Menu

Mode Gelap
Anggota DPRD Kota Batam Mulai Laksanakan Reses Pansus DPRD Batam Kebut Pembahasan Ranperda LAM, Targetkan Rampung Tepat Waktu Cuaca Kepri Kamis 2 April 2026: Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Ratusan JCH Siak Berangkat, Kisah Penantian 6 Tahun Muinah Jadi Haru di Pelepasan Pemprov Riau Apresiasi Kinerja BRK Syariah di Usia ke-60, Tekankan Transformasi Digital dan Penguatan Tata Kelola Rekrutmen Polri 2026 Di Mulai Polres Meranti Pastikan Proses Tranparan dan Akuntabel

Ragam

Kapten TNI (Pur) Saidina Ali (1925- 1992): Namanya Diabadikan Sebagai Nama Gelanggang Pacu Jalur di Lubuk Jambi

badge-check


					Kapten TNI (Pur) Saidina Ali Perbesar

Kapten TNI (Pur) Saidina Ali

SELAIN Tepian Narosa di Taluk Kuantan dan Lobuak Sobae di Baserah gelanggang pacu jalur yang melegenda itu di Kuantan Singingi adalah Tepian “Saidina Ali” di Lubuk Jambi.

Pertanyaan adalah siapa sebenarnya Saidina Ali bin Ali Ahmad sehingga namanya diabadikan sebagai nama gelanggang pacu jalur? Inilah yang menarik untuk ditelaah. Ada apa di balik nama besar itu.

Artinya bukan sekedar nama, tapi nama itu punya sejarah panjang. Patut diteladani karena aksi heroik dan perjuangannya dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

Saidina Ali lahir di Desa Banjar Guntung, Kecamatan Kuantan Mudik, Kuantan Singingi, Riau pada 5 Agustus 1925. Masa kecilnya dilalui pada mulai dari penjajahan Belanda, pendudukan Jepang hingga Indonesia merdeka.

Saidina Ali menjalani Pendidikan Sekolah Desa (Volkschool) di Lubuk Jambi dan Vervolgschool di Taluk Kuantan. Dia juga mengaji di Surau Lokuak – Kuantan Mudik. Surau bersejarah ini merupakan “kawah candra dimuka” yang melahirkan banyak pejuang kemerdekaan dari Lubuk Jambi. Entah bagaimana nasib surau itu sekarang.

Pada 1940 ketika lulus dari Sekolah Guru Desa (CVO) di Rengat, Saidina Ali menolak menjadi guru. Alasannya sederhana. Dia ingin menjadi tentara bukan guru sebagaimana keinginan orang tuanya. Karena itu dia lebih memilih mengikuti kursus bahasa Jepang daripada menjadi guru.

Selesai kursus, Saidina Ali bekerja di Riau Syu Sangyo Bu milik Jepang. Kantor ini merupakan kantor pengadaan perbekalan bagi tentara Jepang. Kemudian Saidina Ali mengikuti pendidikan sipil militer di “Sumatera Koa Kunrejo” di Batu Sangkar. Di sini pula dia menemukan dambaan hati bernama Rosna anak dari Abdul Mutholib. Kemudian gadis kelahiran 18 Mei 1926 itu dinikahinya pada 6 Agustus 1944.

Usai pendidikan milter Saidina Ali bergabung dengan tentara sukarela pribumi (Giyungun). Organisasi ini dibentuk untuk membantu Jepang melawan Sekutu dengan memanfaatkan tenaga pemuda Indonesia. Meskipun dibentuk untuk kepentingan Jepang, Giyugun juga menjadi sarana pelatihan militer bagi pemuda Indonesia yang nantinya menjadi inti dalam perjuangan kemerdekaan setelah Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Saidina Ali dan Giyugun ikut terlibat dalam melucuti senjata bala tentara Jepang. Dan, senjata hasil lucutan itu punya peran penting bagi pejuang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah merdeka.

Pada masa kemerdekaan bersama pejuang Kuantan Singingi lainnya Saidina Ali ikut terlibat dalam perjuangan melawan Belanda pada Agresi Belanda I dan II di Kuatan Singingi. Dia bergabung dengan Jamal Lako Sutan, Umar Amir Husin, Umar Usman, Sarmin Abrus, Ibad Amin, Ma’rifat Mardjani, Hasan Arifin, Syafii Yatimi, Thoha Hanafi, Intan Husin, Radja Roesli, Samad Thaha, Radja Intan Djuddin dalam mengusir Belanda.

Dari Kuatan Singingi pada 1949 Saidina Ali diangkat menjadi Danyon III Siak Sri Indrapura dengan pangkat Kapten. Bataliyon ini bertugas membentengi Riau dari pemerintahan Belanda dari arah timur. Bersamanya ikut pula bergabung putra Kuantan Singingi asal Desa Teluk Bayur, Cerenti Abas Jamil.

Pada 3 Januari 1949 saat perjalanan dinas Saidina Ali dan prajurit lainnya pernah diserang melalui udara oleh dua pesawat mustang Belanda. Mobil yang mereka ditumpangi ditembak dari jarak 100 meter dan terbakar di tempat kejadian. Untung Saidina Ali dan kawan-kawan berhasil selamat dari aksi tersebut.

Kemudian Saidina Ali pernah melakukan penyeludupan senjata dari Singapura ke Riau. Senjata itu digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan RI.

Sebagai prajurit Saidina Ali berjuang mulai dari prajurit biasa lalu menjadi Komandan Kompi dan Komandan Batalyon di kesatuannya. Dia pernah bekerja di Riau Syu Sangyo Bu yang merupakan kantor pengadaan perbelakan. Kemudian Danyon III Res IV/IX dan Kοmandan Pangkalan Gerilya Kuantan Singingi.

Setelah tugasnya dalam angkatan bersenjata selesai, Saidina Ali diangkat menjadi Kepala Jawatan Sosial di Indragiri. Di kantor ini pula tugasnya berakhir hingga pensiun. Dan, sebagai pejuang dia juga mendapatkan beberapa penghargaan.

Penghargaan itu di antaranya dari Menteri Pertahanan Keamanan RI. Yaitu Bintang Gerilya, Setya Lencana Peristiwa Kemerdekaan ke I dan II, dan Setya Lencana Penegak, Dia juga tergabung sebagai anggota Dir Gab. DPD LVRI Provinsi Riau.

Menetap di Jakarta

SETELAH pensiun dengan pangkat terakhir Kapten, Saidina Ali menetap di Jakarta Pusat. Dia memboyong istri dan tujuh anaknya tinggal Jalan Pejompongan Baru I No. 31, Jakarta.

Ketujuh anak Saidina Ali adalah Rosneli lahir pada 30 Agustus 1946, Asmoerni Saidina Ali (19 Desember 1948), Ir. Indra K (17 September 1951), Nila Dewi (12 Juni 1952), Mustika Wati (9 Oktober 1953), Lina Rita (6 April 1955), dan Dian Anggraini (5 Januari 1959).

Di Jakarta pula Saidina Ali menggeluti bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina. Dia dikenal sebagai “juragan BBM” karena memiliki berbagai unit usaha BBM. Pertamina lalu menunjuknya sebagai Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi Migas (Hiswana) Provinsi Riau periode 1970-1985.

Hiswana Migas adalah organisasi kewirausahaan yang menjadi wadah bagi pengusaha disektor energi minyak dan gas bumi. Organisasi yang berdiri pada 3 September 1979 merupakan mitra resmi Pertamina yang beranggotakan berbagai usaha ritel migas seperti SPBU, agen LPG, transporter, pelumas, dan Petrokimia.

Saidina Ali wafat pada 26 April 1992. Berkat bintang-bintang jasa, dia dimakamkan di di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kendati jasatnya sudah dikalang tanahnya, namun namanya masih dikenang dan diabadikan. Gelanggang Saidina Ali yang jadi nama tepian pacu jalur di Lubuk Jambi adalah bukti nyata orang tidak melupakannya.

Penulis: Sahabat Jang Itam 11-09-2025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing