Menu

Mode Gelap
Spider Jujitsu Batam Raih Juara Umum III di Jakarta Jiu Jitsu Open 2026, Bawa Pulang 13 Medali Bersulang Geleng Bhabinkamtibmas Mentayan Tanam Cabe Bersama Masyarakat Sinergi Polri dan Petani Berbuah Manis, Jagung Hibrida Panen Melimpah di Batang Duku Prakiraan Cuaca Kepri Ahad, 31 Mei 2026: Tanjungpinang hingga Batam Berpotensi Hujan Ringan, Anambas Waspada Petir Bhabinkamtibmas Sosialisasi Ketahan Pangan ke Warga Muntai Barat

Minda

Bersulang Geleng

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

ALAMAK. Orang sekampung geleng-geleng kepala, Wak. Bukan sebab harga lade naik, bukan pula sebab sapi kurban lari mengamuk, kali ini yang membuat orang kampung termangu-mangu: ketika melihat pemimpin negeri bersulang di jamuan kenegaraan nun jauh di seberang lautan.

“Eeh, Wak, kalau pergi ke negeri orang, adat siapa yang dipakai?” tanya cucu Datuk sambil menyeduh kopi.

“Adat tetap adat, Nak. Kalau ikan patin masuk laut asin, dia tak bertukar jadi ikan hiu,” jawab Wak sambil mengibas nyamuk.

Dalam tunjuk ajar Melayu disebutkan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tapi bukan berarti segala yang ada di bawah langit itu mesti ditelan bulat-bulat. Kalau sampai begitu, nampak durian jatuh pun ditelan dengan kulitnya sekalian.

Orang Melayu dari dahulu kala diajar menjaga marwah. Kalau masuk kenduri orang, hormati tuan rumah. Kalau masuk surau, hormati imam. Kalau masuk hutan, hormati pantang larang. Tapi kalau berhadapan dengan perkara yang bertentangan dengan keyakinan, orang tua-tua dulu sudah berpesan, “Biar patah galah di tangan, jangan patah pegangan di hati.”

Maka ramailah orang kampung membuka kitab, membuka handphone, lalu membaca sejarah toast atau bersulang itu. Rupanya panjang pula ceritanya. Bermula dari persembahan kepada dewa-dewa, kemudian berkembang menjadi budaya minum anggur, lalu menjadi adat pesta orang Barat.

Maka teringatlah orang kampung kepada satu pesan yang sering disebut para ustadz. Dalam urusan khamar, bukan sekadar yang meminumnya mendapat teguran agama. Yang menuang, yang menjual, yang membeli, yang mengantar, yang meminta dibelikan, bahkan yang hidup dari hasil berjualan itupun disebut dalam peringatan yang sama.

Kalau hendak merayakan sesuatu, orang Melayu punya cara yang lebih elok. Dapat cucu, buat kenduri doa selamat. Naik rumah baru, buat tepung tawar. Berangkat haji, buat syukuran. Balik merantau, disambut kompang. Tak perlu mengangkat gelas tinggi-tinggi sampai urat leher tegang macam hendak memanggil kapal di Selat Melaka. Sebab bagi orang Melayu yang berpegang pada adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, kemuliaan bukan terletak pada apa yang ada di dalam gelas, melainkan apa yang ada di dalam hati.

Gelas yang berkilat belum tentu isinya membawa berkat. Kadang-kadang secangkir kopi kampung di beranda rumah lebih banyak hikmahnya daripada segelas minuman mahal di meja istana.

Maka pesan orang tua-tua, kalau hendak mengangkat sesuatu, angkatlah martabat bangsa. Kalau hendak meninggikan sesuatu, tinggikanlah ilmu dan akhlak. Dan kalau hendak bersulang juga, bersulanglah dengan segelas air sirih pinang tapi jangan diketukkan ke gelas orang lain. Nanti pecah gelas, tuan rumah pula yang pening.

Dalam adat Melayu, seorang pemimpin bukan sekadar membawa nama dirinya sendiri. Ke mana kaki melangkah, di situ nama negeri ikut tersandang. Ke mana tangan melambai, di situ marwah kampung ikut terbawa. Sebab itulah orang tua-tua dahulu berpesan, “Patah tumbuh hilang berganti, adat jangan sekali-kali ditinggalkan.”

Orang yang duduk di warung kopi pun tahu, kalau anak bujang pergi merantau ke negeri orang, emak di rumah selalu berpesan, “Jangan buat malu kampung.” Apalagi kalau yang pergi itu seorang pemimpin negara. Dia bukan membawa satu keluarga, melainkan membawa nama ratusan juta rakyat. Setiap gerak-geriknya diperhatikan, setiap sikapnya menjadi cermin bagaimana bangsanya dinilai orang.

Dalam tunjuk ajar Melayu disebutkan, pemimpin itu ibarat pohon besar di tengah kampung. Kalau batangnya lurus, tempat orang berteduh. Kalau batangnya condong, kambing pun ikut tersesat jalan. Sebab itu tingkah laku seorang pemimpin sering dijadikan contoh, baik oleh kawan maupun lawan.

Orang Melayu juga mengenal petuah, “Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang harimau mengaung.” Tetapi petuah itu bukan bermakna menanggalkan jati diri. Maksudnya adalah pandai menyesuaikan diri tanpa kehilangan pegangan. Kalau pergi ke negeri empat musim, pakailah jaket. Jangan pula kerana semua orang makan dengan garpu, lalu lupa cara menyuap nasi sendiri.

Maka yang membuat orang kampung heran bukan kerana acara jamuan itu berlangsung di luar negeri. Yang membuat heran ialah apabila ada perkara yang selama ini dijaga dan diyakini oleh masyarakat sendiri, tiba-tiba terasa ringan dilakukan hanya kerana berada di tanah orang. Seolah-olah adat dan keyakinan itu seperti songket yang dipakai ketika di rumah, lalu dilipat dan disimpan dalam koper ketika pesawat mendarat di negeri lain.

Padahal menurut pandangan orang Melayu, adat yang baik bukan pakaian sewa. Ia bukan baju pesta yang dipakai ketika ramai orang melihat lalu ditanggalkan ketika lampu dipadamkan. Adat yang sejati melekat pada diri, baik ketika duduk di balai adat, berada di pasar, mahupun ketika menghadiri jamuan para pembesar dunia.

Datuk-datuk dahulu jika berlayar berbulan-bulan ke Singapura, Malaka, Pulau Pinang, bahkan sampai ke tanah Arab, mereka tetap dikenali sebagai orang Melayu kerana akhlaknya, santunnya, dan pegangan hidupnya. Bukan kerana tanjak di kepala semata-mata, tetapi kerana nilai yang dibawa dalam dada. Sebab itu orang kampung berpesan, pemimpin boleh saja terbang ribuan batu melintasi benua. Boleh duduk semeja dengan raja-raja dan presiden dunia. Tetapi jangan sampai semakin jauh perjalanan, semakin tertinggal pula adat dan budaya yang menjadi akar dirinya. Kerana pohon yang tercerabut dari akar mungkin masih kelihatan tegak beberapa ketika, tetapi akhirnya akan rebah juga diterpa angin.

Orang Melayu tidak menilai pemimpin dari tingginya gelas yang diangkat, tetapi dari tingginya marwah yang dijaga. Tidak dari hebatnya jamuan yang dihadiri, tetapi dari teguhnya prinsip yang dibawa pulang kembali ke negeri sendiri.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pembisik Negeri

30 Mei 2026 - 08:11 WIB

Ganja Kakus

30 Mei 2026 - 07:29 WIB

Dunia Seni Riau Berduka, Dua Senimannya Meninggal Dunia

28 Mei 2026 - 21:07 WIB

BRK Syariah Dorong Budaya Menabung Kurban untuk Mudahkan Pegawai Beribadah Setiap Tahun

28 Mei 2026 - 19:08 WIB

Pererat Kebersamaan, PT Arara Abadi dan Mitra APP Group Kembali Salurkan Hewan Qurban

28 Mei 2026 - 13:26 WIB

Trending di Pekanbaru