Menu

Mode Gelap
Polri Hadir untuk Petani, Polsek Siak Kecil Serahkan Bibit Jagung Tambahan Kegiatan Lanjutan Pembinaan Kelompok Tani Mantiasa, Polsek Tebing Tinggi Barat Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional Perdana Terapkan Manajemen Talenta, Empat Putra Daerah Dilantik Jadi Kadis di Depan Istana Siak BRK Syariah dan Pemko Batam Jalin Kerja Sama Subsidi Margin untuk Pelaku Usaha Mikro Ketua Forum Komite Sekolah Kepulauan Meranti Akui Bantu Pengelolaan Program Bea Siswa ADIK Afirmasi Sejak 2018 Aktivis Laporkan Menteri KP dan Gubernur Kepri Terkait Jet Pribadi dan Sedimentasi

Meranti

Pemuda Desa yang Mengubah Sagu Menjadi Inovasi Mendunia, Dukungan Pemerintah Daerah Kemana?

badge-check


					Ferenki dan sertifikat. (Foto: ist) Perbesar

Ferenki dan sertifikat. (Foto: ist)

RiauKepri.com, MERANTI – Di tengah persoalan limbah sagu yang bertahun-tahun menjadi momok di Kepulauan Meranti, muncul jawaban dari tempat yang tak terduga.

Bukan dari laboratorium kampus atau perusahaan besar, melainkan dari tangan seorang pemuda desa asal Sungai Tohor , Tebingtebing Timur, Meranti bernama Ferenki yang memilih mengabdi untuk lingkungan sejak 2010.

Tanpa gelar sarjana dan tanpa fasilitas memadai, Ferenki menempuh jalan yang jarang dipilih anak muda seusianya. Ia menjadikan hutan, sungai, dan tumpukan limbah sagu sebagai ruang belajar sekaligus ladang pengabdian.

“Menjaga lingkungan bukan sekadar pekerjaan sosial bagi saya. Ini panggilan hidup,” ujar Ferenki saat ditemui di bengkel riset sederhananya beberapa hari lalu.

Berawal dari Keresahan Limbah Sagu Perjuangan Ferenki memasuki titik penting pada 2020. Saat itu, ia melihat limbah repu dan uyung sagu menumpuk di sungai serta lahan warga.

Sebagai salah satu daerah penghasil sagu terbesar di Riau, Kepulauan Meranti menghasilkan limbah sagu hingga puluhan ton setiap hari.

Namun selama ini, limbah tersebut hanya dianggap sebagai sampah tanpa nilai ekonomi.

Berbekal tekad dan catatan riset yang ia tulis sendiri, Ferenki mulai melakukan penelitian swadaya bersama beberapa rekannya sesama aktivis lingkungan.

Tanpa bantuan hibah dan tanpa alat modern, seluruh proses dilakukan secara sederhana di lahan terbuka.

“Alat kami beli bekas. Bahan dikumpulkan dari pabrik sagu yang mau bekerja sama. Kalau gagal, besok kami coba lagi,”katanya.

Selama hampir satu tahun penuh, proses uji coba itu menghabiskan dana hampir Rp90 juta yang berasal dari uang pribadi Ferenki dan bantuan sukarela teman-temannya.

Uang yang semestinya digunakan untuk kebutuhan keluarga justru ia alihkan demi mencari solusi atas persoalan limbah sagu.

Lahirkan Batako dan Briket Ramah Lingkungan Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Dari limbah sagu, Ferenki berhasil menciptakan dua produk bernilai ekonomi. Produk pertama adalah Batako Repu Sagu, yaitu bahan bangunan alternatif yang dibuat dari limbah padat sagu.

Berdasarkan uji awal, batako ini memiliki bobot lebih ringan namun tetap cukup kuat digunakan untuk konstruksi non-struktural. Inovasi tersebut dinilai berpotensi menekan biaya pembangunan rumah masyarakat.

Produk kedua adalah Briket Uyung Sagu, yakni limbah halus sagu yang dipadatkan menjadi bahan bakar alternatif.

Briket ini dianggap lebih ramah lingkungan dibanding arang kayu dan dapat menjadi solusi energi masyarakat saat harga LPG meningkat.

Dua inovasi tersebut kemudian dibawa ke ajang kompetisi internasional di bidang pengelolaan limbah.

Hasilnya di luar dugaan. Ferenki bersama tim berhasil meraih juara pertama kategori pengelolaan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Waktu nama Meranti disebut sebagai pemenang, saya langsung ingat bapak dan ibu di kampung. Ini bukti anak desa bisa bersaing,”ucapnya.

Prestasi Mendunia, Dukungan Daerah Belum Datang

Meski telah mengharumkan nama daerah di tingkat internasional, perjalanan Ferenki belum sepenuhnya mulus.

Hingga pertengahan 2026, inovasi yang ia ciptakan belum masuk dalam program pengembangan pemerintah daerah.

Ferenki mengaku telah mendatangi sejumlah instansi seperti DLHK, Diskop UKM, dan Bappeda Kepulauan Meranti untuk meminta dukungan berupa teknologi, alat produksi, hingga pendampingan usaha agar inovasi tersebut dapat diproduksi secara massal.

“Kalau ada alat press dan ruang produksi, satu desa bisa saya dampingi membuat usaha ini. Satu pabrik kecil saja bisa menyerap 15 sampai 20 tenaga kerja dari eks pekerja panglong arang,”jelasnya.

Namun hingga kini, harapan itu belum terjawab. Keterbatasan anggaran, belum adanya skala uji besar, serta belum masuknya inovasi tersebut dalam program prioritas menjadi alasan yang masih dihadapi.

Di tengah segala keterbatasan itu, Ferenki tetap memilih bertahan. Baginya, limbah sagu bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi peluang besar untuk mengangkat ekonomi masyarakat desa sekaligus menjaga alam tetap lestari. (RK12).

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kegiatan Lanjutan Pembinaan Kelompok Tani Mantiasa, Polsek Tebing Tinggi Barat Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

20 Mei 2026 - 10:16 WIB

Ketua Forum Komite Sekolah Kepulauan Meranti Akui Bantu Pengelolaan Program Bea Siswa ADIK Afirmasi Sejak 2018

20 Mei 2026 - 08:00 WIB

Pengungkapan Kasus Narkoba Jaringan Internasional Dimusnahkan

19 Mei 2026 - 20:03 WIB

Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Tebingtinggi Barat Turun melakukan pembinaan kepada Masyarakat

19 Mei 2026 - 17:15 WIB

Polsek Tebingtinggi Cek Ketahanan Pangan P2B Kolam Lele di Desa Banglas Barat

19 Mei 2026 - 14:21 WIB

Trending di Meranti