HARI Ahad macam inilah waktunya suami unjuk kasih sayang. Jangan asyik membentang badan di rumah sambil pegang telepon genggam, sesekali ikutlah bini ke pasar. Baru sampai pintu pasar, dada masih tegak.
Lima belas menit kemudian, kaki mulai longlai. Bini pula berjalan macam orang ikut pertandingan jalan santai. Dari kedai sayur ke kedai ikan, dari kedai ikan ke kedai bawang, lepas itu balik lagi ke kedai sayur. Kita yang mengikut di belakang sudah macam pengawal pribadi, cuma bedanya tak bergaji.
Dalam hati kita terbit pertanyaan. “Kenapa tak beli yang tadi saja?” Rupanya bini sedang mencari selisih harga lima ratus rupiah sampai seribu rupiah. Kita pun tersenyum kecil. “Aduhai, penat betul dibuat hanya demi duit segitu.”
Tapi cuba kita berpikir panjang, wak. Kita duduk di warung kopi dua jam, secangkir kopi, pisang goreng, rokok pula menyusul. Tak terasa keluar dua puluh lima ribu sampai lima puluh ribu rupiah. Tak ada yang dibawa pulang selain cerita bola dan politik. Sedangkan bini berpeluh keliling pasar, baliknya membawa ikan, sayur, cabai, beras, dan rezeki untuk seisi rumah.
Belum habis di situ. Di pasar itu bini bukan sekadar berbelanja. Dia sedang menyambung silaturahmi. Bertanya khabar kepada pedagang yang sudah bertahun-tahun dikenalnya. Dalam adat Melayu, murah senyum dan panjang silaturahmi itu juga rezeki.
Malam harinya pula, suami sibuk menonton bola kaki sampai azan Subuh berkumandang. Piring di dapur berlambak macam pulau kecil. Paginya bini sudah bangun, memasak, menyiapkan bekal anak, mengantar ke sekolah, menyapu rumah, sementara suami masih menarik selimut sambil berkata, “Lima menit lagi.”
Kalau begitu modelnya, jangan pula heran bila bini sesekali berkata, “Abang ini pemain bola atau penghuni rumah?” Padahal, kalau suami ringan tangan mencuci piring, menyapu lantai, atau sekadar mengangkat barang belanjaan, kerja itu tak mengurangi marwah lelaki. Malah menambah mulia di mata keluarga.
Orang tua-tua Melayu sudah lama mengingatkan. Dalam Tunjuk Ajar Melayu, Tenas Effendy berpesan bahwa suami istri itu ibarat mengemudi sebuah bahtera. Bahtera takkan sampai ke seberang kalau seorang saja yang mendayungnya. Yang elok lagi molek, ialah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, pahit manis dirasa bersama, serta seiya sekata dalam melangkah.
Jadi, wak, sayang bini itu bukan pandai mengucap “I love you” tiap malam, tetapi sanggup menemani ke pasar tanpa mengomel, rela mengangkat barang belanjaan, ringan mencuci piring, dan memahami letihnya pasangan. Sebab rumah tangga yang bahagia bukan dibangun oleh siapa yang paling kuat berbicara, tetapi oleh siapa yang paling ikhlas saling membantu.
Begitulah tunjuk ajar orang Melayu. Kasih sayang bukan hanya di bibir, tetapi tampak pada budi, pada tangan yang ringan menolong, dan pada hati yang sama-sama menjaga rumah tangga sampai ke ujung usia.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








