Menu

Mode Gelap
Ketua PWI Tanjungpinang Dorong RSUD RAT Perkuat Keterbukaan Informasi Layanan Kesehatan Sekcam, Lurah, Bersama Warga dan RT 1, 2 dan RW 3, 4, Goro Bersihkan Lokasi TPQ Al Muttaqin Karang Taruna Kota Batam Bersama KPA dan BPJS Kesehatan Gelar Edukasi Bahaya HIV/AIDS, Sosialisasikan BPJS Kesehatan Tumbuhkan Jiwa Patriotisme dan Cinta Tanah Air, Jajaran Polsek Kundur Kibarkan Bendera Merah Putih di Rumah Warga dan Pengendara Bermotor Ambulans untuk IKRAB Duri, Bukti Komitmen CSR BRK Syariah bagi Kesehatan dan Ekonomi Masyarakat Bupati Afni Hadiri Pelantikan IDI, TPP Dokter Siak Masih yang Tertinggi

Minda

Sabut Batu

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, orang Melayu dulu bukan tak pandai sekolah tinggi. Mereka cuma tak banyak bunyi. Bila nak mengajar, mereka tak pakai mikrofon, cukup pakai sabut kelapa dan sebiji batu. Yang satu terapung, yang satu tenggelam. Ilmu ini, satu kampung dapat pelajaran.

Sekarang, baru ada satu peristiwa hukum di Tanah Melayu, Riau, media sosial pun berbunyi macam ayam bertelor heboh sekampung. Yang belum baca putusan, sudah jadi hakim. Yang tak tahu duduk perkara, sudah jadi ahli segala ilmu. Yang paling hebat, ada yang baru bangun tidur, terus mengumumkan dirinya pakar hukum, pakar politik, pakar adat, pakar akhirat. Tinggal pakar mengupas kelapa saja yang belum ada.

Padahal orang tua-tua Melayu sudah lama berpesan, “kalau sabut, biarlah jadi sabut. Kalau batu, jangan mengaku sabut.”

Ilmu sabut itu bedelau, Wak. Dia diinjak tak marah, dihanyut tak hilang, ditenggelamkan pun ada masanya timbul juga. Gelombang datang bertubi-tubi, sabut cuma bergolek sambil ketawa kecil. Sebab dia tahu, air boleh menutup, tapi tak selamanya dapat menyembunyikan.

Yang lucu, ramai pula memilih ilmu batu. Batu ini keras, sombong pula tu. Dilempar ke sungai, terus buat keputusan sendiri: “aku nak tenggelam.” Tak perlu musuh, tak perlu pemberat, dia menyelam dengan penuh keyakinan. Lepas itu dari dasar sungai pula dia menyalahkan arus.

Begitulah perangai kita sekarang. Bila putusan hukum tak sesuai dengan kehendak, terus semua orang salah. Penegak hukum dihujat, aparat difitnah, tetangga diblokir, saudara di-unfriend. Seolah-olah Riau ini diwariskan hanya untuk satu pendapat saja.

Aduhai, Wak. Negeri ini luas. Hutan ada, sungai ada, minyak ada, sawit ada, laut ada. Yang tak ada cuma kesabaran netizen.

Bukankah tujuan kita sama? Siapa pun pemimpinnya, kita mahu Riau maju, masyarakat sejahtera, anak cucu dapat hidup elok. Tapi kadang-kadang kita ini macam orang berebut payung ketika hujan sudah berhenti. Penat bertengkar, baju tetap basah.

Orang Melayu tak diajar memuja manusia. Orang Melayu diajar memuliakan marwah. Adat berkata, “menang jangan memalukan, kalah jangan membinasakan.”

Kalau ada proses hukum, hormati prosesnya. Kalau ada bukti, biarkan bukti berbicara. Jangan kerana marah, lidah jadi lebih laju daripada akal. Yang paling kasihan ialah sabut, dia tak minta jadi simbol kebijaksanaan, tiba-tiba dijadikan bahan kuliah politik.

Batu pun sama. Dia cuma duduk diam di tepi sungai, tahu-tahu namanya dipakai untuk menyindir orang yang keras kepala.

Sebenarnya, Wak, yang perlu kita pelihara bukan ego, tetapi persaudaraan. Peristiwa hukum datang dan pergi. Pemimpin datang dan berganti. Tapi kalau sesama anak Melayu sudah saling memutus silaturahmi, itu kerugian yang tak boleh dibayar dengan APBD, DBH, atau bonus akhir tahun, gaji 13.

Tunjuk ajar Melayu berkata, “air yang keruh boleh jernih, hati yang keruh payah dicuci.” Sebab itu, jangan cepat menghukum, jangan ringan memfitnah, jangan seronok melihat orang jatuh. Hari ini orang lain diuji, esok lusa entah giliran siapa.
Jadi, kalau nak hidup tenang, belajarlah daripada sabut. Ringan hati, ringan mulut daripada mencaci, dan ringan langkah untuk berdamai.

Jangan jadi batu yang bangga tenggelam, kemudian menyalahkan sungai kerana terlalu dalam. Sebab di Tanah Melayu ini, yang paling tinggi bukan suara, tetapi adab. Yang paling mahal bukan kemenangan, tetapi marwah. Dan yang paling lama bertahan bukan kebencian, tetapi persaudaraan.

Kalau sabut boleh timbul, mudah-mudahan akal kita pun begitu. Jangan sampai batu di sungai lebih pandai daripada manusia di darat.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bupati Afni Hadiri Pelantikan IDI, TPP Dokter Siak Masih yang Tertinggi

2 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Belah Rumah

2 Agustus 2026 - 05:47 WIB

Peduli Warga Pesisir Rohil, Ditpolairud Polda Riau Salurkan Bantuan Beras dan Bibit Pohon Lewat Program JALUR

31 Juli 2026 - 21:25 WIB

Siswa SIP Angkatan 56 Beri Bantuan Bahan Pokok ke Panti Asuhan Darul Ilmi Pekanbaru

31 Juli 2026 - 13:32 WIB

Seharusnya Seluruh Jalan Menuju Allah

31 Juli 2026 - 07:52 WIB

Trending di Minda