RiauKepri.com, PEKANBARU– Di balik tembok lembaga pemasyarakatan, ada ribuan warga binaan yang sedang menunggu satu kesempatan: kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Harapan itu mengemuka saat Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Riau Rudy F.S bersama rombongan bersilaturahmi ke Balai Adat Melayu Riau (LAMR), Jalan Diponegoro Nomor 39 Pekanbaru, Kamis (3/9/2026).
Rudy menyebut, saat ini terdapat sekitar 16.700 warga binaan yang berada di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di Riau. Jumlah tersebut bahkan telah jauh melampaui kapasitas yang tersedia, lebih dari 50 persen, dengan kasus narkoba menjadi salah satu perkara yang dominan.
Menurut Rudy, persoalan pemasyarakatan tidak semata-mata soal menjalani hukuman. Lebih dari itu, ada tugas untuk memulihkan kesadaran warga binaan, menyadarkan mereka atas kesalahan yang dilakukan, membekali keterampilan, serta mempersiapkan mereka agar dapat kembali diterima masyarakat.
“Fungsi kami memulihkan dan menyadarkan mereka apa kesalahannya, dengan kerohanian, sehingga punya skill dan bisa kembali ke masyarakat,” kata Rudy.
Karena itu, Rudy berharap dukungan para datuk dan tokoh adat Melayu dapat menjadi bagian dari proses pembinaan tersebut. Kehadiran tokoh masyarakat di dalam lapas, menurutnya, kerap memberikan suasana berbeda bagi warga binaan.
“Rata-rata warga binaan merasa nyaman ketika para tokoh datang ke lapas memberikan motivasi kepada mereka. Kita sudah sempat membawa UAS dan warga binaan benar-benar merasa nyaman,” ujarnya.
Rudy juga berharap LAMR tidak hanya hadir ketika warga binaan menjalani masa hukuman. Dukungan diharapkan berlanjut ketika mereka kembali ke tengah masyarakat, sehingga proses pembinaan tidak berhenti setelah pintu lapas terbuka.
“Kiranya LAMR juga dapat memantau warga binaan setelah mereka menjalani hukum, ketika berada di tengah masyarakat, sehingga mereka tidak mengulangi kembali melakukan hal yang sama,” ucap Rudy.
Besarnya pengaruh tokoh adat terhadap warga binaan juga disampaikan salah seorang anggota rombongan. Ia menceritakan pengalamannya ketika bertugas di Nusa Tenggara Timur. Saat itu, ada warga binaan melarikan diri dari lapas. Namun setelah dibujuk oleh kepala suku, warga binaan tersebut akhirnya bersedia kembali.
“Begitu besarnya pengaruh tokoh adat terhadap warga binaan. Karena itu kerja sama dengan LAMR ini sangat diharapkan,” katanya.
Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menegaskan LAMR merupakan rumah besar bersama yang terbuka bagi siapa pun yang ingin bersilaturahmi dan berkontribusi bagi Riau.
Menurutnya, silaturahmi tersebut bukan sekadar pertemuan antarlembaga, tetapi dapat menjadi ruang membangun komunikasi, persaudaraan dan kebersamaan.
Datuk Seri Taufik berharap hubungan LAMR dan Kanwil Ditjenpas Riau dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Datuk Aspandiar menilai jika kerja sama tersebut benar-benar terwujud, hal itu akan menjadi catatan penting bagi LAMR dan Kanwil Ditjenpas Riau.
“Jika kerja sama LAMR dengan Ditjenpas Riau terjalin, jelas ini catatan sejarah terbaik. Karena ini pertama sekali terjadi di masa Kanwil Ditjenpas Riau dipimpin Pak Rudy,” katanya.
Ketua Umum MKA LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Marjohan Yusuf turut memberikan dukungan. Ia menilai kondisi warga binaan yang jauh melebihi kapasitas menunjukkan beratnya tugas yang diemban jajaran pemasyarakatan.
“Jika melihat jumlah warga binaan yang over kapasitas dibandingkan dengan jumlah petugas, memang jauh beda hingga 200 persen. Kiranya memang perlu dukungan terhadap Kanwil Ditjenpas Riau,” ujarnya.
Datuk Seri Marjohan pun mendoakan jajaran Kanwil Ditjenpas Riau dapat terus menjalankan tugas pembinaan dengan sebaik-baiknya. “Kami mendukung dan mendoakan Kanwil Ditjenpas Riau untuk terus berbuat yang terbaik untuk Riau. Kita sadari betul bahwa kerja bapak berat,” katanya.
LAMR sendiri merupakan wadah masyarakat Melayu Riau yang memiliki peran dalam menjaga, mengembangkan dan meneruskan adat serta nilai-nilai budaya Melayu. Dalam konteks pembinaan warga binaan, nilai adat dan keteladanan tokoh masyarakat diharapkan dapat menjadi kekuatan tambahan untuk menumbuhkan kesadaran dan membangun kembali kepercayaan diri mereka sebelum kembali ke masyarakat. (RK1)











