DI kampung kami, Wak, orang tua-tua tak perlu sekolah politik untuk mengenal pemimpin, cukup dengar cakapnya di kedai kopi sambil makan lempeng sagu. Dari situ terlihat, mana pemimpin tua bertuah, mana yang muda berakal, dan mana pula yang belum tua tetapi sudah nyanyuk.
Sebab nyanyuk politik ternyata tak mengenal uban, umur, pangkat, bahkan gelar, yang diserangnya bukan kepala, tetapi ingatan terhadap amanah dan kalau bercakap main longgok saja.
Ada orang sudah tua, rambut memutih, langkah perlahan, tetapi masih ingat nama rakyat, kampung terpencil, jalan rusak dan janji yang pernah diucapkannya.
Ada pula yang masih muda, rambut masih bergaya, media sosial penuh kegiatan, tetapi baru sekejab duduk di kursi sudah lupa siapa yang dulu mengantarnya ke sana.
Sebelum menang, rakyat disebut saudara; setelah menang, rakyat berubah menjadi angka, statistik, dan “akan kita tindaklanjuti.”
Dulu katanya rakyat prioritas, budaya Melayu hendak dimuliakan, orang kecil hendak dibela, setelah berkuasa, jawabannya cuma satu: “Itu ada prosesnya.”
Ditagih janji, katanya kewenangan OPD, jalan berlubang, kewenangan pemerintah lain, harga naik, mekanisme pasar, rakyat protes, dinamika demokrasi. Lengkap lah sudah kamus lupa. Hebatnya, Wak, semua masalah punya istilah, semua persoalan punya alasan, tetapi satu benda yang susah dicari: penyelesaian.
Ada pula pemimpin yang lupa rakyat, tetapi tidak pernah lupa kamera, asal lensa menyala, senyum mengembang, sekop dipegang, cangkul diangkat, komitmen pun bermunculan.
Padahal adat Melayu mengajar, tanjak boleh tinggi di kepala, tetapi budi jangan rendah. Pakaian boleh elok, tetapi perangai mesti lebih elok.
Pemimpin bukan ditinggikan supaya memandang rakyat dari atas, tetapi didahulukan selangkah supaya berani berdiri paling depan ketika rakyat susah.
Maka jangan ukur nyanyuk dari umur, ukur dari apa yang masih diingat setelah kekuasaan berada dalam genggaman. Kalau masih ingat rakyat miskin, petani, nelayan, guru, buruh, hutan, sungai dan kampung yang jauh, berarti ingatannya masih sehat.
Tetapi kalau yang diingat cuma proyek untuk difoto, acara untuk diberitakan, pujian untuk didengar dan kursi untuk dipertahankan, itu bukan lagi sekadar lupa, Wak.
Itu nyanyuk kekuasaan, penyakit ketika seseorang terlalu tinggi duduknya sampai lupa bahwa kursi itu dipinjam dari rakyat, bukan diwariskan oleh nenek moyang.
Maka takutlah menjadi pemimpin nyanyuk sebelum waktunya, sebab rakyat mungkin diam, tetapi ingatan rakyat panjang, tanjak boleh jatuh, jabatan boleh habis, tetapi marwah dan sejarah tak mudah dilupakan.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








