Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 22 Juli 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Melayu FIB Unilak Ikuti Pelatihan Kompetensi Calon Guru di BGTK Riau Gas Metana: Pembelajaran Berharga dari Ledakan di Grand Polonia Medan Polsek Mandau Ungkap Kasus Penyalahgunaan Ekstasi, Dua Terduga Diamankan Dukung Program P4GN Persiapan Porprov Riau 2027, KONI dan Disporapar Meranti Mulai Matangkan Persiapan Polsek Bantan Siapkan Lahan Ketahanan Pangan, Gandeng Kelompok Tani Milenial Tanam Jagung Pipil

Minda

Tulang Politik

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

ORANG tua-tua di kampung kami, Wak, tak hanya pandai berpantun tapi mereka juga pandai menyampaikan sindiran dengan halus, sampai yang kena sindir pun kadang ikut ketawa sambil garu kepala. Ada satu petuah lama yang sering berlegar di warung kopi, “macam menolong anjing terjepit, begitu lepas kita yang digigit.”

Petuah itu bermaksud lebih kepada memahami tabiat dan watak. Kalau kita sudah tahu sifat sesuatu, jangan pula terkejut apabila ia bertindak mengikut sifatnya.

Anjing, menurut perumpamaan orang tua-tua, akan sangat setia kepada siapa yang memberinya makan. Yang mengasi tulang itulah yang dianggap tuannya. Kalau hari ini si A memberi tulang, si A itu yang dibela. Besok kalau si B yang memberi tulang lebih besar, maka ekor pun bergoyang ke arah si B.

Begitulah tabiat yang sering dijadikan ibarat. Maka apabila ada orang menolong “anjing terjepit” lalu kemudian digigit, orang kampung biasanya tidak terus menyalahkan anjing. Sebab, memang begitu lah tabiat anjing. Kalau anjing menyusukan anak, membajak sawah dan bertelur, barulah kita heran.

Sebetulnya, Wak, yang menjadi masalah itu bukan anjing menggigit dan siapa yang memberi tulang, tapi manusia yang sudah diberi tahu sejak kecil tentang tabiat anjing, tetapi masih mengharap anjing berperangai seperti penasehat kampung.

Dalam politik pun kadang-kadang begitu.
Ada orang membela seseorang habis-habisan. Dipuji pagi petang, diangkat ke sana sini, dibersihkan jalan tempat laluannya. Tetapi apabila angin berubah arah, orang yang dibela tadi melompat pagar sambil melambaikan tangan.
Lalu yang ditinggalkan mengeluh di media sosial: “Aku dikhianati!”

Orang tua-tua Melayu yang membaca mungkin hanya tersenyum. “Bukan engkau dikhianati. Engkau terlupa mengenali siapa yang engkau pelihara.”

Dalam budaya Melayu, manusia diajar memilih sahabat bukan kerana tulangnya besar, tetapi kerana budinya besar.
Ukuran bukan pada siapa yang memberi makan hari ini, tetapi siapa yang tetap bersama ketika dapur tidak berasap.

Adat Melayu mengajar bahwa marwah lebih tinggi daripada apa yang didapat dari kerjasama. Agama pula mengajar bahwa kesetiaan bukan dijual beli seperti ikan di pasar.

Anjing berjalan berpandukan hidungnya mencari tulang. Manusia berjalan berpandukan akal, adat, dan agama mencari jalan pulang.

Kalau manusia masih hidup hanya mengejar tulang, berebut tulang, dan bertukar arah kerana tulang, maka bedanya dengan anjing tinggal ekor saja yang belum tumbuh.

Maka pesan orang tua-tua Melayu:
“Kalau hendak mengenal manusia, lihatlah ketika dia mendapat kuasa. Kalau hendak mengenal sahabat, lihatlah ketika kita susah. Dan kalau hendak mengenal anjing, tak perlu susah-susah, kasi saja tulang.”

Begitulah sindiran di kampung kami, Wak. Bunyinya lucu, tetapi isinya kadang lebih tajam daripada mata parang yang baru diasah. Jadi, tak bual lah kalau sekarang kita bercakap soal tabiat anjing dan tulang. Macam meludah ke langit jadinya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Melayu FIB Unilak Ikuti Pelatihan Kompetensi Calon Guru di BGTK Riau

21 Juli 2026 - 21:03 WIB

Gas Metana: Pembelajaran Berharga dari Ledakan di Grand Polonia Medan

21 Juli 2026 - 18:20 WIB

Rida K Liamsi Laporkan Dugaan Penipuan dan Pengalihan Aset ke Polda Riau, Sengketakan Tanah di Jalan Arifin Ahmad

20 Juli 2026 - 19:02 WIB

Empat Daerah di Riau Tuntas Bayar Gaji dan TPP ke-13, Siak Masuk Daftar Meski Dihimpit Tekanan Fiskal

20 Juli 2026 - 15:33 WIB

Di Ruang Sidang, Abdul Wahid Minta Maaf Kepada UAS: “Saya Menyeret Nama Beliau”

20 Juli 2026 - 12:16 WIB

Trending di Pekanbaru