
“Sejak sepekan terakhir saya batuk-batuk, tenggorokan gatal. Sekarang harus kurangi keluar rumah. Habis kerja saya langsung pulang,” ujarnya.
Kondisi kabut asap tersebut juga sejalan dengan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Riau. Pada pagi hingga siang, cuaca diprakirakan udara kabur hingga berawan dengan potensi kekaburan akibat asap.
Kondisi serupa diprakirakan berlanjut hingga sore, malam dan dini hari. Asap berpotensi menyebabkan penurunan jarak pandang sekaligus memengaruhi kualitas udara.
BMKG memprakirakan suhu udara di Riau pada Selasa berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius dengan kelembapan 45–99 persen. Angin bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10–40 kilometer per jam.
Sementara itu, data titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera yang diperbarui pukul 23.00 WIB mencatat 4.127 titik. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 2.878 titik.
Di Riau, terpantau 96 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Titik panas terbanyak berada di Indragiri Hulu dengan 70 titik, disusul Dumai tujuh titik dan Pelalawan enam titik.
Hotspot juga terpantau di Kampar empat titik, Indragiri Hilir empat titik, Siak dua titik, Bengkalis satu titik, Kepulauan Meranti satu titik dan Rokan Hulu satu titik.
Meski peringatan dini cuaca dari BMKG nihil, potensi kekaburan udara akibat asap masih menjadi perhatian. Bagi warga Pekanbaru, asap yang kembali menyelimuti kota membuat langit yang biasanya menjadi bagian sederhana dari keseharian terasa semakin sulit dinikmati.
Pagi datang tanpa matahari yang jelas, sementara malam berlalu tanpa bintang. Di antara keduanya, warga harus kembali berhadapan dengan udara yang membuat mata perih dan napas terasa sesak. (RK1)










