RiauKepri.com, PEKANBARU– Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Muhammad Arief Hidayat Annas membuktikan bahwa mimpi besar tetap bisa diperjuangkan. Siswa kelas 12 MAN 2 Kota Pekanbaru ini diterima di 13 kampus luar negeri.
Arief berhasil membuka peluang kuliah di berbagai negara seperti Belanda, Selandia Baru, Malaysia, hingga Australia. Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tak hanya bagi dirinya, tetapi juga keluarga dan sekolahnya.
Remaja kelahiran Pekanbaru, 3 Juli 2008 ini mengaku minat untuk melanjutkan studi ke luar negeri sudah muncul sejak duduk di bangku kelas 10. Meski awalnya bercita-cita kuliah di Inggris, keterbatasan persiapan membuatnya menyesuaikan pilihan dengan peluang yang ada.
“Cita-cita saya awalnya mau kuliah di Inggris. Tapi karena persiapan masih belum maksimal, saya akhirnya memilih universitas yang bisa didaftar dengan dokumen yang sudah saya miliki,” ujar Arief, Selasa (7/4/2026).
Ketertarikannya pada bidang Urban and Regional Planning atau perencanaan wilayah dan kota menjadi alasan utama memilih kampus luar negeri. Ia menilai, bidang tersebut memiliki perkembangan yang lebih maju di luar negeri dibandingkan di Indonesia.
“Saya lebih tertarik ke Urban Planning karena sejak kelas sebelas memang sudah suka dengan perancangan kota,” katanya.
Dengan tekad kuat, Arief mendaftar ke sejumlah kampus secara daring. Ia mencari universitas yang memberikan kemudahan persyaratan, termasuk yang tidak memungut biaya pendaftaran. Strategi itu membuahkan hasil. Tanpa disangka, ia dinyatakan lolos di 13 kampus luar negeri.
“Saya daftar di banyak kampus luar negeri, biar banyak peluang lolos. Alhamdulillah, tak disangka saya diterima di 13 kampus luar negeri. Saya merasa senang sekali,” ujarnya.
Namun di balik prestasi tersebut, Arief dihadapkan pada kenyataan kondisi ekonomi keluarga. Ayahnya, Nasrul, merupakan pensiunan pegawai negeri sipil, sementara ibunya, Asmawati, tidak bekerja.
Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Arief memilih untuk tidak membebani orang tuanya. Ia kini berjuang mendapatkan beasiswa penuh agar dapat melanjutkan studi ke luar negeri.
“Saya masih menunggu beasiswa 100 persen. Kalau mengandalkan orangtua tentu tidak mencukupi, saya juga tidak mau membebani,” katanya.
Beberapa kampus telah menawarkan keringanan biaya, di antaranya University of Wollongong dan Charles Darwin University dengan potongan hingga 30 persen, serta RMIT University sebesar 20 persen.
Meski demikian, Arief tetap menargetkan beasiswa penuh sebagai jalan untuk mewujudkan mimpinya tanpa menambah beban keluarga.
Di balik sederet capaian itu, dukungan keluarga menjadi kekuatan utama. Orangtua dan saudara-saudaranya terus memberi semangat agar Arief bisa melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
Kini, Arief hanya tinggal selangkah lagi menuju mimpinya, menembus dunia internasional dengan harapan suatu hari bisa kembali dan membangun tata kota di Indonesia menjadi lebih baik.
Berikut 13 universitas yang menerima Arief
1. Bachelor of Urban Planning (Honours), RMIT University, Australia
2. Bachelor of Planning (Pathway to Master of Urban Management and Planning), Western Sydney University, Australia
3. Bachelor of Laws, Bond University, Australia
4. Bachelor of International Relationship Business, University of Canterbury, Selandia Baru
5. Bachelor of Laws, Swinburne University of Technology, Australia
6. Bachelor of Business/Bachelor of Laws, University of Wollongong, Australia
7. Bachelor of Aviation, University of Southern Queensland
8. Bachelor of Business, Auckland University of Technology, Selandia Baru
9. Bachelor of Business, Victoria University of Wellington, Selandia Baru
10. Bachelor in Economics and Finance (Hons), Management and Science University, Malaysia
11. Bachelor of Tourism (Joint Degree), Wageningen University & Research, Belanda
12. Bachelor of Science, Charles Darwin University, Australia
13. Bachelor of Laws, Deakin University, Australia. (RK1/*)








