ORANG tua-tua di kampung kami, Wak, sudah lama berpesan, “Gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah.” Kini, zaman sudah berubah. Yang mati bukan lagi pelanduk saja, kancil, semut, belalang, bahkan rumput pun ikut rata dipijak.
Dua ekor gajah sama-sama mengangkat belalai. Yang satu menuduh lawannya perampok, yang satu lagi menjerit pencuri. Riuh rendah hutan dibuatnya. Kancil yang mendengar pun hampir bertepuk tangan, disangkanya ada keadilan. Rupanya yang dipertontonkan hanyalah adu kuat, adu kuasa, adu siapa paling besar badannya.
Datang pula seekor buaya. Katanya hendak melerai. Air mata pun menitik setitik dua. Tetapi orang tua Melayu di kampung kami pernah mengingatkan, “Air mata buaya jangan cepat dipercayai.”
Kan betul: baru sekejab melerai, air sungai makin keruh. Gajah tetap bersilat, buaya pula sibuk berenang mengambil untung.
Yang parahnya, kedua-dua gajah sama-sama berteriak, “Maling… maling…!” Padahal lumbung padi kancil sudah lama kosong, gudang semut sudah lama dikorek. Yang hilang bukan belalai gajah, tetapi rezeki makhluk kecil yang setiap hari mencari sesuap makan.
Tunjuk ajar Melayu berkata: “Kalau hendak menjadi besar, besarkan budi. Kalau hendak menjadi tinggi, tinggikan pekerti.”
Malangnya, kini yang dibesarkan cuma suara, yang ditinggikan cuma ego. Lagak bukan main hingga marwah tinggal cerita, amanah entah ke mana lesap.
Negeri ini akhirnya menjadi gelanggang sandiwara. Gajah bergaduh, buaya tersenyum, sementara kancil dan semut sibuk menghitung sisa nasi untuk esok hari.
Selagi hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, selagi kebenaran boleh dibeli dan salah boleh disolek jadi montel, selagi itu pula pergaduhan gajah tidak akan pernah membawa damai. Yang menang mungkin gajah, tetapi yang kalah tetap rakyat kecil.
Maka benarlah pesan orang tua Melayu: apabila kuasa kehilangan malu, yang paling dahulu menangis bukanlah mereka yang bertengkar, melainkan mereka yang tidak pernah diajak berkelahi.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








