RiauKepri.com, PEKANBARU– Awal tahun 2026 menjadi masa yang sibuk bagi para petugas di lapangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau (BPBD Damkar) mencatat, sebanyak 11 kabupaten/kota di Riau terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan total luasan mencapai 1.041,74 hektare.
Kepala BPBD Damkar Riau melalui Kabid Kedaruratan, Jim Gafur, menyampaikan wilayah terdampak meliputi Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, serta Kota Dumai dan Pekanbaru.
“Hingga saat ini sudah 11 daerah di Riau yang ditemukan terjadi Karhutla. Total luasan Karhutla 1.041,74 hektare,” ujarnya, Ahad (22/2/2026).
Dari rincian data, Kabupaten Pelalawan mencatat luasan terbesar yakni 612,30 hektare. Disusul Bengkalis 201,01 hektare, Indragiri Hilir 64,70 hektare, Siak 63,53 hektare, serta Dumai 30,52 hektare. Sementara daerah lain seperti Kampar, Pekanbaru, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu mencatat luasan lebih kecil.
Tak hanya luasan lahan terbakar, BPBD juga mendeteksi 1.849 hotspot atau titik panas dan 128 fire spot atau titik api yang tersebar di berbagai wilayah.
Di balik angka-angka tersebut, ada kerja keras tim gabungan yang berjibaku di lapangan.
Personel BPBD kabupaten/kota, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api hingga pihak perusahaan bahu-membahu memadamkan api agar tidak merembet ke permukiman warga dan fasilitas umum.
“Laporan dari masing-masing daerah, Karhutla di wilayah sudah bisa ditangani. Hujan juga terjadi cukup rata di Riau beberapa hari terakhir ini,” kata Jim.
Hujan yang turun membawa kelegaan tersendiri bagi warga, terutama yang tinggal di sekitar lahan rawan terbakar. Asap yang sebelumnya sempat menyelimuti beberapa kawasan kini mulai berkurang, memberi ruang bagi masyarakat untuk kembali beraktivitas dengan lebih tenang.
Saat ini, Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat Karhutla guna memperkuat koordinasi dan percepatan penanganan. Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah pesisir seperti Siak, Indragiri Hilir dan Bengkalis.
“OMC dilakukan di wilayah pesisir Riau. Total sudah 7 ton garam (NaCl) disemai,” jelas Jim.
Dengan status siaga darurat dan keterlibatan berbagai unsur, diharapkan potensi kebakaran lanjutan dapat ditekan, sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman kabut asap yang kerap menjadi momok tahunan di Bumi Lancang Kuning. (RK1/mcr)







