Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Ahad 24 Mei 2026: Batam hingga Natuna Berpotensi Diguyur Hujan Kepala Desa Ulu Maras Apresiasi Program Padat Karya Bandara Letung, 430 Warga Terlibat Dukung Pemulihan Ekonomi, UPBU Letung Libatkan Ratusan Warga dalam Padat Karya Tangan yang Dulu Merangkulku Walikota Batam ‘Dikerubungi’ Wartawan Nasional di Tanah Suci Makkah Diduga Perkosa Karyawati di Toko, Pria Berinisial A Dilaporkan ke Polsek Mandau

Ragam

Tangan yang Dulu Merangkulku

badge-check


					Marzuli Ridwan Al-bantany Perbesar

Marzuli Ridwan Al-bantany

Cerpen : Marzuli Ridwan Al-bantany

Petang itu di makam Hanif sahabat baikku, hujan turun rintik-rintik. Batu nisannya masih basah, belum sempat ditumbuhi lumut dan ilalang. Di atasnya, kuletakkan setangkai melati. Kembang indah yang dulu dia benci.

“Kami bersahabat sejak Tsanawiyah lagi, Pak Cik,” kataku kepada petugas makam di kejauhan.

“Sekarang, aku yang bunuh dia.”

Itu bohong. Aku tak pernah membunuhnya. Tapi malam itu, tanganku yang menggenggam pisau itu.

***

 Dalam kisah ini, aku dan Hanif berkawan sudah sangat lama, sejak di bangku Tsanawiyah lagi. Pertemanan dan persahabatan kami berdua terus berlanjut hingga saat ini setelah kami benar-benar dewasa. Saat masih di bangku SLTA di kota, kami sering bersepeda bersama. Pulang dan pergi dari kampung ke kota juga sering bersama. Walau kami satu kos di kota, beberapa urusan pribadi kami lakukan sendiri-sendiri. Tak perlu dilakukan bersama. Hanya kalau terpaksa saja pekerjaan itu kami lakukan secara bersama-sama, seperti jika mengerjakan PR atau tugas sekolah yang diberikan guru karena sulitnya untuk mencari jawabannya.

Singkat cerita, setelah lulus SLTA, Hanif melanjutkan kuliah sastra. Aku? Aku tetap di kampung, membuka warung kopi kecil di depan rumah. Memang bukan sebuah cita-cita besar yang kuimpikan selama ini, namun cukup untuk memenuhi keperluan makan dan caraku membantu Mak.

Aku dan Hanif sekarang sangat jauh berbeda. Ia sering pulang tiap liburan, membawa buku, membawa cerita dari kota dan lain sebagainya.

“Suatu hari nanti aku bakal menjadi seorang penulis terkenal. Namamu juga akan kutulis di ucapan terima kasih,” kata Hanif. Aku percaya, karena sahabat tak pernah bohong.

***

Tiga tahun telah berlalu. Keinginan Hanif ingin menjadi seorang penulis benar-benar terwujud. Bahkan ia telah menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen. Kali ini sebuah buku cerpennya itu memenangi lomba penulisan cerpen tingkat nasional. Apa yang membuatku gembira, sebuah fotoku disematkannya di belakang bukunya itu: “Untuk Afifuddin, yang selalu menjadi tempat untuk pulang.”

Sejak saat itu, orang-orang kampung mulai memanggilku “sahabat penulis”. Anak-anak selalu meminta tanda tangan Hanif melalui aku. Mak bangga. Tapi di dalam dadaku, ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan. Seperti jamur di dinding yang lembab.

Tak berapa lama, Hanif diundang ke Jakarta. Dia mengenakan kemeja putih bermotif bunga-bunga, dipadu celana berwarna coklat dan bersepatu kulit hitam. Sedang aku masih berkutat dengan kopi dan gula. Di grup WhatsApp kami anak-anak kampung, dia mengirim sebuah foto: makan malam dengan editor, foto bareng sastrawan besar, tiket pesawat bisnis dan lainnya.

“Semoga suatu hari aku bisa membawamu ke sini, Afif,” tulis Hanif yang sengaja pesan itu ditujukan kepadaku.

“Semoga,” jawabku.

Padahal dalam hati aku berbisik: Kenapa bukan aku saja yang di sana? Aku yang selalu mendengarkan dia mengeluh setiap malam waktu menulis. Aku yang meminjamkan laptop waktu laptopnya rusak.

Aku tahu, ini adalah perasaan iriku kepadanya. Aku juga tahu bahwa iri itu racun. Ia tak langsung membunuh. Ia membuatku membanding-bandingkan setiap tarikan napasku dengan napas orang lain.

Aduhai, sungguh menyakitkan sekali perasaan itu.

***

“Fif, naskahku hilang. File laptop terhapus semua. Penerbit minta minggu ini juga. Engkau masih menyimpan draf yang aku kirim dua bulan lalu, kan?”

Aku memang menyimpannya. Selama ini Hanif sering mengirim draf naskah karya-karyanya ke emailku untuk dibaca. Katanya, akulah satu-satunya sahabat yang mengerti dirinya.

Tanpa pikir terlalu lama, kubuka laptop. File itu ada. 80 halaman. Judulnya Kemelut di Tanah Kami,- sebuah cerita tentang aku, dia dan kampung halaman kami. Tapi malam itu, aku tak langsung mengirim naskah itu kepadanya.

Aku tahu, jika naskah itu sangat bagus. Kalau naskah ini terbit, dia akan dapat hadiah sastra lagi.

Hanif akan diwawancarai TV lagi.

Dia akan semakin jauh meninggalkan aku.

Di kepalaku muncul pikiran busuk: Bagaimana kalau aku hapus saja namanya? Kuganti dengan namaku? Memang gila. Tapi godaan itu manis rupanya, seperti kopi pahit yang dibancuh dengan gula yang berlebihan.

Aku tak langsung melakukannya. Aku hanya… menundanya beberapa hari. Dan tepat pada hari ketiga, aku kirim email ke penerbit. Lampirannya naskah milik Hanif. Tapi nama penulisnya aku ganti dengan namaku: Afifuddin Sanjaya.

Dua minggu kemudian, aku dihubungi pihak penerbit.

“Selamat. Naskah Anda lolos seleksi. Kami mau terbitkan bulan depan.”

Aku menggenggam telepon sampai tangan gemetar. Berhasil. Tapi malam itu, aku dihantui rasa bersalah. Bayang-bayang wajah Hanif selalu muncul di mataku.

Satu hari berselang, kabar menyebar. “Sahabat penulis mencuri naskah.”

Warung kopiku mendadak sepi. Sebagian besar pelangganku kini menghilang entah kemana. Mereka takut kopi yang kuracik ditaburi racun, seperti naskah Hanif yang dengan sengaja kuakui sebagai naskah milikku sendiri.

Entah bagaimana pula, Hanif tiba-tiba diwawancara pihak media. Dia tak menyebut namaku. Tapi orang sudah tahu. Aku sangat malu dan marah. Sikap iri-ku kepadanya kini telah berubah menjadi benci.

Suatu malam aku datang ke kosnya di kota. Aku membawa sebilah pisau. Aku tak berniat membunuh. Aku hanya ingin menakuti. Ingin dia merasakan takut seperti yang kurasakan. Tapi Hanif membuka pintu sambil tersenyum.

Malam itu dia tak membenciku sama sekali. Kehadiranku di kosnya disambut denan penuh ramah. Dia juga menjelaskan bahwa dia sudah mengirim email ke penerbit bahwa naskah itu milik kami berdua. Menyangkut royalti nanti akan dibagi dua.

“Engkau masih tetap bisa menulis, Afif. Mulai dari sini, bukan dari mencuri.”

Aku jatuh terduduk mendengar penjelasannya. Semua amarahku seketika luntur. Dalam seketika ia menepuk bahuku dan menarikku kembali untuk berdiri dengan kedua tangannya,- tangan yang suatu ketika dahulu pernah merangkul dan menolongku tatkala jatuh dari pohon manga besar di samping rumahnya. Kalau saja ia tak dengan cepat dan cekatan merangkul dan menyambutku jatuh saat itu, sudah tentu aku mengalami patah tulang dan bahkan barangkali menemui ajal kematian. Tapi kini, aku yang mengkhianati pertolongannya itu. Aku telah membuatnya merasa sangat dirugikan dan dikecewakan. Terlebih, ada sebilah pisau tajam yang sejak tadi telah kusiapkan di ikatan depan perutku.

Hanif merangkul dan memelukku dengan erat. Dan tanpa diketahuinya, diam-diam ku berusaha memegang hulu pisau yang terselip di perutku agar ia tak menyadarinya. Tapi naasnya, Hanif tanpa kuduga kakinya tergelincir dan terjatuh. Aku pun ikut tertunduk tak kuasa menahan tarikan kedua tangannya.

“Afif?” seru Hanif dalam rangkulannya yang sulit untuk ku lepaskan.

Aku mencoba mengangkat kepala, berupaya lagi untuk lepas darinya. Tapi usahaku itu kembali sia-sia. Tangannya masih memegang erat pinggangku dan membuat aku ikut terjatuh dan menindih tubuhnya. Malangnya lagi, pisau yang kupegang tak sempat ku lemparkan jauh dari tubuh kami. Pisau itu secepat kilat menusuk perutnya dan mengalirkan darah segar.

Kini pisau itu benar-benar tertusuk di perut Hanif. Tepat di bawah pusarnya. Dalam erangannya, dia masih sempat menatapku. Tidak marah. Hanya gurat-gurat keedihan dan rasa terkejut tampak menyeruak dari raut wajah dan keningnya.

“Hanif…”

“Aku tak… aku tak sengaja, Hanif!” aku berteriak sambil memegangi tubuhnya yang mulai melemah dan ambruk ke lantai.

Kurasakan darahnya mengalir hangat di telapak tanganku. Sama hangatnya seperti kopi yang dahulu pernah kubuatkan untuknya sewaktu sedang begadang menulis.

“Maafkan aku, Hanif!”

“Aku maafkan engkau, Afif. Jangan benci dengan dirimu sendiri, ya!”

Kulihat tangan Hanif perlahan terlepas dari pangkuanku. Lalu dia diam. Selamanya.

***

Udara sejuk petang ini kuhirup dalam-dalam. Aku ingat benar sudah delapan tahun ini aku tak merasakan udara kebebasan sebegini. Pohon beringin dan aneka bunga yang berjejer rapi di pemakaman itu seakan gembira menyambutku datang.

“Hanif! Mulai saat ini aku akan selalu datang di setiap hari kematianmu. Akan kubacakan juga kisah-kisah yang pernah kautuliskan,- sebagai tanda bahwa aku tak pernah sedikit-pun berniat untuk menghentikan langkahmu.”

“Aku tahu, walau engkau tak suka melati ini karena baunya menurutmu terlalu menyengat, namun tetap akan kubawa dan kuhadiahkan untukmu setiap kali aku datang. Aku suka melati, karena bunga ini mengingatkanku pada sesuatu yang indah yang ternyata bisa menyakiti jika dipegang terlalu erat.”

Di makamnya, di tengah awan hitam yang menggumpal dan mulai melintasi areal pemakaman itu, kutumpahkan semua rasa sedih dan penyesalan ini. Aku merasa sangat berdosa, sebab ia mati karena tanganku. Dan sampai hari ini aku masih hidup karena tangannya juga-lah,- tangan yang dulu pernah merangkulku, tak pernah melepaskanku, bahkan setelah aku nyata-nyata mengkhianatinya.

Gerimis mulai jatuh. Aku berdiri.

“Selamat jalan, sahabat,” kataku.

Dalam guruh dan hujan deras, aku merasa puas karena bisa jujur setelah semuanya terlambat.

Bengkalis, menjelang akhir Mei 2026

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penyair, penulis dan sastrawan Indonesia yang bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia dikenal aktif melahirkan karya sastra yang kental dengan nuansa lokal, religius, serta refleksi sosial kemasyarakatan. Beberapa buku kumpulan cerpen tunggalnya yang telah diterbitkan antara lain Burung-Burung yang Mengkapling Surga (FAM Publishing, 2018) dan Pada Senja yang Basah (Dotplus Publiser, 2021).

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Perkosa Karyawati di Toko, Pria Berinisial A Dilaporkan ke Polsek Mandau

23 Mei 2026 - 11:48 WIB

Polres Bengkalis Melalui Polsek Bengkalis Intensif Rawat Jagung Pipil Dukung Swasembada Pangan dan Program Asta Cita Presiden RI

23 Mei 2026 - 11:45 WIB

Polsek Tebingtinggi Cek Ketahanan Pangan Hidroponik Milik Warga

23 Mei 2026 - 11:42 WIB

Sinergi Polres Bengkalis dan Desa Kelebuk Wujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

22 Mei 2026 - 10:33 WIB

Polsek Pinggir Ungkap Peredaran Sabu 15,39 Gram di Kebun Sawit Desa Semunai

22 Mei 2026 - 07:17 WIB

Trending di Bengkalis