RiauKepri.com, PEKANBARU– Pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi di Riau menjadi potret kuat kolaborasi lintas sektor dalam menjawab kebutuhan infrastruktur masyarakat.
Program yang diinisiasi Polda Riau ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Di tengah semangat tersebut, rencana kontribusi dari Baznas Provinsi Riau akhirnya dibatalkan setelah memunculkan pro dan kontra di tengah publik.
Meski demikian, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menegaskan bahwa langkah Polda tetap layak diapresiasi. Menurutnya, pembangunan ini sejak awal tidak bergantung pada anggaran pemerintah maupun dana sosial masyarakat. “Ini murni gerakan kolaboratif dengan semangat gotong royong,” ujarnya.
Di lapangan, jembatan tersebut menjadi harapan baru bagi masyarakat yang selama ini terkendala akses transportasi. Warga berharap kehadiran jembatan mampu memangkas jarak tempuh dan memperlancar aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Polda Riau memastikan pembiayaan proyek tetap aman melalui dukungan CSR dan partisipasi masyarakat.
Konsep pembangunan yang digunakan mengedepankan pendekatan pentahelix, melibatkan berbagai unsur secara bersama.
Ketua Baznas Riau Masriadi Hasan menyebut keputusan pembatalan diambil demi menjaga kepercayaan publik.
Ia menegaskan, dana yang dihimpun harus dikelola secara hati-hati dan transparan.
Di balik dinamika tersebut, semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan jembatan yang dinanti masyarakat. (RK1/*)







