RiauKepri.com, KUNDUR BARAT – Budidaya ikan kakap putih di Desa Sawang Laut Kecamatan Kundur Barat sangat menjanjikan, terbukti Pokdakan Tuah Bersatu Terus mengembangkan Budidaya Kakap Putih lebih kurang 3000 bibit.
Ketua Pokdakan Tuah Bersatu Amran mengatakan sejak Tahun 2022, Pokdakan Tuah Bersatu mengembangkan budidaya kakap putih sebagai salah satu upaya meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir sehingga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para nelayan, ujar Amran Kamis (11/06/2026) di Sawang.
Melalui pendampingan, pelatihan, bantuan sarana dan prasarana, kelompok ini terus berkembang dan mampu menghasilkan panen meski menghadapi berbagai tantangan dalam proses budidaya.
Amran mengatakan, awalnya anggota kelompok hanya mengetahui budidaya kakap putih dari berbagai tayangan dan informasi yang mereka lihat. Namun berkat pelatihan yang diberikan PT TIMAH serta dukungan pelatihan dari Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, mereka mulai berani mencoba membudidayakan kakap putih secara mandiri.
“Budidaya kakap putih mulai kami rintis pada Tahun 2022. Selanjutnya pada Tahun 2023 kami mulai mendapatkan bantuan pembibitan dan pendampingan. Awalnya kami mencoba menebar 500 ekor benih kakap putih dan berhasil menghasilkan sekitar 210 kilogram ikan. Dari situ kami semakin yakin untuk mengembangkan usaha budidaya ini,” ungkap Amran semangat.
Keberhasilan awal tersebut mendorong kelompok untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas budidaya. Mereka kemudian mendapat kepercayaan untuk mengembangkan 3.000 ekor benih kakap putih berukuran 8-10 sentimeter yang juga berhasil memberikan hasil ekonomi bagi kelompok.
Meski demikian, perjalanan budidaya kakap putih tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan pengetahuan, mahalnya biaya pakan, hingga faktor cuaca menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Menurut Amran, dukungan PT TIMAH sangat membantu kelompok untuk tetap bertahan dan melanjutkan budidaya. Bantuan pakan yang diberikan perusahaan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha mereka.
“Kami pernah menghadapi kendala besar, terutama saat cuaca panas ekstrem pada Tahun 2025. Saat itu kami juga memiliki keterbatasan alat untuk mengukur suhu air tambak. Namun PT TIMAH terus mendampingi kami sehingga kami tetap semangat untuk belajar dan mengembangkan budidaya ini,” ungkap Amran.
Seiring perkembangan teknologi budidaya perikanan, Pokdakan Tuah Bersatu kini juga mulai mengembangkan sistem bioflok. Menurut Amran, metode ini dinilai lebih efektif karena dapat membantu mengurangi berbagai tantangan yang selama ini dihadapi dalam budidaya tambak, terutama pada fase pembesaran benih.
Zaman terus berkembang dan kami juga harus menambah ilmu. Dengan sistem bioflok, pengelolaan benih menjadi lebih efektif dan beberapa tantangan di tambak bisa diminimalkan. Saat ini kami masih terus belajar untuk mengembangkan metode tersebut, ujar Amran.
“Kalau kami melihat ke belakang, awalnya kami hanya punya cerita dan keinginan. Sekarang lokasi budidaya sudah produktif. Apa yang menjadi cita-cita kelompok sudah sekitar 70 persen terwujud. Alhamdulillah, PT TIMAH benar-benar membantu kami untuk berkembang, ujar Amran. (RK14)







