Cerpen Mutiara Sri Wulandari
Satu pekan sudah sebuah bilik yang ditempati oleh seorang gadis berserakan layaknya kapal pecah. Bunga yang sebelumnya memberi keindahan di setiap sudut kamar kini bersimpah ruah di lantai hingga tak terlihat lagi keindahannya. Bilik itu terlihat semakin menakutkan sebab suara isak tangis dari seorang gadis bernama Alina yang masih saja meratapi kepergian seorang lelaki yang ia cinta untuk selamanya. Tatkala matanya memandang jari-jemari yang dilingkari oleh permata pemberian lelaki tersayang, tenggorokannya seolah semakin tercekat hingga napasnya sulit untuk lewat. Cincin itu adalah pemberian terakhir dari lelaki tersayang pada hari bertunangan satu bulan yang lalu. Dan isak tangis Alina semakin menggema saat ia menyadari bahwa hari ini seharusnya terjadi momen sakral antara dirinya dan lelaki tersayang.
“Sampai kapan?” Alina mengusap pelan wajahnya dari basahnya air mata. Benar juga, mau sampai kapan menjadi manusia yang tidak tentu arah seperti ini? Hidupnya harus tetap berjalan walau masih dihantui dengan kehidupan lelaki tersayang yang sudah berhenti berjalan. Kaki gadis itu perlahan menyentuh lantai yang dingin. Dibukanya kain jendela yang tak terlalu memancarkan cahaya sebab cuaca mendung, lalu ia duduk di sana dengan kursinya. Menatap alam yang tidak akan berubah walaupun suasana hidupnya kini berubah.
Alina menyipitkan mata saat dirinya sadar ada seorang laki-laki yang juga sedang duduk di seberang sana. Duduk termenung di balik jendela kamarnya sama halnya seperti apa yang sedang dilakukan Alina saat ini. Dari sekian banyak orang yang bergembira di luar sana, Alina sadar, bahwa yang bersedih saat ini bukan hanya dirinya. Mengapa selama ini Alina menyangka bahwa dunia tak adil sebab seolah kesedihan sedang berporos padanya saja, padahal banyak orang yang harus diperhatikan dunia selain dirinya. Bibir Alina sedikit melengkung, sedikit tertawa atas kesedihan hidupnya namun terselip juga sedikit rasa lega. Dilihat-lihat, bayangan laki-laki di seberang sana mirip dengan lelaki tersayangnya. Alina tersadar dan menggeleng, membuyarkan pikirannya yang sedang terbang entah kemana. Gadis itu beranjak dari sana lalu menutup kain jendela. Memiliki harapan agar esok hari adalah awal dimulainya hidup Alina yang normal kembali.
Dan benar saja, esok hari adalah awal dari Alina mencoba menghirup udara segar. Mencoba melakukan aktivitas pada umumnya sedikit demi sedikit, misalnya berolahraga mengelilingi komplek rumah. Jendela kamar kini menjadi tempat yang selalu ia kunjungi setelah bepergian. Ketika kain jendela itu dibuka, matanya selalu tertuju pada seorang lelaki yang duduk di jendala kamarnya di seberang sana. Posisinya masih sama seperti awal Alina melihatnya kemarin. Satu hari, dua hari, dan hari-hari selanjutnya, laki-laki itu selalu duduk di sana, terlihat nyaman, selayaknya Alina juga. Kepala Alina cukup dibuat berpikir tentang apa masalah yang terjadi pada laki-laki yang mirip dengan lelaki tersayangnya itu. Tidak menutup kemungkinan masalah laki-laki itu lebih besar dari apa yang dialami Alina kemarin.
Alina berdiri mengambil buku jurnalnya. Ia suka menulis apa yang terjadi di dalam hidupnya. Salah satunya adalah sikap laki-laki di seberang sana. Ini adalah hari ketiga laki-laki itu masuk ke dalam buku jurnal Alina. Ia menulis keanehan dari laki-laki tersebut, gerak-gerik halusnya, tatapannya, dan semua yang dilihat Alina dari balik jendela.
“Hari ini laki-laki yang mirip dengan lelaki tersayang ku itu mengenakan baju hitam.
Tatapannya lurus ke depan, sekali melihat ke kanan, sekali melihat ke kiri.”
Keesokan harinya Alina kembali duduk di balik jendela dan menulis di buku jurnalnya.
“Matanya semakin sayu. Apakah masalah laki-laki itu belum selesai? Tatapannya pun tak beralih, hanya lurus ke depan bahkan tanpa kedip.”
Lembar jurnal kembali dibuka esoknya.
“Sekarang dia banyak pergerakan, bukan semakin membaik, tapi semakin membururk. Tangannya selalu menghapus air mata yang tak berhenti mengalir. Sepertinya masalah laki-laki yang mirip dengan lelaki tersayang ku itu semakin bertambah. Aku khawatir karena matanya sudah semakin sembab dan terlihat menyeramkan.”
Alina menutup buku jurnalnya dan tersadar, sampai kapan ia harus menulis tentang laki-laki itu. Dan sampai kapan laki-laki itu berdiam diri di sana seolah tak memiliki semangat untuk menjalani hari selanjutnya. Setiap Alina menghampiri jendala, laki-laki itu selalu saja berada di sana seolah tak pernah beranjak. Alina jadi khawatir, ia meletak buku jurnalnya dan menutup kain jendela lalu berjalan ke luar rumah, mendekati perlahan rumah di seberang sana hingga kini ia berada tepat di depan pintu rumah tersebut.
Pintu dicoba ketuk oleh Alina, namun tidak ada respon. Sekali, dua kali, bahkan teriakan Alina yang nyaring pun tak digubris oleh tuan rumah. Alina mencoba memberanikan diri membuka pintu rumah perlahan. “Permisi,” gumam Alina pelan. Ia tersentak kala melihat rumah yang gelap dan sangat berdebu, layaknya rumah yang tak berpenghuni. Namun tak mungkin, Alina setiap waktu selalu menatap penghuninya dari seberang. Apa mungkin laki-laki itu sakit dan tidak mampu membersihkan rumah ini?
Alina meneguk saliva, dengan keberanian kecil, perlahan kakinya memasuki rumah lalu menaiki anak tangga dengan satu tujuan yakni langsung memasuki kamar laki-laki itu. Langkah kaki kecil yang sedikit bergetar kini terhenti tepat di depan kamar laki-laki itu. Alina menarik napas, menstabilkan dirinya agar berani membuka pintu kamar. Dirinya pun sudah mulai gelisah di dalam rumah menyeramkan namun rasa penasarannya juga meminta untuk dikabulkan.
Tangannya yang mulai dingin kini bergerak menyentuh knop pintu. Perlahan knop pintu ditekan dan suara pintu berbunyi pertanda pintu tidak dikunci. Tanpa ragu gadis itu memberanikan diri mendorong pintu dengan kuat hingga terlihat jelas seluruh isi kamar yang berantakan. Tidak pikir panjang, mata Alina langsung bergerak ke arah jendela yang biasa dilihatnya namun, mata gadis itu juga langsung membulat sempurna saat tak dilihatnya satu orang pun di sana. Hanya ada kursi goyang di dekat jendela tanpa ada laki-laki yang duduk di sana dengan mata sendu seperti yang ia lihat setiap waktu. Gadis itu menggeleng tak percaya, ia mencoba mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dengan harapan menemukan laki-laki itu, namun hasilnya nihil, rumah itu benar-benar tidak ada penguhini sama sekali.
Alina mundur selangkah lalu berlari secepat mungkin menuju rumah sebab dirinya yang sudah begitu ketakutan di dalam rumah tersebut. Gadis itu cepat-cepat memasuki kamar dan kembali menuju jendelanya untuk memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar tidak ada di seberang sana, jika benar tidak ada, maka ini adalah pertama kalinya.
Tangan Alina bergetar, kini ia meraih kain jendela dan dengan cepat menyingkapnya. Jantung Alina seketika terpacu semakin kencang saat dilihatnya bahwa laki-laki itu … duduk di sana seperti biasanya menatap lurus ke depan. Kini laki-laki itu seolah menatap Alina yang penuh dengan ketakutan. Kaki Alina melemas, ia terduduk dengan napas yang terengah-engah. Apa maksud dari semua yang Alina lihat, tadi di rumah itu benar-benar tidak ada orang sama sekali namun kenapa laki-laki itu kembali duduk di sana.
Mata Alina semakin membelalak tatkala dilihatnya laki-laki itu mengikuti postur tubuh Alina yang saat ini terduduk di lantai. Alina mengernyitkan dahi saat dilihatnya laki-laki tersebut mengikuti gerakannya secara detail. Kini Alina mencoba mengangkat tangannya dan tanpa adanya jeda waktu tangan laki-laki tersebut juga terangkat di waktu yang sama. Hal ini terlihat seolah Alina sedang … bercemin?
Tenggorokan Alina semakin tercekat, napasnya sulit keluar sebab dada yang semakin sesak. Gadis itu mencoba berdiri untuk memastikan keadaan, dan benar saja, laki-laki di balik jendela sana melakukan hal yang sama tanpa jeda waktu sedetik pun. Namun ada hal yang membuat Alina semakin ketakutan, saat dilihatnya laki-laki di seberang sana kini perlahan terlihat berubah di mata Alina menjadi seorang perempuan muda yang cantik dengan rambut yang berantakan, tubuh lusuh serta wajah yang sangat sendu.
Alina menggelengkan kepala, kakinya perlahan mundur beberapa langkah hingga ia lunglai dan terjatuh. Dirinya semakin tak terkendali, cepat-cepat ia kembali berdiri dan mengambil buku jurnalnya. Alina mulai membaca satu persatu tulisannya tentang laki-laki di balik jendela itu.
Tangan Alina benar-benar semakin bergetar saat dilihatnya tulisan yang ia tulis berubah. Seluruh tulisan yang Alina buat tentang “laki-laki” itu kini berubah menjadi “aku“.
“Hari ini aku mengenakan baju hitam. Tatapanku lurus ke depan, sekali melihat ke kanan, sekali melihat ke kiri.”
Lembar berikutnya Alina buka dengan tangan yang semakin bergetar dan mulai basah.
“Mataku semakin sayu. Apakah masalah ku belum selesai? Tatapanku pun tak beralih, hanya lurus ke depan bahkan tanpa kedip.”
Lembar berikutnya Alina buka hingga membuat lembaran itu koyak sebab gemetarnya tangan Alina.
“Sekarang aku banyak pergerakan, bukan semakin membaik, tapi semakin membururk. Tanganku selalu menghapus air mata yang tak berhenti mengalir. Seolah masalah ku semakin bertambah. Aku khawatir karena mataku ini sudah semakin sembab dan terlihat menyeramkan.”
Buku jurnal itu terjatuh bersamaan dengan tubuh Alina. Tangannya bergerak meremas rambutnya. Kepalanya menggeleng seolah tidak menerima dirinya yang masih dihantui oleh depresi dirinya sebab kepergian lelaki tersayangnya. Ia pikir dirinya berhasil keluar dari zona kesedihan ini, nyatanya ia masih diselimuti kesedihan. Teriakan mulai menggema memenuhi ruangan. Seluruh barang yang masih tertata di kamarnya kini kembali berhamburan di lantai.
Namun, kesedihan yang sudah mulai menguasai diri Alina itu kini tiba-tiba reda. Gadis itu terdiam menatap jendela, tak lama setelahnya ia tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak. Kakinya melangkah maju dan kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan jendelanya itu. Gadis itu kini duduk diam menatap pantulan tubuhnya pada rumah seberang sembari menggenggam buku jurnalnya. Menunggu apapun yang bisa ia tulis kembali karena itulah kesenangannya.
Berhati-hatilah jika kamu melewati kamar Alina, karena bisa saja dirimu masuk ke dalam buku jurnal Alina, yang ia tulis di balik jendela kamarnya.
Mutiara Sri Wulandari adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak







