Menu

Mode Gelap
Peredaran Narkoba di Desa Bumbung Digagalkan, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti ASEAN Menuju Usia 59 Tahun Spider Jujitsu Batam Raih Juara Umum III di Jakarta Jiu Jitsu Open 2026, Bawa Pulang 13 Medali Bersulang Geleng Bhabinkamtibmas Mentayan Tanam Cabe Bersama Masyarakat Sinergi Polri dan Petani Berbuah Manis, Jagung Hibrida Panen Melimpah di Batang Duku

Pekanbaru

Pasar Murah di Tengah Pedasnya Harga Cabe di Riau

badge-check


					Operasi pasar murah Perbesar

Operasi pasar murah

RiauKepri.com, PEKANBARU– Ketika harga cabe merah melambung hingga tembus Rp110 ribu per kilogram di pasar tradisional, Pemerintah Provinsi Riau justru menawarkan harga jauh lebih bersahabat, hanya Rp65 ribu per kilogram. Itu terjadi dalam gelaran operasi pasar murah, Kamis, 9 Oktober 2025, yang tersebar di lima titik, empat di Pekanbaru dan satu di Kabupaten Kampar.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Gubernur Riau, Abdul Wahid, dalam mengendalikan inflasi yang disebabkan oleh melonjaknya harga cabe. “Inflasi itu tidak bisa dihindari, tapi harus tetap berada dalam ambang yang wajar,” ujar Gubri di sela kunjungannya di salah satu titik pasar murah, di halaman Diniyah Putri, Jalan KH Ahmad Dahlan, Pekanbaru.

Kelangkaan cabe merah, menurut Gubri, terjadi hampir di seluruh wilayah Sumatera, bukan hanya di Riau. Karena itu, dia tidak hanya menggelar operasi pasar, tetapi juga mengajak masyarakat, termasuk kalangan sekolah, untuk menanam cabe sendiri.

“Kami membagikan bibit cabe ke sekolah-sekolah. Ini bukan hanya soal ketersediaan pangan, tapi juga membentuk budaya mandiri,” kata Gubri. Ia menyebut program ini sebagai langkah jangka panjang yang diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pasar terhadap pasokan luar daerah.

Dua Minggu Sekali, Bisa?

Di lapangan, antusiasme warga terlihat jelas. Seperti di Lapangan Belimbing, Kecamatan Marpoyan Damai, di mana seorang warga, Endang, yang mengelola warteg, mengaku sangat terbantu. “Di pasar saya beli Rp110 ribu. Di sini cuma Rp65 ribu. Tolong kegiatan ini sering-sering ya, Pak Gubernur,” ujarnya.

Warga lain, Wati, yang kebetulan lewat dan menemukan pasar murah secara tak sengaja, juga menyampaikan harapan serupa. “Kalau bisa dua minggu sekali. Selain cabai, sekalian jual bawang, tomat, dan kebutuhan pokok lainnya,” katanya.

Tak hanya cabe merah, operasi pasar juga menyediakan beras SPHP seharga Rp60 ribu per 5 kilogram dan Minyakita Rp15.500 per liter. Di lima titik itu, Pemprov Riau menggelontorkan 1,1 ton cabai merah, terdiri dari 800 kg di Pekanbaru dan 300 kg di Kampar. Lokasi-lokasi lainnya antara lain halaman Masjid Istiqomah Rumbai, lapangan bola Marpoyan, kantor Industri Pangan Tenayan Raya, dan Pasar Inpres Bangkinang di Kampar.

Kegiatan tersebut turut dipantau oleh sejumlah OPD seperti Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Satgas Pangan dari Polda Riau.

Inflasi dan Ketahanan Lokal

Operasi pasar ini hanya satu bagian dari upaya lebih luas untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Dalam situasi cuaca ekstrem dan terganggunya distribusi pasokan, Riau tampak mulai bergerak ke arah pemberdayaan lokal. Bila program tanam cabai berjalan efektif, bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun ke depan, krisis harga cabai bisa lebih terkendali, dari ladang sendiri.

“Kami tidak bisa hanya mengandalkan pasar. Harus ada gerakan dari masyarakat. Kita mulai dari cabe,” kata Wahid. (RK1/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bersulang Geleng

31 Mei 2026 - 09:59 WIB

Ganja Kakus

30 Mei 2026 - 07:29 WIB

BRK Syariah Dorong Budaya Menabung Kurban untuk Mudahkan Pegawai Beribadah Setiap Tahun

28 Mei 2026 - 19:08 WIB

Pererat Kebersamaan, PT Arara Abadi dan Mitra APP Group Kembali Salurkan Hewan Qurban

28 Mei 2026 - 13:26 WIB

Meriahkan HUT ke-63 Taspen, Tim Padel BRK Syariah Raih Juara di Taspen Cup 2026

28 Mei 2026 - 11:23 WIB

Trending di Pekanbaru